06 September 2007

Kendalikan Emosi Anak dengan Kasih Sayang

MELIHAT anak menangis meraung-raung atau bergulingan di lantai saat meminta sesuatu, pasti akan membuat orangtuanya kesal atau bahkan menimbulkan emosi. Apalagi, jika tingkah anak ini dilakukan di tempat ramai seperti mal, restoran atau toko mainan anak-anak.
Lantas, apa sebenarnya yang menjadi pendorong munculnya emosi yang meledak pada anak- anak? Apakah memang setiap anak akan melakukan hal tersebut saat ingin mengutarakan keinginannya pada orangtuanya?
"Sebenarnya tidak semua anak akan menumpahkan emosi jika keinginannya tidak dipenuhi oleh orangtua atau orang terdekatnya. Sebab, karakter setiap anak pasti berbeda-beda dan memiliki cara yang berbeda pula untuk menyampaikan keinginannya," kata Mardien Suprapti, Psikolog Klinik Batam Medical Centre (BMC).
Dilihat dari penyebabnya, ledakan emosi yang muncul bisa disebabkan oleh banyak faktor. Baik faktor genetik maupun faktor pola asuh orangtua serta pengaruh lingkungan. Untuk faktor genetik, biasanya karena anak yang bersangkutan memang memiliki kepribadian yang bisa menjadi pemicu emosi yang meledak-ledak saat marah.

Sementara dilihat dari sistem pola asuh orangtua, munculnya ledakan emosi tersebut biasanya karena anak yang bersangkutan kurang kasih sayang serta perhatian. Dan tumpahan emosi yang ditunjukkan saat menginginkan sesuatu inilah yang dijadikan senjata anak untuk menarik perhatian orangtuanya.
Penyebab lain yang bisa menjadi pemicu ledakan emosi pada anak adalah adanya endapan kekecewaan dalam jangka waktu lama serta bentuk frustasi anak atas sesuatu hal. Tumpukan tersebut pada akhirnya akan mengendap atau bahkan mengkristal sehingga dapat membahayakan jika suatu saat emosi anak meledak.
"Timbunan emosi juga bisa dipicu oleh terhambatnya kebutuhan anak serta minimnya perhatian dari orangtua. Jika timbunan tersebut dibiarkan, anak akan mencari cara untuk mengaktualisasikan diri serta mengapresiasikan perasaannya. Salah satunya adalah dengan cara menarik perhatian orangtua melalui ledakan emosi dan rasa marah yang luar biasa," kata Mardien.
Dengan adanya aktualisasi diri tersebut, anak berharap bisa meluapkan "dendam" yang selama ini disimpannya. Jika cara ini berhasil dan orangtua memperhatikan mereka, maka anak akan merasa sangat puas. (ndy)

Jangan Ikut Marah
SETELAH mengetahui penyebab munculnya ledakan emosi pada anak, tentunya orangtua ingin mengetahui bagaimana cara menangani anak yang terlanjur memiliki karakter pemarah serta keras kepala.
"Saat mendapati anak sedang berguling-guling di lantai dan marah tak terkendali, sebaiknya orangtua belajar mengontrol emosinya dulu. Sebab, bila orangtua ikut marah atau bahkan menumpahkan kemarahannya pada anak, maka dikhawatirkan justru akan terjadi perang emosi," ungkap Mardien Suprapti, psikolog Klinik Batam Medical Centre.
Pengendalian emosi orangtua juga penting dilakukan agar orangtua bisa lebih tenang dalam menghadapi anak yang sedang emosi. Sebab, saat anak emosi, anak tersebut biasanya tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan. Tetapi justru terhadap apapun yang Anda lakukan akan direspon negatif oleh anak. Apalagi, sebenarnya anak tidak melihat apakah barang yang diinginkannya penting atau tidak. Alasan yang sebenarnya dimiliki anak adalah karena anak suka atau senang terhadap benda itu.
"Salah satu cara yang bisa diambil untuk mengatasi ledakan emosi anak adalah dengan mengalihkan perhatian anak terhadap hal lainnya. Misalnya dengan memberikan makanan, atau benda pengganti lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian anak tentunya yang sesuai dengan kebutuhan anak," katanya.
Jika anak tetap menolak diberikan pengganti dalam bentuk barang, orangtua bisa mengalihkan perhatian anak dengan memberikan kasih sayang, perhatian, serta perlakuan yang enak. Sebab, hal itulah yang sebenarnya dibutuhkan anak saat emosinya memuncak.
"Apabila orangtua melarang anak untuk mendapatkan sesuatu hal, sebaiknya orangtua juga memberikan penjelasan yang beralasan. Karena bila larangan diberikan tanpa alasan, anak akan merasa diperlakukan tidak adil oleh orangtuanya," terang Mardien.
Sementara, untuk kasus-kasus tertentu, misalnya permintaan yang tidak realistis, orangtua harus bisa mengatakan tidak. Meskipun anak tersebut nantinya akan menangis bahkan menangis di tempat umum. Sebab, jika orangtua tetap mengabulkan permintaan tersebut hanya karena anak menangis meraung-raung, ke depannya anak akan menjadikan hal tersebut sebagai senjata.
Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Katakan bahwa dia dibawa ke tempat tersebut karena tindakannya yang membahayakan.
Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya. (ndy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda