04 Maret 2008

Menghadapi Suami Genit Suka Merayu Wanita

Foto: www.evanmarckatz.com
MENGHADAPI suami yang suka tebar pesona memang bukan perkara mudah. Sebab, sebagai seorang manusia biasa tentu saja memiliki perasaan cemburu saat memiliki 'saingan'.
Namun, munculnya sikap genit pada laki-laki sebenarnya dipengaruhi banyak faktor. Baik karena karakter dasar laki-laki itu sendiri atau kondisi psikologis tertentu akibat perubahan fisik atau biasa disebut puber kedua.
"Jika pasangan sedang gemar tebar pesona, ada baiknya kita segera membuka komunikasi positif untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. Yakni komunikasi tanpa emosi dengan menggambarkan perasaan dan ketidaknyamanan atas tindakan pasangan tersebut,"ungkap Evy Rakryani, Psikolog kota Batam.
Masalahnya, sesuai budaya timur yang kita anut, tak jarang membuat seorang istri merasa tidak enak saat ingin membuka komunikasi terkait perasaan tidak nyaman yang dialaminya. Selain itu, keharusan istri menghormati suami memunculkan anggapan bahwa istri harus tetap menurut pada suami apapun kondisinya.
Tapi, bila ketidaknyamanan itu dibiarkan mengendap dalam hati, bisa-bisa memunculkan dampak buruk untuk keluarga. Baik bagi si istri sendiri, pasangan serta anak. Sehingga, segala hal terkait hubungan suami istri yang memunculkan rasa tidak nyaman sebaiknya jangan disimpan.

"Agar tidak menimbulkan masalah baru, sebisa mungkin jangan mengungkapkan perasaan dengan penuh emosi serta kata-kata kasar. Cara yang paling tepat adalah menggambarkan perasaan yang sesungguhnya kita rasakan agar bisa dipahami pasangan,"katanya.
Gambaran perasaan tidak nyaman tersebut, diharapkan mampu menyadarkan serta menggugah hati pasangan bahwa sesungguhnya seorang istri juga berhak dihormati. Dan tentang gimana agar pesan bisa sampai secara proporsional, tentu saja penyampaiannya harus dilakukan dengan pikiran jernih serta tanpa emosi.
"Sebisa mungkin jangan memarahi pasangan di depan umum. Sehingga, bila ada kejadian tak mengenakkan seperti suami menggoda wanita lain di depan mata, ajak pasangan menjauh ke tempat sepi baru bicarakan dengan kepala dingin,"saran Evy. (*)


Jangan Tunggu Sampai Ada Cinta Baru

MEMASUKI usia 35 hingga 40 tahun, seorang laki-laki akan menghadapi perubahan fisik yang bisa berpengaruh pada kondisi psikologisnya. Sebut saja, munculnya keriput pada wajah, rambut mulai beruban, perut mulai membuncit serta kegemukan.
Perubahan fisik tersebut kerap memunculkan rasa khawatir bakal menghilangnya daya pikat terhadap lawan jenis. Dengan arti kata lain, pria tersebut akan merasa tak lagi menarik perhatian lawan jenisnya. Dan untuk membuktikan bahwa dia masih menarik, yang bisa dilakukan pria tersebut adalah berusaha memikat lawan jenis.
Upaya tersebut tak lain dan tak bukan merupakan ajang pembuktian bahwa perubahan fisik yang dialaminya itu tidak akan mengurangi daya pikat terhadap lawan jenis. Pandangan itulah yang membuat laki-laki kadang menjadi senang tebar pesona dan berharap mampu memikat lawan jenis.
"Saat istri mendapati suami sedang tebar pesona seiring perubahan fisik yang dialaminya, sudah saatnya istri menghadapi tindakan suami tersebut dengan cara yang dapat dipahami suami,"terang Evy Rakryani.
Cara yang dimaksud adalah "mengembalikan" kepercayaan diri suami dengan cara yang tidak membuat suami merasa tersinggung atau bahkan merasa diadili. Dan terkait cara apa yang paling tepat, sudah pasti istri yang tahu persis karakter suaminya. Itulah kenapa seorang istri harus selalu memahami kondisi suami termasuk perubahan yang terjadi.
"Jika istri tak cepat memahami perubahan yang terjadi pada suami, bisa-bisa suami menjadi keterusan tebar pesona hingga akhirnya menemukan cinta baru. Kalau sudah begitu, masalahnya akan semakin sulit dipecahkan,"jelas Evy. (*)


Jangan Ngambek Jika Suami Mengkritik

SELAIN kondisi psikologis sang suami, kegemaran suami tebar pesona bisa juga dipicu oleh sang istri sendiri. Sebur saja akibat sikap atau penampilan istri yang kurang menyenangkan atau tidak pas di hati suami. Akibatnya suami nggak hanya enggan 'mengakui' istri di depan publik tapi juga berusaha main mata.
Dalam kondisi ini, sangat dibutuhkan komunikasi secara terbuka antara pasangan suami istri. Dan bila komunikasi sudah terjalin, istri jangan justru marah atau tersinggung. Misalnya saat suami memberi masukan tentang hal yang membuat suami tidak nyaman.
"Kadang ada istri yang justru merasa tidak terima ketika suami memberikan masukan. Padahal, masukan tersebut bisa jadi merupakan tanda atau sinyal secara halus bahwa ada yang tidak cocok dan membuat suami merasa tidak nyaman sehingga harus diperbaiki,"ungkap Evy Rakryani.
Itu artinya baik istri maupun suami harus memiliki kepekaan terhadap segala sesuatu yang membuat pasangan merasa tidak nyaman. Sebab, hal yang dianggap "sepele" oleh istri ataupun suami, bisa jadi merupakan masalah besar bagi pasangannya yang memunculkan rasa tidak nyaman. (*)


Bila Perlu Minta Bantuan Konselor Perkawinan

MUNCULNYA masalah dalam kehidupan rumah tangga memang hal yang biasa terjadi. Namun, jika setiap masalah yang terjadi tidak segera diatasi bisa mengakibatkan penumpukan yang rentan "meledak" dan akhirnya menghancurkan komitmen berumah tangga.
"Komunikasi merupakan hal yang paling mungkin dilakukan untuk mengatasi segala persoalan rumah tangga. Tapi, bila komunikasi dua arah yang dilakukan tidak berhasil menyelesaikan masalah, sebaiknya pasangan segera meminta bantuan konselor perkawinan atau psikolog,"terang Evy Rakryani, Psikolog kota Batam.
Mengenai kapan pasangan suami istri perlu meminta bantuan konselor, menurut Evy hal tersebut sangat relatif. Namun yang pasti, bantuan konselor sangat dibutuhkan jika komunikasi antara pasangan sudah tidak berjalan secara lancar.
"Saat pasangan memutuskan ingin minta bantuan konselor, keduanya memang sudah sama-sama menyadari pentingnya peran pihak ketiga untuk turut menyelesaikan masalah keluarga. Sebab, jika konseling hanya dilakukan oleh satu pihak saja, maka hasilnya akan sia-sia,"ungkapnya.
Bantuan pihak ketiga sangat penting agar masalah yang terjadi tidak merembet pada tindakan lain yang merugikan. Misalnya saja, kemarahan istri terhadap suami akhirnya dilimpahkan pada anak yakni dengan menyakiti anak.
Bukan itu saja, terputusnya komunikasi antara suami istri juga bisa memunculkan keinginan istri untuk melakukan balas dendam. Sebut saja, ikutan genit dengan menjadi penggoda laki-laki atau sekadar main mata. Tujuannya adalah untuk membuktikan pada suami bahwa istri juga masih menarik.
"Padahal, tindakan balas dendam ini justru bisa memperburuk hubungan suami istri. Karena yang menjadi korban adalah anggota keluarga. Sehingga, peran pihak ketiga untuk turut mendinginkan hubungan suami istri sangatlah penting,"ungkap Evy. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda