04 Maret 2008

Mengenal PCOS Pada Wanita



SEBAGAI seorang wanita, menstruasi atau tamu bulanan merupakan hal yang wajar dialami. Khususnya wanita yang memang sudah memasuki masa akil baligh serta belum menopouse. Sehingga, bagi wanita yang tidak mendapatkan tamu rutin ini pasti merasa cemas.
Apalagi, jika hal tersebut dibarengi gejala lain yang rasanya tidak biasa dialami wanita kebanyakan. Sebut saja hirsutisme atau tumbuhnya bulu bukan pada bagian yang wajar seperti kumis, bulu tangan berlebihan, kegemukan, jerawat dan sebagainya.
Bagi Anda yang kebetulan mengalami sejumlah gejala tersebut ada baiknya meningkatkan kewaspadaan. Sebab, bisa jadi Anda mengalami Polycyctic Ovararian Syndrome ( PCOS ) yakni sindroma yang bisa berujung pada sulitnya seseorang mendapatkan keturunan.
"PCOS bukan sebuah penyakit, tapi kumpulan gejala-gejala sebagai manifestasi peninggian hormon estrogen, hormon androgen (hormon laki-laki), hormon LH, hirsutisme, jerawat, alopecia (botak) serta kegemukan atau obesitas,"ungkap dr Tjahja Sanggara SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan RS Awal Bros Batam.

Beberapa gejala yang dimunculkan antara lain masalah menstruasi, kelebihan berat badan atau tumbuhnya rambut bukan pada tempatnya seperti pada wajah. Gejala lainnya adalah tidak normalnya kelenjar endrokrin, berjerawat, kegemukan, mandul, diabetes dengan insulin resistance atau hyperinsulinemia.
Sebenarnya, hal mendasar yang berperan dalam patogenesis PCOS adalah resistensi insulin dan gangguan sekresi luteinizing hormone (LH). Peningkatan kadar insulin akibat resistensi insulin di jaringan perifer tersebut akan merangsang produksi androgen ovarium.
Insulin juga menekan sex hormone binding globulin (SHBG) sehingga androgen bebas meningkat. Didapatkan juga metabolisme androgen dan estrogen yang abnormal. Keadaan tersebut mengakibatkan tingginya konsentrasi hormon androgen dalam serum seperti testosteron, androstenedion, dan dehidroepiandrosteron.
Peningkatan androgen (hormon laki-laki) ini akan mempengaruhi lingkungan ovarium menjadi androgenik, menekan aromatisasi androgen menjadi estrogen sehingga memicu terjadinya atresia folikel lebih dini. Namun pada beberapa kasus, kadar hormon androgen tersebut dapat pula ditemukan normal.
Anovulasi (tidak adanya pelepasan sel telur) pada PCOS terjadi karena terjadi peningkatan rangsangan pada sel teka ovarium. Sel teka memproduksi androgen (testosteron dan androstenedion). Oleh karena pada PCOS, kadar follicle stimulating hormone (FSH) yang dihasilkan relatif lebih sedikit dibandingkan LH. Akhirnya, sel granulosa ovarium tidak mampu mengaromatisasi androgen menjadi estrogen. Akibatnya, kadar estrogen menurun dan terjadilah anovulasi atau tidak adanya pelepasan sel telur.
Dan bila seorang tidak mengalami ovulasi, maka spermatozoa tidak akan bisa melakukan pembuahan. Hal itulah yang mengakibatkan seorang wanita dengan PCOS sangat sulit mendapatkan keturunan.
Lain halnya jika siklus menstruasi normal. Ovarium akan melepaskan sel telur ke dalam uterus. Sebelum sel telur dilepaskan, sel telur terlebih dulu akan melalui proses pematangan dalam ovarium. Setiap bulannya, sebenarnya terdapat banyak sel telur yang bisa berkembang dan matang. Tapi dalam banyak kasus hanya satu sel telur saja yang matang secara sempurna dan bisa dilepaskan.(*)



Lakukan Pengobatan Saat Ingin Punya Anak

MESKI secara medis Polycystic Ovarium tidak akan membahayakan jiwa yakni tidak berujung pada kematian, tapi sindroma ini bisa berdampak kurang baik terutama bagi kalangan wanita. Itu karena PCO bisa menyebabkan seorang wanita sulit mendapat keturunan. Penyebabnya, sel telur yang seharusnya matang dan siap untuk dibuahi tidak mengalami perkembangan.
Berdasarkan alasan itulah, dokter spesialis kandungan kerap merekomendasikan pasien PCOS untuk menjalani terapi. Khususnya, pasien yang memang sedang berharap mendapatkan keturunan.
"Pengobatan bisa dilakukan untuk membuat sel telur tumbuh secara normal. Melalui pengobatan ini diharapkan wanita bersangkutan memiliki sel telur matang yang bisa dibuahi,"ungkap dr Tjahja Sanggara SpOG.
Proses pengobatan itu sendiri bisa dimulai jika wanita dengan PCOS sudah berumur di atas 21 tahun maupun wanita yang sudah menikah dengan haid yang jarang yakni dengan siklus di atas 35 hari. Sebab, jika pengobatan dilakukan pada wanita yang berusia di bawah 21 tahun atau wanita yang tidak ingin punya keturunan, proses pengobatan kurang bermanfaat.
"Walau setelah diobati kondisi sel telur akan normal kembali, tapi tetap saja ada peluang terjadinya kembali gangguan. Sehingga, saat paling tepat untuk melakukan pengobatan adalah ketika seorang wanita menginginkan keturunan atau merencanakan kehamilan,"terangnya.
Proses pengobatan itu sendiri dilakukan dengan jangka waktu yang relatif lama yakni antara empat hingga enam bulan. Sehingga, terapi ini akan lebih tepat diaplikasikan pada wanita yang memang punya keinginan kuat.
Selain penyembuhan secara medis, ada juga cara lain terapi PCOS. Sebut saja, terapi psikis serta diet. Misalnya pasien gemuk dengan PCOS atau wanita dengan tingkat stres tinggi. Itu karena, kondisi tubuh serta psikis terbukti memiliki pengaruh cukup besar terhadap kelebihan hormon androgen (hormon pria). Sehingga, bila penyebab kelebihan hormon androgen adalah kegemukan, maka penurunan berat badan bisa jadi alternatif langkah terapi.
Itu karena penurunan BB bisa mengubah hormon Androgen (hormon pria) menjadi Estrogen (hormon wanita). Melalui perubahan hormon tersebut diharapkan bisa terjadi ovulasi (pelepasan sel telur).
Sebenarnya, keputusan untuk melakukan terapi terhadap PCOS sangat tergantung pada gejala yang dirasakan. Bukan itu saja, umur, keinginan untuk hamil, kelebihan hormon adrenalin atau androgen, juga bisa menjadi pertimbangan perlu atau tidaknya dilakukan terapi sebagai langkah penyembuhan.(*)




Kenali Gejala PCOS

DETEKSI dini terhadap dampak polycystic ovarian syndrom (PCOS) merupakan tindakan paling bijak menghindari kemungkinan yang lebih buruk. Sebab, semakin dini sindroma ini berhasil dideteksi yakni mengenali gejala-gejala yang menyertainya, akan semakin cepat juga tindakan medis bisa dilakukan.
Lantas apa saja gejala yang bisa menjadi penanda PCOS pada seorang wanita? Berikut beberapa hal yang bisa jadi panduan:

1. Jarang menstruasi atau bahkan tidak mens

2. Ditemukan banyak kista di ovarium. Gejala ini kerap ditemui tapi tidak semua kasus mengalaminya.

3. Tekanan darah tinggi

4. Berjerawat

5. Kadar insulin tinggi, insuline resistance atau diabetes

6. Infertilitas (tidak subur}

7. Kelebihan rambut di wajah dan tubuh (seperti rambut tangan, kumis, di tengkuk, dan sebagainya)

8. Kebotakan

9. Kegemukan atau obesitas.


Beberapa Bentuk Manifestasi PCOS

50 persen dari seluruh kasus Hirsutisme (tumbuh rambut tidak pada tempatnya)

40 persen Obesitas atau kegemukan

50 persen pasien tidak mendapat haid

30 persen terdapat perdarahan dari Rahim

20 persen mendapatkan haid normal. (*)

1 komentar:

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda