30 April 2008

Celengan Ajaib





HARI Minggu (27/4) kemarin, Echa dan Papa dengan penuh semangat 45 membawa sebuah celengan berbahan plastik dari kamar. Soalnya, setelah beberapa bulan menabung dan mengumpulkan uang ke dalam celengan itu, Papa berniat membelikan Echa sebuah sepeda baru. Sepeda yang selama ini diinginkan gadis kecil Echa Diva.

Setelah membentangkan koran untuk menampung uang-uang yang diyakini Papa cukup untuk membawa pulang sebuah sepeda gaul alias sepeda model masa kini, Papa tanpa ragu langsung menghunjamkan pisau dan mulai menyembelih celengan.

"Waah....akhirnya Echa bisa beli sepeda ini," kata Papa bersemangat.

Begitu celengan terbuka, Papa langsung membalik-balik uang kertas dan recehan yang memenuhi celengan Echa.

"Aduh... ada yang tidak beres ini,"kata Papa sedikit panik.

"Kenapa,"tanyaku keheranan.

"Lho kok uang-uang lima puluhan ribu yang Papa masukkan celengan nggak ada semua? Kok yang 20-an dan 10-an juga nggak ada? Ini kok cuma ribu-ribuan plus lima ribu satu lembar dan recehan?"tambah Papa.

Karena penasaran, Mama bergabung dengan si Papa yang ngomel tanpa henti. Dan setelah ikut membolak-balik isi celengan muncul juga rasa heran dalam diri. "kok bisa ya uangnya tinggal ribu-ribuan. Padahal kan, banyak uang 20-an dan 10-an yang dimasukkan celengan? Jadi kemana semua uang-uang itu?"pikirku.

Sewaktu celengan diperiksa juga nggak ada yang bolong. Tapi kenapa isi celengan bisa berubah?????

Tanpa bermaksud menuduh 'oranglain' yang pernah tinggal bersama kami sebagai pengasuh gadis kecil, kami mengambil kesimpulan celengan telah berganti dengan yang baru. Dengan model sama tapi isinya berbeda. Ya, maklum karena celengan milik Echa banyak banget dijual di warung dan supermarket. Tentunya dengan harga super murah "hanya 2.500".

Berhubung nggak ada yang bisa dilakukan, akhirnya kami mengikhlaskan kejadian itu dan memutuskan untuk menggesek uang plastik untuk mendapatkan rupiah agar bisa membawa pulang sepeda impian Echa.

Minggu sore, kami berencana membeli sebuah sepeda untuk Echa. Soalnya, dari pagi Echa memang sudah terlanjur semangat untuk membeli sepeda. Bahkan, selama seharian penuh dia membawa uang seribu dan bilang mau beli sepeda. Ada-ada aja....

Tapi, rencana membeli sepeda akhirnya tertunda karena Echa keasikan main ama Abang Dika, temen main Echa yang Ayahnya satu kantor dengan Mama.

Karena udah maghrib, akhirnya kami memutuskan menunda membeli sepeda keesokan harinya.

Tapi yang terjadi di luar dugaan kami. Ternyata malamnya badan Echa demam tinggi sambil menangis minta sepeda. Berhubung sudah hampir tengah malam, akhirnya kami memutuskan meminjam sepeda Abang Dika.

Berbekal sepeda pinjaman, demam Echa bisa sedikit berkurang dan sudah nggak rewel lagi. Cuma, pinggang papa nyaris copot setelah menuntun sepeda karena kaki Echa belum sampai ke tanah.


Dan taraaaaa.....Echa udah dibeliin sepeda baru plus sebuah tas sekolah.... Jadi dia bisa puas main sepeda.

Biar aja uang dalam celengan ilang. Ini bisa jadi pelajaran berharga untuk tidak terlalu percaya dengan 'oranglain'. Ingat kejahatan tidak hanya karena ada niat tapi juga ada kesempatan.....waspadalah...waspadalah...waspadalah....(*)

1 komentar:

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda