05 April 2008

Infeksi atau Kelainan Bawaan bisa Sebabkan Hidrosefalus

HIDROSEFALUS atau pembesaran kepala akibat kelebihan cairan otak merupakan penyakit yang kadang membuat miris saat kita melihat kondisi penderitanya. Bagaimana tidak, penyakit yang kerap menimpa bayi dan anak-anak ini membuat kepala penderita membesar seiring pertambahan cairan otak dalam kepala.

Sebenarnya, cairan otak memiliki manfaat penting untuk tubuh. Sepanjang jumlahnya tidak melebihi kapasitas serta tidak terjadi gangguan dalam sirkulasinya. Beberapa manfaat cairan otak tersebut antara lain, sebagai shock absorber, yakni mengurangi efek trauma dari luar.

Selain itu, sebagai buoyancy yang membuat otak terapung sehingga mengurangi beban otak dari 1.400 gram menjadi 50 gram. Hal itu penting untuk mengurangi penekanan atau geseran dasar otak dengan permukaan dasar ruang tengkorak yang tidak rata.

Selanjutnya, berfungsi seperti air kencing, yakni membuang produk sisa, termasuk obat-obatan yang berbahaya. Terakhir, cairan otak juga menjadi media transportasi hormon-hormon dan nutrisi yang diperlukan oleh sel-sel otak.

"Hidrosefalus merupakan suatu keadaan dimana terjadi gangguan aliran cairan di dalam otak. Gangguan itu mengakibatkan penumpukan cairan yang selanjutnya menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital,"terang dr Dewi Metta SpA, dokter spesialis anak RS Awal Bros Batam.

Mengenai penyebab hidrosefalus itu sendiri ada beberapa macam. Bisa karena kelainan bawaan, infeksi ataupun pendarahan. Kelainan bawaan bisa terjadi akibat adanya tumor otak. Keberadaan tumor tersebut akan menghambat sirkulasi cairan otak.

Sementara infeksi atau pendarahan pada otak akan mengakibatkan gangguan dalam proses penyerapan cairan ke pembuluh darah balik. Misalnya akibat radang selaput otak (meningitis) atau pendarahan akibat trauma.

"Akibat tidak lancarnya sirkulasi cairan otak tersebut, kepala bisa membesar oleh penumpukan cairan. Terutama kepala bayi di bawah dua tahun yang kondisi ubun-ubunnya belum menutup secara sempurna. Dan jika tidak segera ditangani bisa mengganggu perkembangan anak bersangkutan bahkan kematian,"jelasnya.

Sebab, penumpukan cairan otak itu akan mengganggu kinerja saraf-saraf penting pada tubuh. Baik saraf otak maupun saraf lainnya. Akibatnya, anak tidak akan bisa tumbuh secara normal dan maksimal sebagaimana anak seusianya. Bahkan, bila tak lekas ditangani, hidrosefalus bisa juga mengancam keselamatan jiwa penderitanya. (*)



Pantau Terus Perkembangan Lingkar Kepala

MENCEGAH lebih baik dibanding mengobati. Mengingat hidrosefalus merupakan satu keadaan di mana terjadi penumpukan cairan otak, maka mewaspadai tanda-tanda yang biasa menyertai derita hidrosefalus bisa menjadi langkah tepat.

"Salah satu gejala klinis hidrosefalus adalah pembesaran kepala akibat penumpukan cairan. Sehingga, setiap orang hendaknya lebih waspada bila anaknya mengalami perkembangan lingkar kepala yang melebihi angka normal,"terang dr Dewi Metta SpA.

Karenanya, penting untuk melakukan pengukuran lingkar kepala secara serial dan teratur guna mendeteksi sejak dini penyakit ini. Normalnya, perkembangan lingkar kepala bayi adalah dua sentimeter per bulan untuk 3 bulan pertama, 1 cm per bulan untuk 3 bulan kedua, dan 0,5 cm per bulan untuk 6 bulan berikutnya.

Gejala klinis lainnya adalah, ubun-ubun yang melebar dan menonjol, pembuluh darah di kulit kepala makin jelas, gangguan sensorik-motorik, gangguan penglihatan (buta), gerakkan bola mata terganggu (juling), terjadi penurunan aktivitas mental yang progresif.

Bayi juga akan lebih rewel, kejang, muntah-muntah, panas badan yang sulit dikendalikan, dan akhirnya gangguan pada fungsi vital akibat peninggian tekanan dalam ruang tengkorak berupa pernapasan lambat, denyut nadi turun dan naiknya tekanan darah sistolik.

"Bila orangtua masih ragu dengan gejala klinis yang biasa menyertai penyakit ini, bisa dilakukan pemeriksaan computerized tomography scan (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI). Pemeriksaan ini dapat mendeteksi struktur anatomi otak, dan penyebab hidrosefalus,"katanya.

Bila hidrosefalus yang dialami merupakan kelainan bawaan, bisa dideteksi sejak dalam kandungan. Yakni melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Saat dilakukan pemeriksaan, akan diketahui apakah perkembangan lingkar kepala janin normal atau tidak.

Lain halnya bila hidrosefalus merupakan akibat infeksi atau pendarahan. Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak sudah lahir ke dunia. Sehingga, pemeriksaan medis perlu dilakukan untuk memastikan apakah anak memang terkena hidrosefalus atau tidak. (*)



Pembedahan hingga Pemasangan Shunt

UNTUK mengatasi derita hidrosefalus pada seseorang ada sejumlah cara yang bisa ditempuh. Tergantung kondisi penyakit serta kemampuan orang bersangkutan untuk mendapatkan penanganan medis.

"Hidrosefalus bisa juga diatasi dengan mengonsumsi obat-obatan. Hanya saja konsumsi obat tersebut sifatnya hanya untuk memperlambat proses produksi cairan otak agar tidak memenuhi kepala,"terang dr Dewi Metta SpA.

Sedangkan penanganan yang paling mungkin untuk menyembuhkan hidrosefalus adalah tindakan pembedahan. Dalam proses pembedahan ini akan dibuat shunt atau pintasan untuk mengalirkan cairan otak di ruang tengkorak yang tersumbat ke tempat lain dengan menggunakan alat sejenis kateter berdiameter kecil.

"Melalui shunt tersebut, cairan otak yang menumpuk pada jaringan otak akan dialirkan sehingga tidak menekan otak serta saraf-saraf penting yang ada di kepala,"katanya.
Untuk menghindari efek reaksi pada tubuh, shunt ini dibuat dengan bahan yang inert seperti silikon. Dan dalam proses pembuatan shunt, selang tersebut akan ditanam pada jaringan otak, kulit, dan rongga perut.

Saat ini, produk selang pintasan semakin canggih. Mulai shunt yang dilengkapi klep sehingga tekanan aliran cairan otak dapat diatur. Ada juga yang dilapisi bahan antibakteri serta campuran materi khusus sehingga selang lebih awet, lentur, dan tidak mudah putus. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda