21 April 2008

Kanker Serviks, Bahaya Laten yang Mengancam Jiwa

BAGI seorang wanita, rahim adalah organ yang sangat penting dan memberikan arti tersendiri bagi kehidupannya terutama kehidupan rumah tangga. Bagaimana tidak, tanpa ada rahim seorang wanita pasti akan merasa tidak berarti terutama di mata suami.

Meski rahim dianggap penting, ternyata tidak sedikit wanita yang tak terlalu "peduli" kesehatan organ tubuh yang satu ini. Dan kepedulian itu justru baru muncul saat seseorang sudah divonis kanker oleh dokter. Salah satunya adalah kanker leher rahim (kanker serviks).

Padahal, jika kepedulian diberikan sejak dini misalnya saat pertumbuhan sel kanker masih dalam tahap stadium IA, penyakit yang masuk kategori silent killer itu masih bisa disembuhkan secara total. Itu karena, kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling mudah dicegah dan diobati.

Tentu saja jika keberadaan sel kanker berhasil dideteksi sejak dini melalui skrining kanker. Sebab, penyakit ini memiliki perkembangan yang relatif lama yakni 10 hingga 15 tahun mulai infeksi sampai benar-benar menjadi kanker invasif.

"Deteksi dini memperbesar peluang kesembuhan dan menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk penyembuhan penyakit,"terang dr Enting Prihantina SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan, RS Budi Kemuliaan Batam saat mengisi talkshow di Miracle Aesthetic Clinic Batam.

Salah satu skrining yang bisa dilakukan adalah pap smear. Skrining ini bisa dilakukan tiga tahun setelah hubungan seksual pertama. Jika hasilnya normal, skrining dilakukan secara rutin setahun sekali. Bagi yang berusia di atas 30 tahun, dianjurkan melakukan pemeriksaan HPV DNA. Sebab pada usia ini resiko infeksi HPV persisten meningkat.

"Pap smear juga harus tetap dilakukan walau rahim sudah diangkat (tindakan untuk menghentikan penyebaran sel kanker). Yakni untuk memastikan tak ada masalah pada area tumpul serviks,"terangnya.

Selama ini, pap smear kurang populer untuk dilakukan karena kebanyakan wanita merasa kurang nyaman dan membayangkan hal yang tidak mengenakkan terkait pemeriksaan area pribadi ini.

Padahal, pemeriksaan medis yang membutuhkan biaya sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu ini hanya membutuhkan waktu yang sebentar. Bahkan, hanya beberapa menit dan tidak akan terasa sakit sama sekali.

"Pemeriksaan ini memerlukan sampel sel-sel pada leher rahim.Untuk mengambil sampel tersebut, mulut rahim akan dibuka dengan spekulum selanjutnya sampel diambil menggunakan cervixbroom. Berdasarkan sampel itulah akan diketahui apakah sel-sel leher rahim normal atau abnormal,"terang dr Enting.

Bila ternyata sel-sel leher rahim terkena kanker harus diketahui dulu tingkatan atau stadium kanker bersangkutan. Hal tersebut terkait penanganan yang bakal dilakukan untuk mengatasinya. Bila stadium masih masuk awal, pengangkatan rahim bisa menjadi solusi menghentikan penyebaran sel kanker.

Lain halnya bila stadium penyebaran sel kanker sudah masuk kategori tinggi atau bahkan sampai stadium III, tindakan yang dilakukan hanyalah kemoterapi. Itulah kenapa perlu dilakukan skrining sejak dini untuk mengetahui ada tidaknya sel kanker agar proses penyembuhan lebih mudah dan murah. (*)



Gejala Muncul Setelah Kanker Menyerang

PENYAKIT kanker leher rahim (serviks) merupakan bahaya laten yang patut diwaspadai. Sebab, penyakit yang sebenarnya paling mudah dicegah dan diobati ini tidak memberikan gejala khusus sebelum kanker memang sudah benar-benar berada dalam stadium akhir.

"Penyakit ini baru akan bergejala setelah menjadi kanker yakni keluar darah setelah berhubungan intim atau keputihan dalam jumlah yang banyak. Tapi pada fase itu, kanker sudah tidak bisa dicegah lagi. Itulah kenapa perlu dilakukannya deteksi dini,"jelas dr Tjahja Sanggara SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan RS Awal Bros Batam.

Mengenai faktor apa saja yang berperan pada terjadinya kanker serviks, menurut dr Tjahja ada cukup banyak hal. Di antaranya multiparitas atau memiliki anak banyak, merokok, penyakit hubungan seksual dan faktor nutrisi. Dan berdasarkan penelitian, ada juga yang mengatakan bahwa wanita yang berhubungan intim dengan laki-laki yang tidak dikhitan akan meningkatkan resiko terkena kanker serviks.

"Faktor nutrisi juga meningkatkan resiko kanker serviks karena sekarang ini tidak sedikit orang enggan mengonsumsi makanan dengan anti oksidan tinggi. Misalnya kacang-kacangan seperti kacang kedelai, tahu, tempe, buah-buahan yang mengandung anti oksidan atau vitamin C dan E,"ungkapnya. (*)



Antisipasi dengan Vaksinasi HPV

HASIL penelitian terbaru yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kejadian kanker serviks dengan infeksi HPV sedikit memberikan angin segar. Sebab, setidaknya ada hal yang bisa dilakukan sebagai tindakan antisipasi pencegahan kanker leher rahim. Yakni melalui vaksinasi HPV.

"Vaksin ini sifatnya profilaksis atau pencegahan bukan terapetik atau pengobatan. Artinya, penggunaan vaksin ini hanya bisa mencegah kejadian kanker leher rahim tapi tidak dapat mengobati kanker,"terang dr Tjahja Sanggara SpOG, dokter spesialis kandungan dan kebidanan RS Awal Bros Batam.

Mengenai siapa saja yang bisa melakukan vaksinasi dengan masa proteksi selama 53 bulan atau sekitar 4 tahun ini adalah wanita yang belum terinfeksi HPV atau belum pernah melakukan hubungan seksual.

"Vaksin bisa diberikan pada usia 10 hingga 55 tahun. Tergantung perkiraan usia awal hubungan seksual. Dan bagi wanita yang telah aktif melakukan hubungan seksual perlu dilakukan pap smear dulu lewat hybrid capture atau PCR,"ungkap dr Tjahja.

Skrining infeksi HPV tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas vaksinasi HPV. Sebab, meski tak merugikan tapi efektifitas penangkalan infeksi HPV lebih rendah jika diberikan pada orang yang sudah terkena infeksi HPV. Vaksinasi ini juga tak dianjurkan bagi wanita hamil. (*)



Fakta:

*Kanker serviks adalah kanker kedua terbanyak (se-dunia) pada wanita 500 kasus baru per tahun

*Negara berkembang memiliki 3/4 kasus

*Kanker nomor satu pada wanita (di Indonesia)

*Prevalensi 90-100 kasus per 100 ribu penduduk (Indonesia)

*Ditemukan 200 ribu kasus baru per tahun (Indonesia)

*99,7 persen kanker serviks disebabkan infeksi HPV

*Kanker serviks satu-satunya kanker yang bisa dicegah lewat deteksi dini

Sumber: Lab Prodia dan RS Awal Bros Batam




Peluang Kesembuhan Kanker Serviks

Stadium IA : 100 persen

Stadium IB : 87 persen hingga 90 persen

Stadium IIA : 68 persen hingga 83 persen

Stadium IIB : 62 persen hingga 68 persen

Stadium III : 33 persen hingga 48 persen

Stadium IV : 14 persen

Sumber: Lab Prodia Batam



Deteksi Dini di Puskesmas Gunakan Tes Asam Asetat

SELAIN pap smear sebenarnya ada sejumlah metode deteksi dini untuk memastikan ada atau tidaknya sel kanker di leher rahim. Nah, bagi Anda yang ingin tahu apa saja pemeriksaan yang bisa jadi pilihan tersebut, berikut beberapa metode yang sudah ada di Batam termasuk RS Awal Bros Batam:

1. Pap Smear

Metode ini sampai saat ini masih banyak digunakan. Selain dikenal luas, sensitivitas pap smear jika dilakukan setiap tahun mencapai 90 persen, setiap dua tahun 87 persen, setiap tiga tahun 78 persen dan bila setiap lima tahun mencapai 68 persen.

2. Thin Prep

Metode ini merupakan modifikasi pap smear yakni pengumpulan sel usapan serviks di dalam cairan. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran, darah, lendir serta untuk memperbanyak sel serviks yang akan dikumpulkan untuk meningkatkan sensitivitas. Hasilnya, metode ini memiliki sensitivitas 73,6 persen atau lebih besar dibanding pap smear yang hanya memiliki sensitivitas 67,3 persen.

3. Pap-Net

Pap-Net merupakan sistem interaktif computer untuk menilai sediaan pap smear. Sistem ini memiliki keuntungan lebih sensitif dibanding penilaian pap smear konvensional. Itu karena Pap- Net mampu menemukan kelainan sel pada sebaran sel abnormal yang jumlahnya kurang dari lima sel. Sensitifitas Pap-Net lebih tinggi dibandingkan manual (86 persen vs 79,8 persen) untuk penilaian HSIL.

4. Tes Onkoprotein

Tes ini bertujuan mendeteksi adanya onkoprotein E7, dimana sampel didapat dari bilasan cairan serviks dan vagina. Skrining ini mendapatkan positif onkoprotein E7 sebenar 60 persen dari penderita kanker serviks yang positif HPV tipe 16.

5. Hybrid Capture (HC)

Pemeriksaan ini hanya mampu mendeteksi infeksi HPV resiko tinggi pemicu kanker serviks tapi tidak dapat mendeteksi kelainan sel pra kanker. Sehingga spesifisitas HC lebih rendah dibandingkan papsmear.

6. Tes Asam Asetat

Pemeriksaan sederhana menggunakan visualisasi asam asetat ini bisa dilakukan di Puskesmas. Pemberian asam asetat pada bagian serviks akan menunjukkan lesi pra kanker. Sensitivitas cara ini adalah 55 persen dengan spesifitas 82,1 persen. (*)

2 komentar:

  1. Mbak,

    bolehkah saya sharing product..jika ada waktu silakan menghubungi 08159398978 atau ym: fisi020976..produk tersebut dapat membantu therapy keputihan, kista, mioum, bahkan kanker..


    Regards,
    Fisi

    BalasHapus
  2. mbak tengkyu ya artikel mu mbantu bangt kti q

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda