24 Mei 2008

Asma Berat Bisa Menyerang Tiga Kali Seminggu

Foto by: Alodokter.com
ASMA merupakan penyakit yang kerap dialami sejumlah orang. Meski pengetahuan terkait bagaimana penyakit turunan ini bisa terjadi masih terbatas, tapi kebanyakan orang sudah mampu mengenali gejala yang ditimbulkan oleh asma.

"Gejala awal asma adalah terjadinya sesak nafas serta mengi atau keluar bunyi mencicit serta nafas berat saat penyakit ini menyerang. Mengi tersebut terdengar saat mengeluarkan nafas. Selain itu, penyandang asma juga akan batuk-batuk," jelas dr Deo Purba, dokter umum RS Awal Bros Batam.


Asma itu sendiri merupakan kondisi peradangan menahun saluran nafas yang menyebabkan saluran tersebut menjadi sensitif atau hipersensitif terhadap berbagai rangsangan baik dari dalam maupun dari luar.

Respon yang muncul adalah penyempitan pipa saluran nafas akibat peradangan, pembengkakan, spasme otot dan berlendir. Akibatnya orang bersangkutan akan mengalami sesak nafas, nafas yang berbunyi mencicit atau biasa disebut mengi serta nafas yang berat.


"Munculnya asma merupakan akibat peningkatan sel-sel pencetus asma seperti histamin dan eosinofil. Karena kadar sel-sel tersebut dalam darah meningkat maka akan lari ke saluran nafas atau bronkus yang akhirnya mengakibatkan penyempitan saluran nafas atau biasa disebut asma bronkial," jelasnya.

Asma bisa dialami oleh semua kalangan tanpa melihat umur maupun jenis kelamin. Artinya setiap orang berpeluang terkena serangan asma. Hanya saja serangan yang terjadi antara satu orang dengan lainnya berbeda-beda atau tidak sama. Itu karena asma terbagi menjadi tiga derajat yakni ringan, sedang, dan berat.

Gejala asma ringan biasanya ditandai dengan serangan yang timbul hanya sekali dalam kurun waktu empat hingga enam minggu, terdapat mengi ringan setelah melakukan aktivitas berat, dan bila dilakukan pengujian, maka uji fungsi parunya normal.

Baca Juga:
Anak Demam? Begini Penanganannya
Enam Penyakit Akibat Kolesterol Tinggi


Pada asma sedang gejalanya ditandai dengan serangan yang muncul kira-kira satu kali dalam seminggu atau kurang, timbul mengi setelah melakukan aktivitas sedang, serta uji fungsi parunya mendekati normal.

Sedangkan gejala asma berat biasanya ditandai dengan serangan yang bisa mencapai lebih dari tiga kali seminggu, timbul mengi setelah melakukan aktivitas ringan dan uji fungsi parunya abnormal.

"Asma juga bisa dibedakan menjadi dua yakni asma serangan dan asma tidak serangan. Untuk asma serangan merupakan kondisi asma yang sudah akut yang membutuhkan nebulizer. Yakni alat hisap berisi obat yang sudah diubah menjadi partikel uap sehingga bisa masuk ke bagian-bagian yang paling dalam. Sementara asma tidak serangan bisa diredakan dengan minum obat-obatan secara teratur," ungkap Deo. (*)



Waspadai Debu Rumah

ASMA merupakan penyakit yang kehadirannya tidak bisa dicegah oleh siapapun khususnya bagi orang yang terlahir dengan garis keturunan pengidap asma. Layaknya tak bisa memilih apakah terlahir sebagai perempuan atau laki-laki, begitu juga derita asma akan mengenai seseorang.

Walau penyakit ini tidak bisa dicegah, tetapi setidaknya masih bisa dikontrol agar rasa sakit yang dialami akibat serangan asma tidak menimbulkan akibat yang parah. Sebab, penyakit asma bisa kambuh akibat bersentuhan dengan sejumlah faktor pencetus yang bakal memicu kambuhnya asma.

"Secara garis besar rangsangan pemicu asma bisa digolongkan menjdi dua yakni alergen dan non alergen. Alergen merupakan sejenis protein yang banyak didapati di lingkungan kita seperti produk-produk binatang piaraan seperti kucing dan anjing, tungau, debu rumah, kecoa, karpet berbulu, jamur, serbuk bunga, dan sebagainya," ungkap dr Deo Purba, dokter umum RS Awal Bros Batam.

Sementara pencetus bukan alergen bisa berasal dari polusi udara gas buangan mobil, asap rokok, asap kabut, semprotan aerosol, bau-bauan yang menyengat seperti obat nyamuk maupun parfum, infeksi saluran nafas serta ekspresi emosi yang berlebihan.

"Bagi penyandang asma penting untuk mengenali jenis-jenis rangsangan yang selama ini menimbulkan kekambuhan asma tersebut. Setelah tahu apa saja yang bisa menjadi pencetus kekambuhan asma sebaiknya segera dihindari untuk bersentuhan dengan berbagai pencetus tersebut," saran Deo. (*)



Cegah dengan Olahraga dan Hindari Pencetus

SERANGAN asma memang bisa diobati meskipun tidak bisa disembuhkan secara tuntas. Dan untuk mengendalikan asma secara optimal diperlukan kerjasama yang baik antara penyandang asma dengan dokter.

Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan seperti anamesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, rontgent paru, uji fungsi paru (spirometri), serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Dari hasil tersebut akan ditentukan derajat asma serta langkah-langkah pengobatan dan pengendaliannya.

Melihat dari cara pengobatannya, ada dua cara yang bisa ditempuh. Yakni pengobatan saat serangan dan pengobatan pencegahan. Masing-masing obatnya berbeda. Dan dalam prosesnya, pengobatan asma terkadang memakan waktu lama. Sehingga, pemilihan obat yang memiliki efek samping sedikit penting untuk diperhatikan. Mulai jenis, dosis, cara pemakaian serta timing atau waktu pemberian obat yang tepat.

Saat ini, ada dua jenis obat asma, yakni yang diminum dan yang dihisap. Obat yang diminum umumnya obat anti alergi untuk menetralkan reaksi alergi. Ada juga bronkodilator untuk melebarkan jalan napas, serta obat-obat pengencer lendir.

Sementara untuk obat hisap bisa menggunakan bantuan nebulizer atau alat hisap berisi obat yang sudah diubah menjadi partikel uap, sehingga bisa masuk ke bagian-bagian yang paling dalam. Obat ini akan bereaksi memperlebar saluran napas. Apalagi sekarang ini obat-obat kortikosteroid sudah ada yang hadir dengan cara pakai dengan jalan inhalasi (hisap).

Selain upaya pengobatan, hal lain yang tak kalah penting untuk dilakukan penyandang asma adalah menjalani gaya hidup sehat serta menghindari pencetus serangan asma. Dengan begitu, kemungkinan penyakit asma kambuh bisa diperkecil.

"Sebaiknya penyandang asma meningkatkan kebugaran fisik melalui olahraga baik aerobik maupun senam asma. Bisa juga dengan renang atau jalan kaki," ungkap dr Deo Purba.

Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan menghindari kebiasaan merokok baik aktif maupun pasif. Hindari juga lingkungan yang bisa memicu serangan asma. Misalnya selalu menghindari bersentuhan langsung dengan pencetus alergi seperti debu, bulu binatang, serbuk bunga, tungau, kecoak, dan sebagainya. Dengan begitu diharapkan, serangan asma tidak akan kambuh. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda