17 Mei 2008

Bantu Anak Menggali Potensi Mereka


MELIHAT anak tumbuh dengan multi talenta sudah pasti menjadi keinginan setiap orangtua. Selain membanggakan, anak juga akan lebih mudah bersaing lantaran memiliki banyak kelebihan yang dapat diandalkan. Tetapi, munculnya bakat dalam diri seseorang ternyata harus digali serta dikembangkan sejak dini.

"Untuk bisa melihat bakat yang dimiliki anak, orangtua harus rajin memberikan rangsangan serta menciptakan berbagai peluang. Dengan begitu, anak bisa bereaksi dan bisa diketahui hasilnya secara bersama-sama," ungkap Rostina Tonggo Morito, Psikolog Batam.

Rangsangan dan peluang yang dimaksud adalah dengan memberi kesempatan anak untuk melakukan segala sesuatu yang sifatnya positif. Misalnya mengajak anak menyanyi, melukis, menari, main musik, atau kegiatan positif lainnya.
Bila anak memang memiliki bakat dan kemampuan pada kegiatan tertentu, anak akan melakukannya dengan senang hati. Tak hanya itu, anak juga akan melakukan kreatifitas atas kegiatan bersangkutan.

Misalnya melukis. Jika pakemnya melukis pemandangan adalah menggambar dua gunung, matahari, sungai dan sawah, bagi anak berbakat dia akan melakukan kreatifitas dengan membuat gambar pemandangan yang berbeda.

"Jika anak mulai berkreasi, orangtua harus memantau apakah anak hanya sekadar bereksplorasi yakni mencoba hal baru atau memang tertarik dengan bidang tersebut. Sebab, jika memang tertarik, anak akan melakukan aktivitas melukis secara rutin. Jika sudah begitu, fasilitasi anak dengan alat-alat melukis dan ciptakan tantangan dengan mengikuti kompetisi lomba melukis," kata Rostina.

Perlunya pemantauan talenta anak lantaran pada usia tertentu yakni usia dua tahun anak akan cenderung bereksplorasi dengan semua jenis kegiatan. Hal inilah yang terkadang mengecoh orangtua dan menganggap anak berbakat pada satu bidang tertentu. Padahal, anak sebenarnya masih tahap coba-coba.

"Diperlukan kepekaan dari orangtua saat ingin menggali bakat anak. Tak hanya itu, orangtua juga harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Dengan begitu diharapkan ke depannya tak akan ada perbedaan pendapat hanya karena kurangnya pengetahuan orangtua tentang bidang yang diminati anaknya," terang Rostina. (*)



Jangan Paksakan Kehendak pada Anak

"ADEK harus les piano, les balet, belajar melukis, latihan vokal, belajar modelling... bla..bla... bla..."

Terkadang perintah-perintah semacam ini diberikan orangtua pada anaknya. Jika dilihat sepintas keinginan orangtua cukup baik karena ingin buah hatinya memiliki banyak bakat di berbagai bidang. Hanya saja, jika kesempatan les dan privat tersebut bukan atas keinginan anak, bisa berdampak pada perkembangan psikis anak.

"Pemaksaan kehendak pada anak hanya akan menimbulkan rasa frustasi. Baik pada anak maupun orangtua. Frustasi pada anak terjadi karena anak dipaksa melakukan sesuatu yang tak diinginkan. Sementara frustasi pada orangtua terjadi karena telah mengeluarkan banyak uang tanpa ada hasil," kata Rostina Tonggo Morito, Psikolog Batam.

Munculnya rasa frustasi pada anak akan berakibat pada mandegnya kegiatan yang dilakukan anak. Hal ini biasanya merupakan wujud pemberontakan anak pada keputusan orangtuanya. Sehingga, yang patut dipahami orangtua adalah setiap anak merupakan pribadi yang berbeda dengan talenta yang berbeda pula. Sehingga, pemaksaan kehendak dengan harapan anak akan memiliki kemampuan seperti anak lain bukan tindakan bijaksana.

"Tidak sedikit orangtua yang latah memasukkan anakknya pada sejumlah kursus bakat karena ingin anaknya memiliki kemampuan yang sama dengan anak temannya atau relasinya. Padahal, setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda," katanya.

Alasan lain kenapa orangtua membebani anaknya dengan berbagai jenis kursus adalah karena kesibukan orangtua. Berhubung tak ada yang menjaga buah hatinya, terkadang orangtua memutuskan untuk memasukkan anak pada lembaga kursus atau les privat berbagai bidang.

"Langkah terbaik menjadikan anak kita anak yang berbakat dan membanggakan adalah membiarkan mereka memilih sendiri bidang yang ingin digelutinya. Sebab, tugas orangtua hanyalah membuka peluang dan memberikan tantangan seperti mengikutkan anak pada perlombaan yang diharapkan bisa mengasah kemampuan mereka," jelas Rostina.

Hal penting lain yang patut diperhatikan adalah kepekaan orangtua dalam mencari bakat anak. Jangan pernah menyerah untuk mencari tahu bakat dan minat anak. Jika sudah ketemu, kembangkan dan bantu anak untuk meraih obsesinya. Misalnya menjadi pelukis handal, balerina, pemain piano hebat, dan sebagainya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda