24 Mei 2008

Gejala Sakit Jantung Ini Mirip Masuk Angin Biasa

PERNAHKAH Anda melihat orang yang sebelumnya sehat wal'afiat dan sedang melakukan aktifitas tiba-tiba jatuh dan terbujur kaku tak bernyawa? Kondisi tersebut sebenarnya tidak terjadi begitu saja tanpa sebab.
Foto: www.pudak-scientific.com

Karena, orang yang meninggal meskipun mendadak pasti ada penyebabnya. Dan rata-rata kematian itu diakibatkan oleh serangan jantung Silent Myocardial Infaretion (SMI). Kenapa disebut Silent Myocardial Infaretion, itu karena serangan jantung ini tidak disertai keluhan berarti namun berakibat kematian.

"Serangan SMI ini kerap terjadi karena memang gejalanya tidak terlalu terlihat dan hanya seperti masuk angin biasa. Di dunia kedokteran memang tidak ada istilah masuk angin, namun bisa saja istilah awam ini merupakan gejala serangan jantung" terang dr Stanley Panggabean,SpJP FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Awal Bros Batam.


Berdasarkan hasil penelitian, satu dari empat kematian yang disebabkan serangan jantung tapi tanpa disertai keluhan ataupun gejala sebelumnya, merupakan kematian akibat SMI. Fakta ini sungguh mencemaskan karena secara tak terduga penderita yang tampaknya sehat tiba-tiba mendapat serangan jantung yang langsung mengakibatkan kematian.

Penyakit yang biasa disebut "pembunuh berdarah dingin" ini menyerang pada saat seseorang sedang melakukan aktifitas fisik, seperti saat sedang menyetir mobil, aktifitas seksual, berpidato, bahkan pada saat membaca buku.

Mengenai penyebab adanya serangan SMI itu sendiri, bisa terjadi karena adanya plak atherosclerosis atau penyumbatan pembuluh darah pada jantung. Dan sebenarnya pada penderita penyakit ini, serangan jantung sudah terjadi berulang. Hanya saja tak pernah dihiraukan oleh penderitanya yang selanjutnya pada serangan terakhir langsung berakibat fatal yakni terjadinya kematian. (*)



Cara Deteksi Penyakit Jantung SMI

www.just-health.net
BERBICARA soal deteksi awal kemungkinan adanya serangan Silent Myocardial Infaretion (SMI) memang tidak bisa dilakukan sedetail gejala yang ditunjukkan penyakit jantung koroner klasik. Sebab, gejala serangan pada penyakit ini memang tidak terlihat secara jelas.

Namun sebagai pembeda, serangan jantung koroner klasik didahului rasa nyeri khas pada dada, kemudian menjalar ke bahu dan lengan yang biasanya muncul sehabis kerja berat. Sementara SMI lebih sering menyerang seseorang pada puncak aktivitas mental kegiatan sehari-hari seperti saat menyetir mobil, membaca, atau tengah berpidato.

"Gejalanya memang tidak terlihat jelas seperti gejala penyakit jantung koroner umumnya. Nyeri dada seperti ditekan benda berat jarang dikeluhkan. Biasanya penderita hanya mengeluh mudah lelah bila beraktifitas, perasaan kembung pada perut, gelisah, berdebar-debar atau perasaan sesak nafas," terang dr Stanley Panggabean,SpJP FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Awal Bros Batam.

Untuk membuktikan penderita yang meninggal secara tiba-tiba akibat SMI hanya bisa dilakukan melalui otopsi Posmorten atau otopsi sesudah pasien meninggal. Karena melalui proses otopsi ini akan diketahui adanya kerusakan otot jantung penderita disertai adanya plak atherosclerosis.

Adapun faktor penyebab serangan SMI antara lain yaitu kegemukan, hypertensi, diabetes, stres berlebihan, kurang aktifitas fisik, rokok ataupun faktor keturunan. Selain itu, pola dan gaya hidup yang tidak sehat juga dapat memicu serangan SMI. (*)



Biasakan Pola Hidup Sehat

MENCEGAH sudah pasti lebih baik daripada mengobati. Sebab, saat seseorang sudah terkena penyakit jantung, bukan hanya rasa sakit yang akan diderita tapi juga dibutuhkan banyak dana serta waktu untuk proses penyembuhan penyakit ini.

Apalagi, yang namanya penyakit jantung baik penyakit jantung koroner maupun SMI, sama-sama memiliki tipe serangan yang mendadak. Artinya, penderita tidak akan dapat memperkirakan kapan serangan akan terjadi dan menimpa penderitanya.

Nah, untuk meniadakan faktor resiko terkena serangan penyakit adalah melalui pencegahan sejak dini. Misalnya dengan menerapkan pola hidup sehat yakni dengan makan teratur, tidur teratur, banyak istirahat, kendurkan stres, dan cukup bergerak badan. Dengan pola semacam ini seseorang bisa mengurangi resiko terkena penyakit jantung baik koroner maupun SMI.

"Saat ini, sebenarnya SMI dapat dicegah melalui pola dan gaya hidup yang sehat, berolah raga secara teratur, hindari stres dan rutin melakukan medical check up atau pemeriksaan kesehatan. Yakni melalui pemeriksaan EKG, pemeriksaan darah, treadmill, dan sebagainya," kata dr Stanley Panggabean,SpJP FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Awal Bros Batam.

Beberapa hal yang patut dihindari adalah membiarkan lemak darah tinggi, mengidap darah tinggi, kencing manis, perokok, kegemukan atau over weight, pola dan gaya hidup sedentary, dan sebagainya.

Selain itu, hindari juga mandi dingin, terpapar hawa atau angin kencang sewaktu berjalan kaki, tidak mengedan kuat sewaktu buang air besar, makan kelewat kenyang, kurang waktu jeda, minum obat tidak sesuai jadwal atau dengan dosis memadai. Termasuk mewaspadai pola kegiatan seksual yang kelewat hot, serta menjauhkan olahraga statis misalnya angkat beban, menggotong barang berat.

Jangan abaikan pula keluhan perut jika tahu mengidap penyakit jantung karena gangguan perut bisa merupakan bagian dari gejala penyakit jantung juga. Jika pernapasan kurang lapang, mendadak sesak napas, mudah letih, dan tiba-tiba jantung berdebar tanpa sebab. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda