08 Mei 2008

Hipotiroid Bawaan bisa Sebabkan Tubuh Kerdil

BAHAGIA dan lega rasanya ketika buah hati lahir dengan selamat. Rasa khawatir selama masa kehamilan telah berlalu. Apalagi, bila secara fisik buah hati terlahir sempurna. Namun, kelegaan orangtua tersebut tetap saja menyisakan tanya. Apakah nanti bayinya bisa tumbuh secara sehat dan sempurna?

Pertanyaan itu wajar mengingat belakangan ini berita tentang pertumbuhan anak yang tidak sempurna atau abnormal kerap menghiasi pemberitaan media massa. Baik pertumbuhan secara fisik maupun perkembangan mental.

Gangguan pertumbuhan fisik biasanya terlihat pada kondisi dimana anak tak bisa tumbuh maksimal yang akhirnya menjadi kerdil. Sementara gangguan perkembangan mental berdampak pada terjadinya keterbelakangan mental.

"Keterbelakangan mental berat dan gangguan pertumbuhan bisa disebabkan hipotiroid bawaan (congenital) atau kekurangan hormon tiroid,"jelas Etik Purwati, Kepala cabang Prodia Batam.

Hormon tiroid itu sendiri berfungsi mengatur perkembangan mental serta pertumbuhan tubuh kita. Dan bila bayi kekurangan hormon ini bisa menyebabkan keterbelakangan mental atau bisa juga kretinisme atau kerdil.

Bila melihat dari kasus yang terjadi selama ini, angka kejadian pada kelainan ini dinilai cukup tinggi. Yakni satu dari setiap 4.000 bayi yang lahir menderita hipotiroid kongenital.

Hipotiroid bawaan terbagi menjadi dua yakni bersifat permanen dan sementara. Penyebabnya antara lain, kegagalan pembentukan kelenjar, ketidaksempurnaan pembentukan hormon meskipun kelenjar tiroidnya normal, atau bisa juga gangguan pada otak dalam pengaturan produksi hormon.

"Kelainan hipotiroid yang bersifat sementara umumnya akibat ibu hamil menggunakan obat-obatan yang menekan produksi hormon tiroid. Atau adanya antibodi tiroid yang diproduksi ibu selama kehamilan serta bisa juga karena kelebihan yodium yang dikonsumsi ibu selama hamil dan menyusui,"ungkap Etik. (*)



Lakukan Pemeriksaan TSH Neonatus

MENGINGAT dampak hipotiroid bawaan sangat mempengaruhi kehidupan buah hati di masa mendatang, orangtua harus melakukan pemeriksaan secara cepat bila menemukan keanehan pada bayi yang baru dilahirkannya.

Sebab, bila kelainan diketahui sedini mungkin serta segera dilakukan pengobatan, bisa membuat anak tumbuh secara normal. Baik dari sisi fisik maupun mentalnya.
Lantas, bagaimana caranya kita bisa mengetahui apakah bayi kita menderita hipotiroid bawaan atau tidak? Sebab, kebanyakan bayi dengan hipotiroid bawaan tampak normal saat lahir hingga berusia tiga bulan.

"Beberapa gejala klinis yang bisa menjadi tanda antara lain, lesu, susah makan, tangisan parau, jaundice atau kuning, susah buang air besar, pembesaran lidah, atau perut membesar dengan hernia pada pusar,"kata Etik Purwati, Kepala cabang Prodia Batam.

Mengingat gejala-gejala tersebut bisa juga terjadi pada bayi normal, cara yang paling baik untuk memastikan apakah bayi mengalami kelainan hipotiroid bawaan adalah melalui tes darah di laboratorium. Yaitu lewat pemeriksaan TSH Neonatus.

Di negara-negara maju, pemeriksaan ini wajib dilakukan pada bayi baru lahir. Dan biasanya masuk paket pemeriksaan New Born Screening Test. Dan mengingat angka kejadiannya di Indonesia cukup tinggi, kini pemeriksaan TSH Neonatus sudah masuk dalam pemeriksaan New Born Screening Test.

Selain TSH Neonatus, pemeriksaan lain yang juga masuk dalam pemeriksan New Born Screening Test di Indonesia adalah G6PD Neonatus.

"G6PD Neonatus merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk melihat ada tidaknya kelainan kekurangan enzim G6PD. Yakni enzim yang sangat berguna untuk mempertahankan umur sel darah merah,"jelasnya.

Jika seseorang kekurangan G6PD, terutama pada bayi, maka sel darah merah akan berumur pendek. Padahal sel darah merah memiliki banyak fungsi seperti mensuplai oksigen ke otak dan sel-sel tubuh lain. Jika sudah begitu, fungsinya akan menjadi kurang maksimal.

"Kurangnya suplai oksigen ke otak akan mengakibatkan komplikasi neurologik atau kelainan syaraf yang cukup berbahaya bagi anak. Saat ini angka kejadian kekurangan enzim G6PD atau defisiensi G6PD kurang lebih 400 juta orang di seluruh dunia,"ungkapnya. (*)



Lakukan Tes Saat Bayi Berusia Tiga Hari

GUNA mengetahui secara pasti apakah bayi yang baru dilahirkan memang benar-benar sehat tanpa gangguan tertentu, new born screening test sangat penting untuk dilakukan. Sebab, hasil tes darah melalui laboratorium akan memberikan hasil yang lebih akurat.

Lalu, kapankah waktu yang tepat bagi bayi untuk menjalani pemeriksaan new born screening test agar hasilnya optimal?

"Pemeriksaan sebaiknya dilakukan saat usia bayi 72 jam atau tiga hari. Sebab, sebelum usia 72 jam bisa saja hasilnya abnormal palsu. Itu karena, umumnya sebelum usia 48 jam, kadar beberapa hormon masih dipengaruhi keadaan sebelum kelahiran dan kondisi ibu,"ujar Etik Purwati.

Khusus bayi yang lahir prematur, pemeriksaan sebaiknya dilakukan saat usia bayi tujuh hari atau bisa juga sesuai perkiraan dokter anak yang merawatnya.

Dalam proses pemeriksaan New Born Screening Test tersebut, bayi akan diambil sedikit sample darah dari salah satu tumitnya atau dikenal dengan metode heelprick. Darah berupa tetesan dalam kertas saring khusus tersebut akan segera dikirim ke laboratorium yang bisa mengerjakan pemeriksaan tersebut.

"Pengambilan sample darah biasanya dilakukan perawat khusus atas pengawasan dokter anak yang menangani. Jika hasil pemeriksaan positif, dokter biasanya akan mengulang pemeriksaan untuk lebih meyakinkan atau melakukan pemeriksaan lanjutan bila diperlukan,"terangnya.

Jika hasil diagnosis menujukkan bahwa bayi tersebut mengidap salah satu penyakit apakah hipotiroid bawaan atau defisiensi G6PD, maka dokter akan memberitahu langkah yang harus dilakukan. Termasuk konseling genetik terhadap orangtua.

Melalui pengobatan intensif dan penanganan yang baik, bayi bisa tetap tumbuh normal dan sehat sesuai dambaan setiap orangtua. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda