10 Mei 2008

Jangan Abaikan Anggaran Sosial

foto by internet
SEBAGAI makhluk sosial, keinginan bersosialisasi dan bergaul dengan orang lain perlu dilakukan guna menjalin keakraban dengan sesama. Dan tidak jarang proses sosialisasi tersebut memerlukan perekatan melalui keterlibatan seseorang dalam berbagai kegiatan berbau sosial.

Misalnya saja berpartisipasi menyumbang sejumlah uang untuk membayar iuran RT, menyumbang pembangunan masjid, hingga harus memenuhi undangan tetangga yang sedang memiliki hajatan. Baik pernikahan, menyambut kelahiran anak atau memenuhi undangan ulang tahun anak tetangga.

Meski sekilas terlihat sepele dan jumlah rupiah yang harus dikeluarkan tidak terlalu fantastis, tapi tanpa disadari akumulasi rupiah tersebut ternyata bisa menjadi angka yang lumayan besar. Apalagi bila seseorang mendapat banyak undangan lantaran banyaknya relasi yang dimiliki.

Lantas, apakah besarnya akumulasi dana yang harus dikeluarkan sebagai "biaya sosial" ini harus diplotkan dalam satu pos anggaran khusus agar tidak mengganggu anggaran lain?

"Bagi yang memiliki dana lebih, penyediaan pos yang khusus digunakan untuk biaya sosial sah- sah saja dilakukan. Bahkan, penyediaan pos itu akan sangat memudahkan pengaturan keuangan keluarga," terang Lusiana, Pengamat Keuangan Keluarga Kota Batam.

Hanya saja, terkadang ada rumah tangga yang memiliki anggaran mepet dan sangat susah untuk diberikan pos baru. Jangankan untuk membuat alokasi khusus dana sosial, biaya untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat sulit mengaturnya.

Meski begitu, bukan berarti pemilik anggaran terbatas bisa mengabaikan pengeluaran dana ini. Sebab, bagaimanapun juga dana ini tetap dibutuhkan agar kita tidak menjadi orang yang dikucilkan apalagi dianggap sebagai orang yang pelit.

"Alternatif yang bisa diambil untuk mensiasati keterbatasan anggaran adalah dengan memperketat pengeluaran rutin yang sifatnya fleksibel. Sehingga, dana yang tersisa bisa dialokasikan sebagai anggaran sosial," terang Lusi.

Pengeluaran yang dimaksud adalah pengeluaran rutin yang jumlahnya tidak tetap. Misalnya biaya listrik, air, telepon, uang jajan anak, anggaran dapur, dan sebagainya. Walau anggaran ini merupakan anggaran rutin, tetapi jumlahnya masih bisa dikontrol dengan menekan pemakaian. Misalnya hemat menggunakan listrik, membawakan bekal anak agar uang jajan bisa dikurangi dan sebagainya.

Dan sisa anggaran yang biasa dikeluarkan tersebut bisa dialihkan sebagai biaya sosial seperti membeli kado saat ada undangan, menghadiri reuni dengan teman, dan sebagainya. (*)



Hindari Gengsi yang Menjebol Kantong

GENGSI merupakan satu hal yang bisa membuat anggaran rumah tangga yang telah disusun menjadi berantakan. Sebab, bermula dari gengsi seseorang sanggup mengeluarkan banyak uang meskipun sebelumnya tidak dianggarkan. Dan kondisi ini bisa juga terjadi pada anggaran sosial.

Misalnya, seseorang merasa akan malu jika harus menyumbang sedikit karena takut dibilang "orang susah" di lingkungannya. Rasa malu tersebut akhirnya membuat orang bersangkutan rela merogok kocek terlalu dalam dan merelakan anggaran lain hanya karena ingin dibilang kaya atau dermawan.

"Untuk urusan gengsi hal itu mutlak kembali pada diri masing-masing orang. Hanya saja, bila memang jumlah yang akan dikeluarkan bisa berdampak pada terganggunya anggaran keluarga, sebaiknya kita membuang jauh-jauh rasa gengsi tersebut. Kalau kemampuan kita hanya pada jumlah x rupiah jangan pernah mengeluarkan lebih dari itu. Apalagi sampai mengganggu anggaran lain," terang Lusiana.

Sebelum mengeluarkan dana yang sifatnya tidak tetap apalagi tidak masuk dalam anggaran keluarga, ada baiknya mempertimbangkan jumlah yang akan dikeluarkan tersebut. Apakah nantinya akan mengganggu keuangan keluarga atau tidak.

"Penting untuk mempertimbangkan apakah jumlah yang akan dikeluarkan tersebut bisa menggugat kondisi keuangan kita atau tidak. Bila memang menggugat kondisi keuangan, sebaiknya dikurangi dan disesuaikan dengan kemampuan kita. Tak perlu memikirkan gengsi jika memang jumlahnya tidak terjangkau," terangnya.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam pengaturan keuangan adalah penyediaan pos khusus emergency. Sebab, keberadaan pos ini bisa membantu kita saat membutuhkan dana secara mendadak. Termasuk ketika ada undangan yang harus dihadiri secara mendadak.

Selain itu, terjadinya musibah seperti kerabat atau orangtua sakit di luar kota sehingga kita harus pergi ke kota tersebut. Kondisi ini akan sangat terbantu dengan keberadaan anggaran emergency. (*)



Perkirakan Jumlahnya Setiap Bulan

MESKIPUN jumlah yang harus dikeluarkan sebagai dana sosial selalu saja tidak tetap setiap bulannya, tetapi sebenarnya anggaran ini masih bisa dikendalikan atau bahkan diantisipasi sebelumnya. Yang paling penting, kita memiliki cara yang pas untuk mengendalikan pengeluaran ini.

Nah, untuk membantu Anda mengendalikan biaya sosial, di bawah ini ada sejumlah tips dari Safir Senduk, pakar perencana keuangan, yang dikutip dari situs perencana keuangan.

1. Perkirakan jumlah kebutuhan biaya sosial

Meski ada beberapa kebutuhan biaya sosial yang sifatnya tak terduga, tetapi sebenarnya ada beberapa jenis biaya yang bisa diperkirakan sebelumnya. Misalnya iuran RT/RW atau arisan ibu- ibu. Karena sifatnya rutin, jumlahnya sudah bisa dihitung sebelumnya.

Begitu juga dengan perkiraan jumlah undangan yang bakal diterima setiap bulannya. Perkiraan tersebut akan membantu Anda menyusun besaran dana yang dibutuhkan untuk masing-masing amplop. Sementara untuk pengeluaran lain yang tidak terduga, bisa disusun dengan perkiraan yang mendekati angka yang harus dikeluarkan tiap bulannya.

2. Susun daftar prioritas

Setelah total perkiraan dana yang dibutuhkan sudah di tangan, langkah selanjutnya adalah menetapkan prioritas. Apa saja biaya yang menjadi prioritas penting dan mana yang bisa ditaruh di urutan paling bawah.

Penetapan prioritas ini bisa dilakukan dengan mempertimbangkan sanksi sosial yang bakal diterima jika anggaran itu tidak dipenuhi. Selanjutnya, tempatkan komponen biaya yang benar-benar tak terduga dalam urutan terakhir di daftar prioritas Anda. Cara ini akan memudahkan Anda dalam menyusun prioritas biaya sosial.

3. Sesuaikan daftar prioritas dengan anggaran

Setelah daftar prioritas tersusun, sesuaikan dengan anggaran tersedia. Caranya, sisihkan sejumlah uang untuk kebutuhan biaya sosial Anda. Kemudian, poskan uang tersebut sesuai urutan prioritas. Jika dana tersedia tidak cukup tentu saja akan ada komponen-komponen biaya sosial yang harus direlakan untuk dicoret dari daftar.

4. Jangan ragu untuk mengatakan 'Tidak'

Bila Anda telah menyesuaikan daftar prioritas biaya sosial dengan anggaran, maka yang harus Anda lakukan sekarang adalah mematuhi daftar tersebut. Artinya, sebisa mungkin biaya sosial yang Anda keluarkan setiap bulan jangan sampai menyimpang dari anggaran yang sudah Anda susun sendiri.

Seringkali, setelah anggaran disusun rapi, selalu ada saja 'godaan' yang muncul, yang intinya 'memaksa' kita untuk keluar uang lagi demi biaya sosial yang malah di luar anggaran. Tipsnya adalah, kalau memang kebutuhan di luar anggaran tersebut dirasa sangat mendesak dan 'wajib' dipenuhi, Anda sebaiknya tetap mengeluarkan dana untuk keperluan itu.

Konsekuensinya, akan ada pos lain dari anggaran yang harus dipangkas untuk menggantikannya. Tapi, kalau kebutuhan di luar anggaran itu dirasa tidak mendesak, Anda harus bisa mengatakan 'TIDAK' kepada pihak yang meminta Anda menyumbang, misalnya. Ada banyak seni untuk menolak permintaan tersebut supaya pihak yang meminta tidak tersinggung atau marah. Ya, pinter-pinternya Anda-lah. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda