17 Mei 2008

Saat Anak Harus di Penitipan Anak

Penitipan anak kerap jadi alternatif orangtua yang bekerja.
PENITIPAN anak atau biasa disebut child day care belakangan menjadi alternatif terakhir pasangan orangtua yang super sibuk dan hampir tak ada waktu mengurus buah hati mereka. Sebab, di tempat ini, anak memiliki pengasuh yang akan mengawasi sang anak sejak pagi hingga sore hari.

Meski saat ini banyak tempat penitipan anak (TPA) yang menawarkan fasilitas lengkap plus pendidikan tambahan, tetapi bimbingan orangtua dinilai para pakar tetap jauh lebih bagus. Namun, bila menitipkan anak merupakan langkah terakhir yang harus diambil, orangtua harus tetap memperhatikan serta menyeimbangkan kebutuhan emosional anak.

"Agar anak tetap merasa dekat dengan orangtuanya, jangan sekalipun mengabaikan kebutuhan emosional anak. Dengan begitu akan tercipta hubungan emosional antara keduanya. Sebab, bagaimanapun juga hubungan antara orangtua dan anak berbeda dibandingkan antara anak dengan pengasuh," jelas Agung B Siregar, Psi, Psikolog Kota Batam.


Apalagi, pemenuhan kebutuhan emosional tersebut bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Bisa dengan jalan-jalan ke mal, main game bareng, liburan ke pantai, bahkan bisa juga hanya dengan mengobrol. Karena selama mengobrol, antara anak dan orangtua akan terjalin komunikasi.

"Saat anak berada di penitipan mulai pagi hingga jam lima sore, mereka berada di tangan orang lain yang saat itu berperan sebagai pengasuh. Itu artinya orangtua hanya memiliki sedikit waktu bersama buah hati. Jika waktu yang tersisa tersebut tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan emosional anak, dikhawatirkan hubungan keduanya akan jauh," jelasnya.

Bukan hanya masalah emosional, keputusan untuk menitipkan anak juga harus mempertimbangkan usia si anak. Bagi anak yang telah berusia di atas tiga tahun, sebaiknya tidak dititipkan di TPA. Itu karena saat usia tersebut anak sudah dapat membedakan mana orangtua dan mana pengasuh. Sehingga, bisa jadi anak susah menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. (*)



Perhatikan Pola Asuh

SEBELUM memutuskan untuk memasukkan anak pada tempat penitipan anak (TPA), ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan terutama terkait kebutuhan psikologis anak. Sebab, tak bisa dipungkiri bila belakangan TPA atau Child Day Care justru menjadi tren atau mode tanpa memperhatikan kebutuhan anak yang sebenarnya.

Bahkan, tidak sedikit orangtua yang menitipkan anaknya karena tidak ingin repot mendidik anak atau mengajari berbagai ketrampilan bagi sang buah hati. Mereka berpikir semakin cepat memasukkan anak pada Child Day Care semakin cepat pula anak pintar.

"Dalam memilih TPA, orangtua sebaiknya mempelajari dulu bagaimana pola pengasuhan anak. Sehingga, begitu anak kembali ke rumah tidak akan terjadi perubahan cara mengasuh yang begitu besar," terang Psikolog Batam, Agung B Siregar, Psi.

Apabila pola pengasuhan orangtua terutama ibu dengan cara yang lemah lembut, sebaiknya mencari TPA dengan pola yang sama. Selain itu, program-program apa yang diberikan pada anak selama dalam masa pengasuhan (jika ada-red) juga mesti diperhatikan.

Sebab, pemberian materi yang terlalu cepat dibanding usia anak akan berdampak kurang baik bagi mereka. Itu karena setiap materi pendidikan harus disesuikan dengan usia anak. Materi berhitung misalnya, belum boleh diberikan untuk anak di bawah enam tahun dan lain sebagainya.

Jika melihat hasil penelitian para ahli, kebutuhan dasar anak pada masa bayi (baru lahir) sampai kurang lebih satu tahun terbagi menjadi dua yakni kebutuhan yang bersifat biologis dan psikologis. Kebutuhan biologis, seperti makan, minum, pakaian, dan segala urusan pencernaan. Sedangkan kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman, merasa diri dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan untuk dilindungi.

Karenanya, diperlukan figur orangtua dan pola pengasuhan yang konstan dan stabil sehingga sang anak bisa mempercayai dan meyakini bahwa orang tuanya selalu siap menanggapi kebutuhannya. Jika ternyata dalam prosesnya terjadi hambatan yang menyebabkan hubungan antara keduanya terganggu, misalnya orangtua terlalu sibuk, maka sang anak akan berpikir dirinya tak lagi dicintai. Anak berpikir begitu karena pola pikir mereka yang masih egosentris.

Masalahnya, anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang konstan di tahun pertama kehidupannya, akan tumbuh basic mistrust dalam diri mereka. Ia akan merasa kurang percaya diri (karena dia menghadapi kenyataan berdasarkan persepsinya bahwa dirinya ditolak atau pun diabaikan) dan kurang dicintai oleh orangtuanya.

Anak tersebut juga akan tumbuh menjadi orang yang sulit mempercayai orang lain karena semasa kecilnya ia tidak menerima kehadiran orang tua yang konstan, stabil dan predictable. Ketidakmampuan untuk mempercayai baik diri sendiri maupun orang lain berpotensi menjadi masalah di kemudian hari jika persoalan ini tidak diselesaikan sejak dini.

Dengan dasar tersebut, orangtua bisa berfikir kembali apakah anak memang harus dititipkan pada TPA atau lebih bagus diawasi sendiri. Jika pilihan kedua merupakan jalan terbaik, bisa memanfaatkan jasa baby sitter sebagai pendamping orangtua di rumah.

"Meski keberadaan baby sitter tidak akan sebaik diasuh sendiri, tetapi setidaknya orangtua akan lebih mudah dalam hal pengawasan maupun pengarahan pola asuh yang sesuai dengan keinginan orangtua," jelas Agung. (*)

1 komentar:

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://keluarga.infogue.com/jangan_abaikan_kebutuhan_emosional_anak

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda