17 Mei 2008

Jangan Biarkan Anak Suka Bicara Jorok

PERNAHKAH Anda mendapati si kecil tiba-tiba mengucapkan kata-kata kasar atau jorok saat mereka sedang kesal atau bercanda? Jika iya, hal tersebut patut diwaspadai. Sebab, meski terkadang anak tidak mengerti makna kata jorok yang dia ucapkan, bila dibiarkan bisa jadi kebiasaan.

"Saat anak sedang belajar bicara, mereka lebih banyak meniru apa yang ada di sekelilingnya. Itu wajar karena dalam usia belajar, anak akan sangat mudah menyerap segala macam frase yang mereka dengar,"jelas Agung B Siregar, Psikolog Anak kota Batam.

Menurut para ahli, kata-kata kotor dan umpatan biasanya dikenal sebelum usia enam tahun. Pada usia yang masih sangat muda ini, umumnya anak masih belum memahami arti perkataannya. Namun demikian, mereka gemar mengucapkan kata-kata tersebut. Apalagi saat melihat reaksi orang-orang yang ada di sekelilingnya saat kata-kata tersebut diucapkan.

"Sebisa mungkin orangtua dan orang yang ada di rumah menghindari menggunakan kata-kata yang tidak sepadan untuk anak-anak. Meskipun tidak tertutup kemungkinan anak mendapatkan kata-kata kasar dan jorok dari oranglain,"katanya.


Agar anak tidak melanjutkan kebiasaan kurang terpuji tersebut dibutuhkan peran aktif dari orangtua. Dan sebisa mungkin orangtua harus selalu mengingatkan anak agar tidak berkata kasar dan kotor.

"Perlu tindakan tegas dari orangtua agar anak tidak melanjutkan kebiasaan melontarkan kata-kata kotor. Bahkan jika memungkinkan minta setiap orang dewasa yang berdekatan dengan anak untuk selalu mengingatkan saat anak mengucapkan kata-kata kotor,"ungkapnya.

Sebut saja kerjasama dengan pengasuh anak, pembantu, atau bahkan dengan guru bila anak sudah sekolah baik playgroup maupun taman kanak-kanak. Melalui kerjasama dengan orang dewasa diharapkan kontrol terhadap anak bisa dilakukan dengan lebih ketat. (*)



Jangan Hukum Anak

MEMANG tidak menyenangkan menghadapi kenyataan anak yang biasanya bersikap manis dan sopan tiba-tiba memiliki kebiasaan berkata kotor berbau porno maupun umpatan. Namun bila ternyata Anda harus menghadapi kondisi tersebut sebisa mungkin jangan menghukum anak.

"Yang bisa dilakukan orangtua adalah memberikan peringatan tegas agar anak tidak kembali mengucapkan kata-kata yang tidak pantas dan tidak senonoh,"jelas Agung B Siregar, Psikolog Anak kota Batam.

Mengingat anak belum mengerti benar makna kata-kata yang dilontarkannya, orangtua jangan menghukum anak. Apalagi dengan tindakan kekerasan seperti memukul atau menampar anak dengan harapan anak akan kapok.

Sebab, tindak kekerasan yang dilakukan orangtua tersebut justru bisa memunculkan trauma yang mendalam pada anak. Jalan yang paling bijak agar anak tidak mengulangi perbuatannya adalah dengan memberikan contoh bagaimana berkata-kata dengan baik.

Apalagi, bukan tidak mungkin orangtua kelepasan berbicara kata-kata yang sebenarnya kurang pantas didengarkan anak kecil. Keteledoran orangtua tersebut bisa memunculkan kemungkinan anak menirukan ucapan orangtua.

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tidak memberikan teladan berbicara yang baik dan benar, akan dengan entengnya mengucapkan kata-kata apa pun yang didengarnya. Apalagi jika lingkungan itu justru menunjukkan reaksi positif jika anak mengucapkan kata-kata kotor. Misalnya, menyoraki dan menertawakan anak yang berkata-kata kotor. Tindakan itu akan membuat anak merasa senang dan mendapat dukungan jika mengucapkan kata-kata kotor. (*)



Selektif Pilih Program Televisi

HAL lain yang tak boleh diabaikan agar anak terbebas dari kebiasaan mengungkapkan kata-kata kotor adalah selektif dalam memilih tayangan televisi. Sebab, dari kotak elektronik ini anak bisa mendapatkan aneka kosakata termasuk kata-kata jorok dan kotor.

"Jika anak memang akan menonton televisi, sebisa mungkin orangtua mendampingi mereka. Sehingga bila ada kata-kata kasar dan jorok yang tak layak diucapkan, orangtua bisa langsung mengingatkan anak,"kata Agung B Siregar.

Maraknya tayangan yang menyampaikan kata-kata vulgar berbau umpatan tentu saja meresahkan orangtua yang memiliki anak khususnya anak balita. Sebab, meski mereka tidak tahu makna kata-kata yang didengarnya kadang anak tetap saja menirukan apa yang ditangkapnya.

Bahkan sekarang ini ada juga program televisi anak-anak tapi di dalamnya berisi kata-kata yang kurang pantas untuk didengat anak-anak. Misalnya film kartun atau film anak-anak lainnya. Seleksi tayangan televisi yang ketat perlu diberlakukan jika memang anak akan mengadopsi perbendaharaan kata-kata kotor dari televisi.

Bukan hanya tayangan televisi, lirik-lirik lagu yang kadang berisi kata-kata kurang pantas dinyanyikan anak-anak juga harus diwaspadai. Begitu juga aneka buku-buku bacaan baik buku cerita ataupun komik. Tidak jarang dalam buku tersebut tercantum kata-kata yang sebenarnya kurang pantas jika diucapkan anak. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda