12 Mei 2008

Jangan Marahi Anak Saat Mereka Bersalah

ULAH anak yang kadang membuat kesal memang selalu menguji kesabaran para orangtua. Apalagi bila buah hati merupakan tipe anak yang cenderung sulit untuk diarahkan. Meski sudah diberi penjelasan berkali-kali tetap saja anak melakukan hal yang dilarang oleh orangtuanya.

Namun, sebagai orangtua tentu saja tidak dibenarkan memarahi anak secara membabi buta apalagi disertai agresi seperti memukul maupun mencubit. Selain hasilnya tidak efektif, anakpun justru berpotensi meniru perbuatan orangtua yakni melakukan tindakan agresi.

"Untuk mengarahkan anak agar tidak melakukan kesalahan tidak harus dilakukan dengan kemarahan. Meski harus diakui kondisi orangtua memang jarang berada dalam posisi emosi yang stabil dan bisa terus bersikap baik,"terang Evy Rakryani, Psikolog kota Batam.


Ketidakstabilan emosi orangtua tersebut terkadang bisa memicu rasa marah orangtua pada anak. Terlebih bila orangtua kurang memiliki kemampuan mengelola rasa marah agar tidak keluar secara tidak terkendali.

"Cara paling efektif untuk mengendalikan anak tanpa harus menumpahkan kemarahan atau bahkan tindakan agresif adalah dengan mengajak anak berdiskusi dan memberikan penjelasan disertai alasan,"terang Evy.

Sebab, bila anak dilarang tanpa tahu kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, tetap saja anak tidak bisa memahami kenapa harus menurut dengan orangtua. Yang terjadi akhirnya, kalaupun anak mau menuruti larangan orangtua semua itu dilakukan hanya karena takut pada orangtua dan bukan takut akan konsekuensi atas perbuatannya.

Misalnya saja orangtua melarang anak main petasan tanpa disertai penjelasan kenapa mereka tidak boleh main petasan. Ketidaktahuan anak terkait konsekuensi yang bisa diterima anak justru membuat anak memainkan petasan secara diam-diam.

"Larangan tanpa disertai alasan hanya akan berefek rasa takut anak pada orangtua. Dan bila tidak ada orangtua anak akan tetap memainkan petasan secara diam-diam. Itu karena anak memang tidak memahami jika petasan bisa membahayakan keselamatan mereka,"terangnya. (*)



Pahami juga Kebutuhan Anak

MELIHAT anak yang merengek atau bahkan menangis hebat di tengah keasikan Anda berbelanja di mal sudah pasti mengesalkan. Apalagi, bila anak cukup sulit dikendalikan. Semakin diminta untuk diam anak akan semakin menagis menjadi-jadi. Akhirnya, Anda menumpahkan kekesalan dengan memarahi anak.

Tangisan anak yang berbuntut pada amarah dan emosi tersebut sebenarnya bisa dihindari andai saja orangtua tidak mengabaikan kebutuhan anak. Sebab, tak jarang karena asik sendiri, orangtua lupa kalau anak juga punya kebutuhan.

"Saking asiknya jalan-jalan di mal, kadang orangtua lupa memberi makan atau minum susu pada anaknya. Dan karena anak merasa kelaparan atau haus, mereka menangis untuk menyampaikan kebutuhannya. Bila orangtua tidak memahami bahwa tangisan anak adalah cara mereka menyampaikan kebutuhan , orangtua justru memarahi anak,"terang Evy Rakryani.

Sehingga, saat mendapati anak rewel atau merengek terutama anak yang masih belum bisa bicara, sebaiknya orangtua memastikan apakah kebutuhan anak memang sudah terpenuhi atau belum. Sebab, bagaimanapun juga anak memiliki kebutuhan pokok yang jika diabaikan bakal membuat anak merasa tidak nyaman.

"Orangtua berharap kemarahan yang ditimpakan ke anak akan membuat anak memahami bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Padahal kemarahan bukan cara efektif untuk mendiamkan anak dari tangisan dan rengekan. Bahkan, rasa marah itu justru bisa memperparah tangisan anak,"katanya.

Sementara, untuk "mengendalikan" anak yang sudah lebih besar bisa dilakukan dengan menjalin komunikasi. Misalnya anak ngambek minta sesuatu, jangan lantas orangtua marah tak karuan. Sebab, kemarahan orangtua justru akan membuat anak semakin merajuk. Akan lebih tepat bila orangtua menanyakan keinginan anak dan berdiskusi untuk mencari jalan keluarnya. (*)



Ajari Anak Selesaikan Konflik dengan Damai

RASANYA orangtua ataupun seisi rumah tidak pernah mempertontonkan adegan pemukulan jika sedang marah. Tapi kenapa ya si kecil selalu melakukan agresi berupa pukulan atau gigitan saat marah?

Jika Anda juga mengalami hal tersebut langkah terbaik adalah segera mencari solusi agar kemarahan anak tidak selalu berakhir dengan pukulan atau gigitan. Sebab, darimana si anak mendapat pelajaran memukul tak lagi penting dibandingkan dampak yang bisa ditimbulkan jika tindakan agresi anak semakin 'parah'.

"Bila seisi rumah tidak pernah mencontohkan anak untuk memukul saat marah, bisa jadi anak belajar dari luar. Bisa belajar dari lingkungan sepermainan ataupun tayangan televisi. Sehingga, hal penting yang harus segera dilakukan orangtua adalah mendisiplinkan anak dari tindakan agresi tersebut,"terang Evy Rakryani.

Upaya pendisiplinan tersebut harus dilakukan sedini mungkin. Bahkan kalau bisa orangtua tidak boleh mentolerir tindakan penyerangan yang dilakukan anak saat marah. Hanya saja, untuk mendisiplinkan anak, jangan sampai dilakukan dengan pukulan.

"Kadang ada orangtua yang justru memukul anaknya dan mengatakan anaknya nakal karena telah memukul adiknya. Padahal, cara tersebut jelas salah. Sebab, anak akan mempersepsikan bahwa anak yang nakal harus dipukul,"ungkapnya.

Cara terbaik yang bisa ditempuh orangtua untuk "mengendalikan" anak yang kerap melakukan agresi saat marah adalah "menarik" anak dari lingkungan di mana dia melakukan agresi dan segera berikan pengertian.

"Ajak anak menjauh dari tempat di mana dia melakukan pukulan atau gigitan. Sambil menatap mata si anak, tegaskan bahwa orangtua tidak menyukai apa yang dilakukan anak. Misalnya memukul adik gara-gara adik mengambil mainan si kakak,"jelasnya.

Jika anak masih tidak menuruti kata-kata orangtua, balikkan kondisi jika orang yang dipukul adalah si anak. Tetap masih menatap mata anak, tanyakan apakah dia mau juga dipukul atau tanyakan kira-kira kalau dipukul itu sakit atau tidak. Dengan feedback tersebut diharapkan anak memahami bahwa yang dilakukan anak adalah salah.

Ajarkan juga pada anak untuk menyelesaikan masalah tanpa harus disertai kemarahan bahkan pukulan. Minta anak melapor pada orangtua jika adiknya mengganggu mainan miliknya. Dengan bantuan ibu, masalah bisa diselesaikan tanpa kemarahan dan pukulan.

"Intinya, orangtua harus mengajarkan bahwa anak tidak bisa menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri tapi bisa minta bantuan orang dewasa baik orangtuanya maupun guru di sekolah,"ungkapnya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda