03 Mei 2008

Kebanyakan Pengawet dan Pewarna Bisa Rusak Hati


ZAT adiktif yang biasa terkandung dalam pengawet maupun pewarna makanan jika dikonsumsi secara terus menerus ternyata bisa mengakibatkan kerusakan hati baik sorosis hingga kanker hati. Celakanya, dampak yang bisa ditimbulkan zat berbahaya ini sifatnya jangka panjang dan akan menyerang manusia akibat rusaknya fungsi hati.

"Hati merupakan organ yang berguna menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh termasuk zat adiktif dalam pengawet makanan, pewarna, pemanis buatan, maupun zat kimia lainnya. Jika jumlah racun tersebut semakin banyak dan bertumpuk secara otomatis akan mempengaruhi kinerja hati sehingga mengakibatkan kerusakan," terang Roziana SST, Ahli Gizi RS Awal Bros Batam.

Untuk menghindari terjadinya kerusakan salah satu organ vital ini bisa dilakukan dengan menerapkan pola makan sehat. Setidaknya dengan mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung berbagai zat adiktif.


"Fast food serta makanan beku merupakan produk yang di dalamnya mengandung zat adiktif. Setidaknya ada pengawet, pewarna, hingga pemberi rasa. Untuk menghindari penumpukan zat tersebut dalam tubuh sebaiknya menghindari konsumsi makanan ini dalam jumlah yang banyak. Atau jika memungkinkan lebih baik mengonsumsi makanan dari bahan alami," terang wanita lulusan Universitas Brawijaya ini.

Produk lain yang cukup berbahaya bagi kinerja hati adalah minuman beralkohol, minuman penambah energi serta bersoda, dan jamu instant yang banyak dijual di pasaran. Dibandingkan produk fast food, bahaya yang diakibatkan aneka minuman ini jauh lebih besar.

Hal senada juga disampaikan dr Muhammad Askar dari Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB). Untuk menghindari kerusakan organ tubuh seperti hati akibat keracunan, masyarakat harus pandai memilih makanan yang sehat dan tidak membahayakan tubuh.

"Di pasaran cukup banyak makanan yang mengandung zat berbahaya dan zat pemicu kanker atau karsinogenik. Karenanya masyakat harus pandai memilih makanan tak hanya dari tampilan saja tetapi juga kandungan apa saja yang terdapat dalam makanan. Biasanya daftar kandungan itu bisa dijumpai dalam kemasan makanan," terangnya.

Selama ini, tidak sedikit konsumen yang kurang memperhatikan kandungan makanan yang akan dikonsumsinya. Paling banter konsumen hanya mempertimbangkan kehalalan atau izin Departemen Kesehatan (Depkes). Padahal, dari tabel tersebut mereka dapat menilai apakah makanan tersebut layak konsumsi atau tidak. "Selain konsumen, produsen penghasil makanan juga masih banyak yang belum menyebutkan zat yang terkandung dalam makanan yang dibuatnya," katanya.

Kejelian lain yang juga masih sering diabaikan konsumen adalah tanggal kadaluarsa makanan. Selain cukup banyak produsen yang terkadang tak mencantumkan masa expire produk, konsumen pun seolah kurang menganggap penting masa berlaku produk yang sebenarnya sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan keracunan tersebut. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda