14 Mei 2008

Nutrisi Penting untuk Perkembangan Otak Anak

ASUPAN nutrisi merupakan hal penting yang tidak boleh diremehkan untuk dipenuhi sesuai kebutuhan tubuh khususnya bagi anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang. Tentunya disesuaikan usia maupun aktivitas harian yang dilakukan. Dan kebutuhan akan nutrisi tersebut bisa diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

"Makanan merupakan sumber nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh. Yakni dengan mengonsumsi makanan pokok, protein hewani dan nabati, sayur dan buah, susu serta makanan selingan. Semakin bertambah usia anak, kebutuhan nutrisi juga semakin meningkat,"dr Dewi Metta SpA, MKes, dokter spesialis anak RS Awal Bros Batam.

Pentingnya mencukupi asupan nutrisi khususnya bagi anak yang sedang bertumbuh tersebut membuat orangtua tidak boleh menganggap enteng keharusan memenuhi kebutuhan nutrisi bagi buah hatinya. Itu karena, tidak jarang orangtua hanya "pasrah" meskipun anak hanya mau mengonsumsi susu tanpa diikuti makanan pokok sebagai sumber utama nutrisi.

"Setelah anak berusia satu tahun, konsumsi susu sifatnya hanya pendamping atau pelengkap saja. Karena yang paling penting adalah memenuhi segala kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak. Baik itu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan sebagainya,"ungkapnya.

Dan bila kebutuhan akan nutrisi tersebut kurang, maka akan berdampak pada lambatnya perkembangan otak, mengurangi jumlah siklus replikasi sel serta menghambat hubungan antar sel. Terutama bila anak kekurangan protein dan energi, Vitamin A, asam folat, zat besi, iodium serta asam lemak esensial.

"Kurangnya gizi pada anak saat pra dan pasca melahirkan akan mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi otak. Sementara jika kekurangan gizi dialami pada trimester dua kehamilan bisa berakibat pada lambatnya pertumbuhan sel saraf. Selanjutnya kurangnya gizi pada kehamilan trimester tiga bisa berefek pada kurangnya jumlah pematangan sel saraf janin,"jelasnya.

Sementara, bila kekurangan gizi dialami saat anak berada di masa kanak-kanak, si kecil bisa mengalami penurunan aktivitas serta kemampuan eksplorasi. Bukan itu saja, bila kekurangan nutrisi terjadi pada masa sekolah, bisa mengurangi daya konsentrasi anak serta membuat anak tidak gembira.

"Anak yang memiliki masalah makan beresiko tiga kali lebih besar mengalami kegagalan tumbuh dan kebanyakan memiliki riwayat kesehatan yang tidak begitu baik di saat bayi,"jelas dokter berjilbab ini. (*)



Jangan Paksa Anak saat tak Ingin

ADA banyak faktor yang bisa membuat anak mengalami masalah makan. Termasuk masalah secara fisik maupun masalah psikis. Itulah kenapa, orangtua harus jeli dan benar-benar memahami penyebab utama yang membuat anak enggan menyantap makanan yang disajikan bagi mereka.

Pemahaman terhadap masalah anak sangat penting agar orangtua tidak cenderung memaksa anak untuk menyantap makanan padahal anak tidak menginginkannya. Karena pemaksaan hanya akan memunculkan trauma pada anak.

"Kesulitan makan bukan hanya karena anak sedang tidak berselera tapi bisa juga disebabkan oleh adanya kelainan organik pada anak. Misal, ada masalah menelan, gangguan pernafasan, kelelahan berlebihan, atau penurunan nafsu makan akibat penyakit akut atau kronik,"ungkap dr Dewi Metta SpA MKes.

Sehingga, orangtua harus benar-benar memastikan apakah anak tidak sedang "bermasalah" misalnya saja sedang mengalami kelainan organik. Sebab, jika memang ada kelainan organik, pastinya harus ada tindakan medis sesuai kelainan yang dialami.

Selain kelainan organik, kondisi psikologis anak juga berperan dalam menumbuhkan selera anak terhadap makanan. Sebut saja kecemasan atau depresi yang dialami, biasanya akan membuat anak enggan makan.

Penyebab lain kenapa anak susah makan di antaraya belum merasa lapar, sedang sakit atau kondisi fisik lainnya, situasi makan yang kurang menyenangkan plus menu yang tidak bervariasi, minum susu terlalu banyak, orangtua yang terlalu memaksa atau adanya sikap negativistik anak.

"Dengan memahami penyebab anak susah makan akan memudahkan orangtua untuk mengatasi masalah tersebut,"kata dr Metta. (*)



Sajikan Makanan Baru Secara Berulang

Agar Anak Suka Variasi Makanan

UNTUK mengatasi kebosanan menu pada anak, orangtua bisa melakukan pengenalan menu baru sebagai bentuk variasi. Hanya saja, terkadang anak akan melakukan penolakan pada menu yang disajikan tersebut. Selain karena perlu adaptasi rasa, tidak setiap anak memiliki selera yang sama.

Nah, bagi Anda yang saat ini sedang berusaha mengenalkan berbagai macam makanan baru sebagai bentuk variasi, berikut ada sejumlah tips dari dr Dewi Metta SpA yang mungkin bisa menjadi panduan sederhana:

1. Kenalkan variasi rasa dan jenis makanan pada dua tahun pertama kehidupannya

2. Sajikan makanan baru secara berulang dan sesering mungkin

3. Jika anak menolak makanan barunya, jangan paksa untuk memakannya atau menghabiskannya.

4. Sajikan makanan baru bersamaan dengan makanan yang biasa disajikan

5. Bersabarlah dan terus mencoba

6. Monitor berat badan dan tinggi badan secara teratur

7. Berikanlah contoh pola makan yang baik dan sehat

8. Bangunlah suasana makan yang nyaman. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda