24 Mei 2008

Osteoporosis tak Hanya Karena Kurang Kalsium

TULANG harus diakui merupakan organ yang menjadi penopang aktivitas setiap orang. Jika terjadi kerusakan pada tulang bisa dibayangkan bagaimana kehidupan orang bersangkutan selanjutnya.

Saat ini, penyakit tulang yang sedang hangat dibahas dan terbukti berhasil merubah pola hidup masyarakat adalah osteoporosis atau penyakit keropos tulang. Selain bisa mengganggu kesehatan dan aktifitas harian penderitanya, penyakit ini juga bisa menyebabkan patah tulang.

Istilah osteoporosis itu sendiri ditemukan ahli patologi Perancis, bernama Jean Georges Lobstein tahun 1929. Yakni ditemukannya suatu keadaan dimana tulang tampak berlubang atau berpori-pori pada kepadatannya.

Pada perkembangannya, dilakukan kesepakatan bahwa yang dimaksud Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana kepadatan tulang rendah dan terjadi kerusakan kecil secara struktur atau mikroarsitektur tulang. Konsisi ini berpotensi meningkatkan resiko terjadinya patah tulang atau fraktur di kemudian hari.


"Osteoporosis merupakan suatu keadaan yang terjadi secara perlahan-lahan yang bila tidak dicegah bisa berakibat sangat fatal bagi tulang kita. Sehingga perlu dicegah dan diwaspadai sedini mungkin,"jelas Etik Purwati, Kepala Cabang Prodia Batam.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, upaya pencegahan yang dilakukan harus tepat sasaran. Mengingat osteoporosis terjadi akibat ketidakseimbangan proses yang disebut remodeling, kekurangan kalsium bukan satu-satunya penyebab terjadinya osteoporosis.

"Kita harus ingat bahwa tulang merupakan satu jaringan hidup, buktinya dia bisa menjadi lebih panjang dan berubah bentuk seiring pertumbuhan manusia mulai bayi hingga dewasa. Sebagai jaringan hidup, tulang akan selalu diperbaharui inilah yang disebut proses remodeling,"ungkap Etik.

Dalam proses remodeling, sel-sel yang sudah tua dibuang dan digantikan sel-sel tulang baru yang lebih kuat. Pembuangan sel tulang tua disebut sistem penyerapan tulang. Hal ini semacam penggerogotan sel tulang yang sudah tua umurnya untuk selanjutnya digantikan sel tulang baru yang disebut proses pembentukan.

Jika terjadi ketidakseimbangan dalam proses penyerapan atau penggerogotan tulang, misalnya lebih cepat atau lebih banyak dibanding proses pembentukan sel tulang baru, maka akan banyak rongga-rongga kosong terbentuk pada massa tulang kita. Jika sudah begitu, tulang tidak bisa sepadat dan sekuat sebelumnya meski dibentuk oleh sel-sel baru. (*)



Menopause bisa Picu Osteoporosis

OSTEOPOROSIS atau kekeroposan pada tulang memang bisa mengenai siapa saja baik laki-laki maupun perempuan. Namun, berdasarkan penelitian, wanita lebih rentan terkena penyakit ini dibandingkan laki-laki.

Itu karena saat wanita mengalami menopause, kadar hormon estrogen dalam tubuh akan berkurang. Padahal, hormon Estrogen pada wanita berfungsi menghambat laju penyerapan atau penggerogotan tulang. Meski proses pembentukan sel tulang baru normal atau tak ada gangguan, tapi bila proses penggerogotan tidak diatur sedemikian rupa, maka tulang akan terus digerogoti.

Pada kondisi lain, baik laki-laki maupun perempuan, di mana orang tersebut memiliki kadar hormon tiroid atau paratiroid yang tinggi, maka proses penyerapan tulang akan meningkat. Itu karena hormon tiroid dan paratiroid merangsang proses penyerapan tulang.

"Mengingat kadar hormon tiroid dan paratiroid dalam tubuh mempengaruhi kondisi tulang, sebaiknya setiap pasien yang memiliki masalah dengan hormon ini atau ingin melakukan terapi hormon konsultasi lebih dulu pada dokter spesialis penyakit dalam,"terang Etik Purwati.

Tak hanya jenis kelamin dan kadar hormon, warna kulit seseorang juga menentukan resiko terkena osteoporosis. Semakin gelap kulit seseorang, maka akan semakin kecil juga resiko terkena osteoporosis.

"Wanita memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan pria. Apalagi bila salah satu anggota keluarga memiliki riwayat osteoporosis, maka resiko terkena penyakit ini akan semakin tinggi,"ungkapnya.

Hal lain yang bisa memicu penyakit osteoporosis adalah pola hidup kurang sehat. Misalnya saja merokok, konsumsi obat dalam jangka waktu lama atau kebiasaan minum obat bebas yang bisa mempengaruhi kerja hati. Sebaliknya, kebiasaan mengangkat beban dan bergerak akan merangsang pembentukan tulang sehingga mencegah osteoporosis. (*)



Tak Cukup dengan Konsumsi Susu

SEKARANG ini berbagai perusahaan penghasil susu semakin gencar mempromosikan susu dengan kandungan kalsium tinggi. Bahkan, tidak jarang perusahaan mengklaim produk susu miliknya bisa mencegah terjadinya osteroporosis.

Yang menjadi pertanyaan, apakah memang benar konsumsi susu berkalsium tinggi bisa mencegah terjadinya osteoporosis? Apakah kalsium adalah satu-satunya pemicu osteoporosis?

"Saat seseorang mengonsumsi kalsium susu, berarti orang bersangkutan telah memberikan suplai bahan pembentuk tulang yang sangat diperlukan dalam proses pembentukan sel tulang yakni kalsium. Sebab, bahan pembentuk tulang adalah kalsium"terang Etik Purwati.

Namun, perlu diketahui bahwa proses pembentukan tulang bukan hanya memerlukan kalsium tapi juga butuh vitamin D. Dan bila seseorang kekurangan vitamin tersebut maka pembentukan sel tulang baru menjadi kurang bagus.

Artinya, konsumsi kalsium susu bisa mencegah osteoporosis sepanjang ketidakseimbangan proses penyerapan hingga pembentukan tulang akibat proses pembentukan kurang baik dan bukan akibat lainnya.

Hal lain yang bisa memicu terjadinya osteoporosis adalah proses pengobatan. Sebut saja, pengobatan asma, penyakit arthritis, penyakit lupus, dan sebagainya. Pada masa pengobatan tersebut terjadi hambatan pada proses pematangan sel tulang yang baru.

"Obat anti kejang juga bisa merusak produksi vitamin D dalam hati. Akibatnya proses penyerapan kalsium terganggu. Selain itu, pemakaian obat anti kejang akan membuat tulang menjadi lunak akibat kekurangan kalsium yang cukup parah,"jelasnya.

Dengan banyaknya faktor penyebab gangguan pembentukan tulang selain kalsium, maka konsumsi susu high calcium tidak akan menyelesaikan masalah. (*)



Lakukan Tes Kepadatan Tulang

UNTUK memastikan apakah seseorang terkena osteoporosis atau tidak, harus dilakukan pemeriksaan medis. Yakni melalui tes densitometri tulang serta tes darah melalui laboratorium.

Tes densitometri merupakan tes yang bertujuan untuk mengetahui atau mengukur kepadatan tulang. Bagi yang ingin melakukan tes ini bisa mendatangi rumah sakit besar atau klinik ternama. Sebab, biasanya tersedia alat untuk menjalani tes tersebut.

Selanjutnya, bagi yang ingin mengetahui keseimbangan biokimiawi tulang, pemeriksaan darah lebih tepat untuk dipilih. Pemeriksaan biokimiawi ini nantinya akan menggambarkan keadaan proses remodeling tulang.

"Nama pemeriksaan laboratorium untuk Osteoporosis adalah kadar CTx dan N-Mid Osteocalcin. Sebelum melakukan pemeriksaan ini pasien sebaiknya melakukan konsultasikan dengan dokter yang menanganinya,"terang Etik Purwati, Kepala Cabang Prodia Batam.

Pemeriksaan CTx bertujuan untuk mengetahui proses penyerapan atau pembongkaran sel tulang, sedangkan N-Mid Osteocalcin adalah penanda untuk proses pembentukan tulang. Kedua jenis pemeriksaan ini sering juga digunakan dokter untuk memantau keberhasilan terapi Osteoporosis.

"Selain pemeriksaan rutin untuk mengetahui kondisi tulang, menjalani pola hidup sehat serta terus mengonsumsi makanan yang diperlukan tulang juga penting dilakukan. Selain itu, peningkatan aktifitas juga perlu agar tubuh bugar dan tulang lebih kuat,"katanya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda