17 Mei 2008

Suami Istri Sekantor? Pisahkan Urusan Kerja dan Rumah


PASANGAN suami istri bekerja dalam satu perusahaan atau satu instansi bukan sesuatu yang aneh ditemui. Meski ada perusahaan yang menerapkan larangan pasangan suami istri bekerja dalam satu perusahaan, tapi ada juga perusahaan yang membolehkan hal tersebut.

Sekilas, pasangan suami istri yang bekerja dalam satu perusahaan memang tak akan menimbulkan masalah. Tapi bila tidak dikelola dengan baik, kerjasama tersebut bisa juga memicu masalah. Khususnya terkait profesionalisme kerja dalam hal memisahkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi.

"Agar pasangan suami istri bisa tetap menjaga profesionalisme dalam bekerja membutuhkan komitmen kuat dari kedua belah pihak. Caranya adalah dengan membuat kesepakatan dari awal, bahwa suami atau isteri harus bisa memisahkan mana urusan kantor atau pekerjaan dan mana urusan rumah," ungkap Sri Susilowati, Psikolog Batam yang juga Senior Executive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.
Bahkan komitmen tersebut sudah harus dibicarakan sebelum mengambil keputusan untuk bekerja dalam satu kantor atau instansi. Sehingga ke depannya semuanya sudah jelas. Jadi kalau ada masalah, baik di rumah maupun di tempat kerja, keduanya tetap bisa bersikap profesional. Salah satu aspek tidak berpengaruh terlalu signifikan terhadap aspek yang lain.

Bila pasangan (suami atau istri) merupakan patner dalam berkarya, sebisa mungkin keduanya harus bisa saling memberikan masukan. Misalnya jika pasangan bekerja tidak maksimal, maka tugas kita untuk memberi masukan (feedback) dengan cara yang baik.

Bantu pasangan untuk menemukan ide-ide atau cara yang lebih baik dalam mencapai apa yang ditetapkan oleh Divisi atau bagiannya. Tidak disarankan untuk mengkritik, tapi lebih baik diberikan masukan. Kritik kadang hanya membuat orang menjadi resistan dan malah menjadi tidak mau berubah.

Jika suami istri berada pada posisi atasan dan bawahan, kondisi ini akan sangat gampang disorot lingkungan. Salah satu pasangan akan selalu dikaitkan dengan subyektivitas, terutama jika menyangkut masalah penghargaan (kompensasi & benefit).

Sehingga, posisi seperti ini sangat tidak dianjurkan. Kalaupun tak bisa dihindari, maka yang harus dilakukan √°dalah memperkuat dan memperjelas sistem. Artinya hubungan kerja dijabarkan secara jelas dan transparan, sehingga koridor profesional dipahami semua orang.

Alhasil, kalau promosi dilakukan terhadap pasangan, maka semua orang tahu bahwa pasangan tersebut memang memiliki kapasitas yang cukup untuk mendapatkan penghargaan tersebut. (*)



Keuntungannya Komunikasi jadi Lebih Lancar

PASANGAN suami istri yang bekerja dalam satu kantor atau instansi sudah pasti memiliki dampak positif dan negatif yang menyertainya. Sebab, bagaimana pun juga pasangan ini memiliki peran berbeda ketika berada di kantor dan saat berada di rumah.

Beberapa kelebihan yang bisa didapatkan bila pasangan bekerja dalam satu kantor antara lain, makin lancarnya komunikasi antar pasangan. Hal itu karena intensitas pertemuan antara keduanya lebih tinggi. Selain itu jika ada masalah yang dihadapi di kantor dapat dilanjutkan di rumah dengan suasana yang lebih santai.

"Bekerja dalam satu kantor juga memunculkan jaminan rasa aman. Misalnya, meminimalkan kesempatan pasangan berselingkuh. Meski bisa saja tetap terjadi, setidaknya ruang untuk melakukan perselingkuhan bisa dipersempit," jelas Sri Susilowati.

Sementara, dari sisi pekerjaan, pasangan juga bisa mendapatkan manfaat lebih yakni bisa menambah kreativitas. Misalnya, jika suami dan istri bekerja pada bidang yang sama membuat keduanya bisa berkolaborasi untuk menghasilkan ide atau karya yang lebih baik. Bahkan keduanya bisa bekerja dengan lebih kompak.

Selanjutnya, melihat sisi negatifnya, bila keduanya ada masalah pribadi terdapat kemungkinan dibawa ke kantor. Hal ini tentu saja dapat mengganggu kinerja (performance) di kantor.

Termasuk jika pertengkaran di rumah terbawa ke kantor sehingga membuat suasana di kantor menjadi tidak nyaman. Kondisi ini pastinya akan mengganggu aktivitas yang lain di kantor. Sebab, biasanya saat orang sedang konflik dan diharuskan bekerjasama, ada kecenderungan untuk ditunda (procrastinate). Yang terjadi akhirnya pekerjaan terbengkalai atau hasilnya tidak maksimal. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda