12 Mei 2008

Terapkan Toilet Trainning Sebelum Usia Pra Sekolah

SAAT memiliki anak balita seseorang pasti sudah tidak kaget dengan aktivitas buang air kecil dan buang air besar (BAB) yang tidak terkontrol. Meskipun saat ini cukup banyak pilihan diapers sebagai pengganti popok, bukan berarti orangtua akan merasa lega dan jauh dari rasa khawatir.

Sebab, bagaimanapun juga si kecil pasti harus belajar untuk menggunakan toilet sebagaimana orang dewasa. Dan jika penggunaan toilet ini tidak diajarkan pada anak, dikhawatirkan hingga memasuki usia sekolah, anak akan terbiasa membuang kotoran di sembarang tempat.

Lantas, sebenarnya kapan waktu yang tepat bagi anak untuk bisa menjalani latihan menggunakan toilet atau toilet trainning?

"Meski sebenarnya bisa diajarkan sejak dini, tetapi toilet trainning sebaiknya diajarkan saat anak sudah memiliki kesiapan. Dan hal tersebut bisa dilihat ketika anak merasakan ingin buang air kecil atau buang air besar," ungkap Evy Rakryani, Psikolog Anak Batam.

Bila anak sudah siap, biasanya anak akan memberikan jeda waktu sebelum buang air besar atau kecil dengan cara berdiam diri dan mengejan. Jika sudah begitu, artinya anak sudah siap untuk diajarkan menggunakan toilet.

"Jika orangtua mendapati anak terdiam saat akan buang air besar atau air kecil sebaiknya segera dibawa ke toilet untuk membuang kotorannya di sana. Hanya saja, jangan membawa anak dengan tergesa-gesa dan penuh kepanikan. Karena kepanikan yang ditunjukkan orangtua justru bisa membatalkan keinginan anak membuang air besar atau kecil," jelasnya.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam pelajaran penggunaan toilet ini adalah orangtua tidak boleh memaksakan kehendak ataupun memarahi anak jika tidak menuruti perintah orangtua untuk BAB di toilet. Sebab, pemaksaan hanya akan memunculkan rasa trauma pada anak.

"Cara yang menyenangkan misalnya dengan mengajari anak sambil bernyanyi justru akan mempercepat kemampuan anak menggunakan toilet. Lain halnya bila anak dipaksa, yang ada anak malah buang air kecil dan BAB secara sembunyi-sembunyi di tempat yang nggak kelihatan karena takut dimarahi," katanya.

Mengenai usia yang bisa jadi patokan memulai toilet trainning, Evy mengatakan saat usia dua tahun anak sudah bisa diajari menggunakan toilet. Hanya saja, toilet training ini harus dilakukan sebelum anak memasuki usia pra sekolah atau masuk playgroup. Biasanya sebelum usia anak empat tahun.

Sebab, bila anak sudah mulai masuk playgroup tapi masih belum bisa BAB atau buang air kecil di toilet tentu saja akan menyulitkan. Baik bagi anak itu sendiri ataupun guru yang mengajar akibat celana yang basah dan kotor atau lantaran anak buang air kecil di sembarang tempat. (*)



Gunakan Pot Sebagai Media Pembelajaran

MENGAJARI anak untuk menggunakan toilet bukan berarti anak harus langsung duduk di atas closet. Apalagi, bila toilet yang dimiliki di rumah menggunakan closet jongkok. Sudah pasti ukuran badan anak yang masih mungil bakal menyulitkannya buang air di tempat tersebut.

"Saat awal mengajari anak untuk menggunakan toilet, orangtua bisa menggunakan pot khusus yang memang dirancang bagi anak untuk buang air besar (BAB) atau pipis di atasnya. Sehingga, toilet trainning bisa diajarkan di luar toilet," jelas Evy Rakryani, Psikolog Anak kota Batam.

Apalagi, sekarang ini pot khusus tersebut sudah mulai dihadirkan dengan model dan gambar yang lucu serta menarik. Sehingga, selama membuang hajat, anak bisa sambil main-main dengan boneka yang terkadang juga dijadikan pernik penghias pot.

Cara lain yang bisa ditempuh untuk mengajari anak menggunakan toilet adalah dengan mengajak anak BAB dan pipis di WC duduk. Sebab, sekarang ini sudah ada dudukan yang memang dirancang untuk membantu anak-anak agar tetap merasa nyaman saat duduk di atas WC karena memang sesuai dengan ukurannya. Tak hanya dari sisi ukuran, modelnya pun tampil menarik dan lucu sehingga bisa menjadi teman bermain anak selama berada di dalam toilet.

"Untuk mengajarkan anak agar mau menggunakan toilet orangtua harus rajin mencoba cara yang mungkin lebih disukai anak. Karena setiap anak memiliki pemikiran serta cara yang berbeda sebelum akhirnya mau menggunakan toilet," katanya. (*)



Hindari Selama Proses Toilet Trainning

1. Jangan berharap terlalu banyak dan terlalu cepat. Karena anak memerlukan waktu untuk belajar

2. Jangan memarahi, menghukum, atau mempermalukan anak jika anak belum berhasil menggunakan pot untuk BAB atau pipis. Karena pembelajaran ini nggak harus langsung berhasil tetapi melalui proses.

3. Jangan menghentikan minumnya hanya karena tidak ingin anak pipis terus. Justru dengan banyak minum, anak akan memiliki waktu banyak untuk belajar menggunakan toilet.

4. Jangan menggunakan cara yang tidak lazim untuk membuat jadwal BAB anak teratur. Misalnya memberikan obat pencahar atau enema. Selain tidak bijaksana tindakan ini akan membahayakan kondisi kesehatan anak

5. Jangan memaksa bila anak memang sedang tak ingin menggunakan pot. Selain itu, jangan mengomel ketika anak tiba-tiba pipis di lantai sebelum sampai pada pot tempat pipisnya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda