12 Mei 2008

Uang Saku Sebaiknya tak Diberikan Harian

MEMBERIKAN uang saku pada anak merupakan hal yang umum dan wajar dilakukan orangtua terutama saat anak memasuki bangku sekolah. Bahkan, tidak jarang orangtua sudah mulai memberi uang saku begitu anak mengenal uang.

Namun, bila anak tidak dibiasakan mengelola uang saku dengan benar, dikhawatirkan anak akan menjadi pribadi yang konsumtif. Sehingga, peran orangtua dalam membantu anak mengelola uang saku mutlak diperlukan.

"Setelah anak menerima uang saku, orangtua bisa memotivasi mereka dengan menanyakan rencana yang telah dibuat terhadap uang tersebut. Berapa uang yang akan dibelanjakan, berapa yang akan ditabung, dan sebagainya," ungkap Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog kota Batam.

Saat orangtua menggali rencana anak terhadap uang saku tersebut, sebisa mungkin orangtua tidak memberikan larangan atau perintah. Kalaupun ingin mengarahkan anak, sebaiknya disampaikan melalui pertanyaan yang mendidik.

Misalnya saat anak ingin menabung sebesar Rp 1.000 dari total uang saku sebesar Rp 5.000, orangtua bisa menanyakan alasan kenapa uang yang ditabung hanya Rp 1.000. Dengan begitu, anak bisa menyampaikan alasan tanpa merasa diatur orangtua.

"Agar anak mudah dalam mengelola uang saku, sebaiknya uang saku tidak diberikan dengan sistem harian. Tapi bisa diberikan tiga hari sekali atau disesuaikan umur anak. Semakin besar anak, uang saku bisa diberikan dalam rentan waktu yang lebih lama," ungkapnya.

Jika uang saku diberikan harian, biasanya jumlahnya akan lebih sedikit. Sehingga, anak lebih sulit membuat perencanaan. Lain halnya bila uang saku diberikan tiga hari sekali atau seminggu sekali. Dengan jumlah yang relatif banyak anak akan lebih mudah membuat perencanaan.

Selain itu, saat uang saku diberikan per hari, anak akan berpikir bahwa uang tersebut adalah uang yang diberikan untuk jajan. Sehingga, anak cenderung menghabiskan uang pada hari itu juga.

Jika nantinya anak berhasil mengelola uang saku, hal penting yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan reward atau penghargaan atas keberhasilan anak. Reward tersebut bukan berbentuk penambahan besaran uang saku pada bulan-bulan selanjutnya, tapi tambahan uang sebagai bonus di akhir bulan.

Misalnya, jika anak menyisihkan uang untuk membeli tas baru, reward yang diberikan bisa berbentuk uang tambahan untuk mewujudkan keinginan anak. Sebut saja tabungan anak baru Rp 40 ribu sementara harga tas Rp 60 ribu, di akhir bulan orangtua bisa menambahkan Rp 20 ribu sebagai bentuk reward terhadap keberhasilan anak. (*)



Ajari Anak Menunda Keinginan

HARUS diakui, mengerem keinginan anak untuk jajan atau perilaku konsumtif lainnya bukanlah perkara mudah. Apalagi, bila lingkungan sekitar dipenuhi orang-orang yang gemar jajan. Baik dari anggota keluarga sendiri maupun teman anak bersangkutan.

Dan jika kebiasaan jajan tersebut tidak segera diatasi melalui pembuatan aturan main, dikhawatirkan anak akan menjadi pribadi yang konsumtif. Meskipun sebenarnya, orangtua tidak akan mungkin bisa melarang anaknya untuk tidak jajan sama sekali.

Satu hal penting yang bisa dilakukan agar anak tidak gemar jajan adalah orangtua harus memberikan contoh yang baik. Yakni sebisa mungkin orangtua jangan jajan. Termasuk membeli makanan jadi atau lauk pauk dengan alasan tidak sempat memasak.
Walaupun kesannya sepele tapi anak belajar dari contoh yang secara tidak langsung diperlihatkan orangtua pada anaknya.

"Selain contoh yang baik, orangtua juga harus mengajari anak untuk menunda keinginan. Tak hanya akan membantu anak mengontrol emosinya, hal tersebut juga bisa membuat anak mengenali mana kebutuhan dan mana keinginan," jelas Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog Batam.

Caranya dengan memberikan alternatif pengganti ketika anak sedang meminta sesuatu. Sebut saja, bila anak minta dibelikan es krim saat itu juga, orangtua bisa mengelabuhinya dengan bujukan untuk membuat es krim sendiri keesokan harinya. Atau meminta anak menunggu hingga kakaknya datang, dan sebagainya.

Ketika orangtua ingin melarang pun, harus disampaikan secara benar. Misalnya disertai alasan logis. Seperti tak boleh makan permen karena anak bisa batuk atau muntaber, dan sebagainya.

"Saat orangtua ingin melarang anaknya, jangan menakut-nakuti anak. Misalnya, kalau anak makan permen giginya dimakan ulat. Hal tersebut justru bisa membuat anak mengalami ketakutan berlebihan atau justru tidak takut sama sekali," jelas Dea, panggilan akrab Bibiana. (*)



Tunjukkan Manfaat yang Diperoleh Anak

MENABUNG menjadi satu di antara alternatif yang bisa ditempuh saat anak belajar menyisihkan uang saku. Sebab biasanya, anak memiliki motivasi tertentu saat ingin menabung.

Agar anak merasakan manfaat yang diperoleh dari kebiasaan menabung, orangtua harus menunjukkannya secara konkret. Misalnya setelah seminggu, sebulan, atau setahun, tabungan tersebut bisa diambil untuk dibelikan sesuatu yang diimpikan anak.

"Dengan melihat manfaat menabung, anak akan semakin terpacu untuk gemar menabung dan menyisihkan uang sakunya untuk disimpan. Lain halnya bila anak hanya diajari menabung tanpa dikasih tahu manfaat apa yang bisa diperolehnya," ungkap Bibiana Dyah Sucahyani.

Untuk mengajarkan kebiasaan menabung pada anak, orangtua bisa mengajak anak pergi ke bank. Sebut saja ketika orangtuanya akan menabung atau saat ingin mengirim uang untuk neneknya.

Jika anak terbiasa melihat orangtuanya menabung, anak akan terpacu untuk ikut menabung yakni dengan menyisihkan uang sakunya. Tentunya dengan harapan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Misalnya untuk membeli pensil, penggaris, buku, atau bahkan mainan.

"Kebiasaan menabung bisa diawali dengan membuat celengan. Setelah jumlahnya banyak, orangtua bisa mengajak anak membawa uangnya tersebut untuk ditabung di bank," katanya.

Berawal dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, anak akan termotivasi menyisihkan uang sakunya untuk ditabung agar bisa membeli sesuatu yang diinginkannya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda