03 Mei 2008

Waspadai Kanker Payudara

KANKER payudara merupakan kanker yang juga menjadi momok dan pembunuh yang cukup ganas. Bahkan untuk tingkat dunia, kanker ini pembunuh wanita nomor wahid yang meninggal akibat kanker. Sementara di Indonesia menduduki peringkat kedua setelah kanker serviks.

Tak ubahnya seperti kanker lain yang tak diketahui penyebabnya secara pasti, kanker ini juga bisa menimpa siapa saja. Termasuk kaum lelaki. Meskipun presentasinya tidak terlalu besar dibandingkan penderita perempuan yakni hanya 1 dari 1.000 laki-laki.

Kanker payudara (Carcinoma mammae) itu sendiri merupakan suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh World Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD).

Mengenai gejala klinis yang ditunjukkan kanker payudara adalah adanya benjolan pada payudara yang umumnya tidak terasa nyeri. Benjolan yang mula-mula kecil itu makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit. Benjolan juga bisa menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu.

Gejala lain adalah adanya erosi atau eksema puting susu. Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara.

Borok tersebut makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah.

Gejala klinis lainnya adalah adanya pendarahan pada puting susu, rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul borok, atau kalau sudah ada metastase ke tulang-tulang. Selanjutnya akan terjadi pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh.

"Banyak cara pengobatan kanker payudara yang telah dikembangkan pada dekade terakhir seperti bedah, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon dan imuniterapi. Tapi bila kanker sudah masuk stadium lanjut, maka upaya pengobatan tersebut menjadi tidak maksimal atau tidak memberikan banyak manfaat,"terang dr Raden Bagus Denny Indra B, SpRad, dokter spesialis radiologi RS Awal Bros Batam.

Sehingga, langkah yang paling tepat untuk mencegah penyebaran sel kanker yang bisa menjadi pembunuh yang mematikan adalah melalui deteksi dini. Sebab, semakin cepat sel kanker berhasil dideteksi, maka semakin besar juga peluang kesembuhan.

"Sekarang ini sedang gencar dikampanyekan program SADARI atau periksa payudara sendiri. Namun, program ini memiliki kelemahan karena benjolan baru akan teraba setelah berukuran 2,5 hingga 3 sentimeter. Dan bila benjolan masuk kategori tumor ganas maka 50 persen sudah melibatkan kelenjar getah bening,"ungkapnya.

Padahal, jika kanker payudara tanpa anak sebar di kelenjar getah bening akan memiliki harapan hidup lebih besar dibandingkan yang sudah ada anak sebar di kelenjar getah bening. Itu artinya, pemeriksaan yang lebih akurat seperti pemeriksaan radiologi menjadi sarana paling tepat menemukan kelainan payudara sejak dini. (*)



Bisa Mammograpy atau USG

UNTUK mendeteksi keberadaan sel kanker atau skrinning kanker payudara ada dua metode yang bisa dipilih. Yakni melalui mammograpy serta ultrasonografi (USG). Bahkan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, kedua metode ini bisa digabungkan.

"Gabungan mammograpy dan USG bisa semakin meningkatkan ketajaman diagnosis kelainan pada payudara,"jelas dr Raden Bagus Denny Indra B, SpRad.

Dilihat dari fungsinya, selain bisa memeriksa payudara dengan menggunakan prinsip perbedaan gema yang dihasilkan pantulan gelombang suara, USG juga bisa digunakan untuk melihat kelenjar getah bening ketiak. Bukan itu saja alat ini juga berguna sebagai pemantau penderita kanker payudara yang telah diobati untuk menilai apakah terjadi penyembuhan.

Sementara, skrinning kanker melalui mammograpy bisa digunakan untuk melihat gambar jaringan payudara melalui sinar X. Meski menggunakan sinar X tapi alat ini sudah dibuat seaman mungkin agar pemeriksaan menggunakan metode ini tidak menyakiti penderita.

Pemeriksaan melalui mammograpy bisa dilakukan bila ada benjolan pada payudara baik jika disertai raya nyeri atau tidak. Bisa juga dilakukan bila seseorang merasa tidak enak pada payudara misalnya nyeri, sangat peka dan kelainan puting susu.

"Mammograpy juga bisa dilakukan pada pasien dengan riwayat resio tinggi yang mendapatkan keganasan pada payudara, pembesaran kelenjar ketiak yang meragukan, penyakit paget dari puting susu, serta adanya penyebaran metastasis,"ungkapnya.

Selain pada wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker, pemeriksaan dasar mammograpy bisa dilakukan pada usia 35 tahun hingga 40 tahun. Pemeriksaan itu bisa dilakukan satu hingga tiga tahun sekali bagi yang berusia 40 hingga 50 tahun. Mammograpy bisa juga dilakukan bagi yang sudah menderita kanker pada usia 30 tahun. (*)



Waspadai jika Umur 80 Tahun Masih Haid

MESKIPUN hingga kini masih belum diketahui secara pasti dan spesifik penyebab kanker payudara, tapi ada beberapa hal yang bisa menjadi alert atau tanda apakah seseorang masuk daftar orang yang beresiko tinggi atau tidak.

"Faktor resiko tinggi bukanlah penyebab spesifik terjadinya kanker payudara. Tapi bisa memberikan andil terhadap terjadinya kanker payudara,"ungkap dr Raden Bagus Denny Indra B, SpRad.

Orang dengan riwayat keluarga pernah menderita tumor baik jinak atau ganas misalnya. Orang bersangkutan memiliki resiko terkena kanker payudara lebih besar dibandingkan orang tanpa riwayat keluarga terkena tumor. "Tapi bukan berarti orang tersebut pasti bakal terkena kanker payudara lho,"ujar Denny.

Selain itu, orang yang berumur lebih dari 40 tahun tapi tak punya anak, tidak menikah, umur 80 tahun ke atas masih menstruasi atau menstruasi lebih dini juga memiliki resiko lebih tinggi.

"Terjadinya trauma pada payudara seperti terkena benturan keras, konsumsi banyak lemak, maupun pemberian air susu ibu (ASI) yang singkat juga bisa memperbesar resiko terkena kanker payudara,"jelasnya. (*)



Lakukan SADARI di Rumah

SELAIN deteksi dini melalui pemeriksaan medis baik melalui mammograpy ataupun ultrasonografi (USG) sebenarnya Anda bisa juga melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Lewat pemeriksaan secara mandiri ini, Anda bisa lebih cepat menyadari bila ternyata ada yang tidak beres dengan payudara Anda.

Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26 persen, tapi bila dikombinasikan dengan mammograpy, maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75 persen.

Lantas apa saja hal yang bisa dilakukan sebagai langkah deteksi dini secara mandiri di rumah? Berikut beberapa langkah yang bisa jadi panduan:

1. Melihat

Tanggalkan seluruh pakaian bagian atas. Berdirilah di depan cermin dengan kedua lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang. Perhatikan payudara Anda:

a. Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan kiri simetris?

b. Apakah bentuknya membesar atau mengeras?

c. Apakah arah putingnya lurus ke depan? Atau berubah arah?

d. Apakah putingnya tertarik ke dalam?

e. Apakah puting atau kulitnya ada yang lecet?

f. Apakah kulitnya tampak kemerahan? Kebiruan? Kehitaman?

g. Apakah kulitnya tampak menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)?

h. Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak tampak adanya kerutan atau cekungan?

Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas. Setelah selesai, ulangi lagi pengamatan dengan kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, kedua siku ditarik ke belakang. Semua pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui adanya tumor yang terletak dekat dengan kulit.

2. Memijat

Dengan kedua belah tangan, secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting. Cara ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya tidak ada, kecuali Anda sedang menyusui).

3. Meraba

Sekarang berbaringlah di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu. Untuk memeriksa payudara kiri, letakkan sebuah bantal tipis di bawah bahu kiri, sedang lengan kiri direntangkan ke atas di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala.

Gunakan keempat jari tangan kanan yang saling dirapatkan untuk meraba payudara. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar (seperti membuat lingkaran kecil-kecil), mulai dari tepi payudara hingga ke puting susu.

Sesudah itu geser posisi jari sedikit ke sebelahnya, dan lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara sampai puting susu. Lakukan terus secara berurutan sampai seluruh bagian payudara diperiksa. Untuk memudahkan gerakan, Anda boleh menggunakan lotion atau sabun sebagai pelicin.

Gerakan memutar boleh juga dilakukan mulai dari puting susu, melingkar semakin lebar ke arah tepi payudara atau secara vertikal ke atas dan kebawah mulai dari tepi paling kiri hingga ke tepi paling kanan. Yang penting, seluruh area payudara harus tuntas teraba, tak ada yang terlewatkan.

Perlu diperhatikan bahwa masing-masing gerakan memutar harus dilakukan dengan kekuatan tekanan yang berbeda-beda, setidaknya dengan tiga macam tekanan. Pertama-tama dilakukan dengan tekanan ringan untuk meraba adanya benjolan di dekat permukaan kulit, yang kedua dengan tekanan sedang untuk meraba adanya benjolan di tengah-tengah jaringan payudara, yang ketiga dengan tekanan cukup kuat untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara, dekat dengan tulang dada atau iga.

Setelah selesai dengan payudara kiri, pindah posisi bantal dan lengan, lakukan pemeriksaan pada payudara kanan dengan menggunakan keempat jari tangan kiri.
Kemudian ulangi perabaan seperti poin 3, tetapi dalam posisi berdiri. Untuk memudahkan, bisa dilakukan sambil mandi, saat membalur tubuh dengan sabun.

4. Meraba Ketiak

Setelah itu raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui adanya benjolan yang diduga suatu anak sebar kanker.

Bila dalam pemeriksaan payudara sendiri ini Anda menemukan suatu kelainan (misal benjolan, sekecil apa pun), segera periksakan ke dokter. Jangan takut dan jangan tunda lagi. Karena kanker payudara yang ditemukan pada tahap dini dan ditangani secara benar dapat sembuh secara tuntas! (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda