11 Juni 2008

Jangan Remehkan Penampilan saat Bekerja

foto by Pinterest
PENAMPILAN tak bisa dipungkiri adalah cerminan sosok dan citra diri yang sangat berperan terhadap penilaian orang lain terhadap seseorang. Bahkan, dalam berbagai hal, penampilan bisa menjadi 'modal utama' agar tidak dipandang sebelah mata relasinya.

Pentingnya penampilan itulah yang membuat rangkaian menata penampilan menjadi hal yang harus mendapat porsi perhatian tersendiri oleh setiap orang. Tak hanya dalam kehidupan pribadi maupun sosial, tapi juga mencakup kehidupan karir seseorang.

Bahkan bisa dibilang, penampilan adalah satu bagian penting terkait pembentukan citra profesional serta memberi rasa kepercayaan diri yang tinggi untuk mengekspresikan kompetensi yang dimiliki.

"Penampilan adalah image. Merupakan representasi dari citra diri dan kepribadian seseorang. Cara berpakaian dan berdandan seseorang juga merupakan cerminan kepribadian dan menjadi bagian dari pola perilaku seseorang,"jelas S Susilowati, Senior Executive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.

Itu artinya, orang akan menilai seseorang pertama kali dari penampilannya, baru pola pemikiran, perilaku, dan lainnya. Bahkan dari penampilan, orang bisa menilai bagaimana gaya hidup seseorang. Itulah kenapa, penampilan menjadi hal yang penting dan harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di dunia kerja maupun dalam konteks sosial yang lain.

Walau cara berpakaian atau berpenampilan sangat erat kaitannya dengan pembangunan rasa kepercayaan diri, tapi rasa percaya diri yang dilandasi penampilan fisik sifatnya hanya sementara saja. Itu karena, hal tersebut sifatnya ekstrinsic atau dari luar diri.

Orang dengan tipe itu, tidak jarang cenderung memperhatikan penampilannya habis-habisan. Tujuannya ya untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Misalnya lewat pakaian, aksesori, dan sebagainya. Dan jika sesuatu yang dibanggakan itu tidak ada, maka orang bersangkutan akan langsung merasa tidak percaya diri atau bahkan menarik diri dari lingkungannya.

Meski cukup banyak orang yang rasa kepercayaan dirinya terdongkrak oleh penampilan, tapi ada juga orang yang akan tetap merasa percaya diri meski penampilannya seadanya. Itu karena, sumber kepercayaan diri orang bersangkutan lebih bersifat intrinsic atau dari dalam diri. (*)



Sesuaikan Penampilan dengan Lingkungan Kerja


MENGINGAT penampilan erat kaitannya terhadap pembentukan citra diri, setiap orang tentunya harus mulai memperhatikan penampilan masing-masing. Tak sebatas orang dengan profesi tertentu saja tapi bagi siapapun yang bekerja maupun tidak bekerja.

Itu karena, penampilan menentukan kesan awal yang bakal tertangkap pada diri kita. Jika kesan awal saja tidak baik, maka tidak tertutup kemungkinan bila kesan berikutnya akan terpengaruh oleh kesan pertama.

Itulah kenapa front office staff harus lebih memperhatikan penampilan. Sebab, setiap perusahaan atau kantor pasti ingin memiliki citra atau image positif di hadapan pelanggannya. Jika penampilan staff nya kurang bagus, terkesan seadanya atau bahkan seenaknya, maka pelanggan akan menggeneralisir perusahaan juga demikian.

"Atasan atau bawahan sama saja. Artinya aspek penampilan tetap sama-sama harus diperhatikan. Atasan yang klimis, rapi dan bersih pasti akan menimbulkan perasaan nyaman, senang dan bangga bagi bawahan atau anak buahnya,"ungkap S Susilowati Senior Executive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.

Coba bandingkan jika atasan kita bau, tidak rapi dan semrawut. Kita sebagai anak buahnya juga pasti tidak betah berlama-lama bersama atasan. Bukan itu saja, penilaian kita terhadap atasan juga menjadi berkurang.

"Penampilan mendukung wibawa, meskipun sebenarnya kewibawaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh penampilan. Ada yang sederhana, tapi juga tetap terkesan berwibawa. Sederhana berbeda pengertian dengan seadanya lho ya ..,"jelas psikolog yang kerap disapa Mbak Susi ini.

Meski penting, tapi perhatian terhadap penampilan juga harus disesuaikan dengan kewajaran. Kewajaran disini maksudnya sesuai dengan kondisi serta lingkungan tempat kita bekerja. Sebab, berpenampilan yang tidak sesuai dengan kondisi atau lingkungan pada akhirnya akan menimbulkan penilaian tersendiri pada diri kita.

Sebut saja, terlalu banyak memakai aksesoris atau perhiasan akan mengesankan kita sebagai orang yang senang pamer dan sebagainya. Begitu juga dengan wanita yang suka berpakaian serba mini, padahal di kantornya banyak karyawan pria. Tindakan itu tentunya akan memancing perhatian lebih atau bahkan bisa memancing pelecehan seksual pada orang bersangkutan.

"Pandangan orang terhadap penampilan kita apakah negatif atau positif sangat tergantung cara kita menampilkan diri kita di hadapan mereka. Itulah kenapa kita harus pintar menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pekerjaan,"jelas wanita berjilbab ini. (*)



Segarkan Melalui Perubahan Kesan

PENAMPILAN memang erat kaitannya dengan citra diri atau image seseorang. Tapi bukan berarti, kita tidak boleh melakukan penyegaran terhadap penampilan diri. Itu karena, untuk menyegarkan penampilan, tidak harus selalu mengubah image.

"Setiap orang memiliki kepribadian khas masing-masing. Khasnya kita itulah yang akan membentuk image kita. Jadi mengubah image tidak bisa dilakukan secara instant. Gaya berpakaian atau berpenampilan bisa berubah sesuai dengan tren, tapi image yang sudah terbentuk tidak dengan mudah bisa diubah,"kata S Susilowati, Senior Executive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.

Sehingga, bagi yang ingin melakukan penyegaran terhadap penampilan bisa 'bermain' melalui perubahan kesan. Sebut saja, jika biasanya kita memakai baju warna gelap, sekali waktu bisa diubah dengan kostum berwarna lebih cerah. Perubahan itu akan memunculkan kesannya berbeda tapi personal imagenya tetap sama.

Permainan warna tersebut juga bisa dilakukan ketika Anda ingin mendapatkan kesan tertentu ketika menghadiri satu momen penting. Khususnya berkaitan dengan waktu atau biasa disebut sebagai elemen waktu sebagai penentu penampilan.

Dalam berbusana di sela aktivitas pekerjaan itu sendiri, sebenarnya ada aturan tak tertulis yang penting untuk dipahami. Yakni berdasarkan waktu, tempat dan jenis acara yang dihadiri. Pentingnya penyesuaian itu tentunya berkaitan dengan keinginan untuk menghindari kejadian saltum alias salah kostum.

Meski ada cukup banyak perbedaan gaya berbusana berdasarkan sejumlah faktor, tapi bukan berarti setiap orang harus memiliki banyak kostum untuk memenuhi 'standar' tersebut. Sebab, kemampuan padu padan atau mix and match pastinya akan menjadi solusi mengatasi keterbatasan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda