11 Juni 2008

PAUD Terbaik Adalah Keluarga Kita

Gambar: http://gambardanfoto.com
MEMBERIKAN yang terbaik untuk pendidikan anak pasti jadi keinginan setiap orangtua. Sebab, pendidikan terbaik diharapkan bisa membantu anak tumbuh lebih cerdas dan pastinya bisa bersaing dengan sumber daya manusia (SDM) dari berbagai belahan dunia.

Namun terkadang, banyak orangtua yang terjebak opini bahwa yang terbaik hanya bisa didapatkan dengan harga mahal. Begitu juga untuk mendapatkan akses layanan pendidikan. Sehingga tak mengherankan bila belakangan ini, biaya pendidikan kian meroket akibat ketatnya persaingan dan keinginan menawarkan program pendidikan 'paling bagus'.

Termasuk pendidikan anak usia dini (PAUD) yang notabene masih bersifat non formal. Tentunya dengan iming-iming sistem pendidikan bertaraf internasional dan berbagai fasilitas tambahan yang 'wah'.


Yang terjadi akhirnya, PAUD non formal justru jadi ajang adu gengsi bagi para pemilik uang. Sebaliknya, bagi yang tidak punya uang cukup, kebanyakan memilih tidak menyekolahkan anaknya karena menganggap PAUD belum terlalu penting dan baru akan menyekolahkan anaknya begitu usia sekolah dasar.

"Jangan pernah meremehkan pentingnya PAUD bagi anak-anak kita. Sebab, pada lima tahun pertama kehidupan anak yang selanjutnya disebut masa golden ages, otak anak berkembang begitu pesat dan butuh stimulasi secara maksimal,"ungkap Evy Rakryani, Psikolog Anak Kota Batam.

Proses stimulasi itu sendiri bisa dilakukan baik melalui PAUD non formal layaknya playgroup, taman penitipan anak, taman bermain, taman balita, klub bermain dan sebagainya maupun PAUD informal. Yakni pendidikan bagi anak usia dini yang dilakukan oleh keluarga. Baik orangtua, keluarga dekat, ataupun juga teman bermain.

Artinya, bagi yang memiliki dana terbatas, bisa menerapkan PAUD informal sebagai alternatif pilihan. Yakni lewat PAUD informal melalui stimulasi yang diberikan orangtua.

Kemampuan orangtua memahami karakter anak, bisa menjadi modal utama orangtua dalam proses stimulasi. Bahkan, bukan tidak mungkin akan jauh lebih baik dibandingkan stimulasi yang diterima melalui PAUD non formal.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi belakangan ini, akan membantu orangtua dalam mengakses aneka materi stimulasi yang dibutuhkan. Sebut saja, kemudahan berburu informasi melalui internet, video compact disc (VCD) edukatif, aneka mainan edukatif dan banyak lagi. Kemudahan-kemudahan itu pastinya akan membuat tugas orangtua makin ringan.

"Proses stimulasi pun tidak harus dilakukan dengan duduk diam layaknya orang sedang belajar. Sebab, di manapun orangtua dan anak berada, mereka bisa saling berkomunikasi yang diisi dengan aneka stimulasi,"jelas Evy.

Sebut saja ketika ibu sedang memasak, anak diminta menghitung jumlah sayuran yang ada atau bertanya warna baju yang sedang disetrika ibu, dan sebagainya. Meski demikian, sebaiknya orangtua tetap menyiapkan quality time khusus untuk menstimulasi anak. Misalnya setengah jam per hari. (*)



Pelajaran Akhak Harus Dimulai dari Rumah

SOSIALISASI yang kerap dijadikan alasan orangtua ketika memasukkan anak ke dalam PAUD non formal sebenarnya juga bisa disiasati melalui PAUD informal. Sebab, lingkungan keluarga yang diramaikan oleh adik, kakak, atau anggota keluarga lainnya seperti kakek dan nenek juga bisa menjadi media belajar bagi anak tentang bagaimana cara bersosialisasi dengan baik.

"Lingkungan keluarga bisa dijadikan media orangtua untuk menanamkan akhlak yang baik pada anak. Bagaimana cara bersikap santun pada orangtua, pada orang sebaya atau bahkan pada anak yang lebih muda seperti adik. Anak juga bisa diajari cara meminta tolong yang benar dan sebagainya,"jelas dr Fisher Iwan SpRM, dokter spesialis rehabilitasi medik RS Awal Bros Batam.

Dalam lingkungan keluarga tersebut anak juga bisa bagaimana caranya berbagi, menghormati tamu yang berkunjung ke rumah, bagaimana cara menyapa orang dewasa yang ditemui di jalan, serta pelajaran sopan santun dan akhlak mulia lain.

"Keluarga adalah pusat pelajaran yang paling utama untuk membekali anak dengan akhlak serta budaya sopan santun yang baik,"ungkap Evy Rakryani, Psikolog Anak kota Batam.

Selain pelajaran tentang adab, lingkungan keluarga juga bisa menjadi media belajar efektif cara hidup bersih dan sehat. Membiasakan anak membuang sampah di tempatnya, mencuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas, menggosok gigi setelah sarapan serta sebelum tidur bisa menjadi bagian pelajaran bagi anak.

Jika pemahaman tersebut ditanamkan secara terus menerus tersebut, lama kelamaan akan membentuk mindset anak bagaimana mereka harus hidup secara bersih dan rapi.

"Yang paling penting, orangtua bersama anggota keluarga saling bekerja sama untuk ikut menerapkan hal positif yang ingin ditanamkan pada anak. Karena bagaimanapun juga contoh yang baik adalah cara belajar paling efektif bagi anak,"ungkap Evy.

Jika selama ini, kewajiban mendidik anak serta memberikan stimulasi pada buah hati kebanyakan masih dibebankan pada ibu, sudah saatnya para ayah ikut terlibat di dalamnya. Apalagi, menurut penelitian, anak yang dekat dengan ayah, memiliki kecenderungan memiliki otak yang lebih cerdas. (*)



Belajar bisa Dimana Saja dan Kapan Saja

ANEKA aktivitas menyenangkan yang diterapkan PAUD nonformal dalam mendidik 'murid' adalah satu poin yang bisa dipetik para orangtua untuk ikut menerapkan hal serupa ketika ingin mendidik anak melalui PAUD informal yakni berbasis keluarga.

Sebab, pada dasarnya mendidik anak pra sekolah memang tak bisa dilakukan dengan cara duduk diam layaknya anak usia sekolah. Bahkan, sebisa mungkin anak-anak usia pra sekolah menghabiskan waktunya dengan aktivitas bermain yang menyenangkan.

"Orangtua harus terus memberikan stimulasi pada anak sebagai upaya merangsang kecerdasan otak. Namun penting diingat, proses stimulasi itu harus dilakukan melalui aktivitas bermain dan tanpa paksaan. Sebab, paksaan hanya akan menyisakan trauma dan keengganan anak untuk belajar. Sebaliknya, aktivitas menyenangkan akan membuat anak senang menerima stimulasi apapun,"ungkap dr Fisher Iwan SpRM.

Usai pemberian stimulasi pun, orangtua hendaknya tidak menguji anak dan berharap terlalu banyak apalagi sampai menetapkan target. Sebab, hal terpenting dalam pembelajaran adalah proses yang dijalani bukan hasil yang dicapai.

Selanjutnya, keterbatasan waktu yang kerap dijadikan kambing hitam kurangnya perhatian orangtua pada kebutuhan stimulasi anak juga bukan alasan bijak. Itu karena, proses belajar sebenarnya bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.

Bahkan, ketika anak sedang mandi pun, orangtua bisa melakukan stimulasi pada anak. Sebut saja, dengan menanyakan warna bak mandi, bentuknya, jumlahnya, dan sebagainya. Hal-hal sepele yang kerap terabaikan itu sebenarnya sudah menjadi bagian dari PAUD.

Selain itu, minimnya waktu bersama anak karena harus bekerja, bisa disiasati dengan menyiapkan media pembelajaran audio visual layaknya VCD edukatif. Dibandingkan menonton tayangan televisi yang tidak jelas, tayangan VCD edukatif pastinya akan jauh lebih bermanfaat.

"Keterbatasan waktu orangtua kadang juga memunculkan sikap serba instant. Hanya gara-gara tak mau repot dan lama, orangtua memilih memakaikan sepatu anaknya, membukakan kotak kue, dan berbagai hal yang sebenarnya bisa menjadi media pembelajaran anak dalam memecahkan masalah atau problem solving,"jelas Evy Rakryani.

Akhirnya, anak menjadi tukang perintah dan maunya serba cepat dan instant. Saat mereka punya kemauan tidak sedikit yang rela berguling-guling sebelum keinginannya dipenuhi. Hal-hal kecil seperti inilah yang harus mulai diajarkan pada anak sejak dini dari lingkungan keluarga. (*)



Bekali Diri dengan Banyak Wawasan

MENGINGAT pentingnya peran orangtua dalam proses stimulasi kecerdasan otak anak, kesiapan orangtua tentunya harus menjadi perhatian tersendiri. Karenanya pembekalan diri dengan berbagai pengetahuan menjadi hal yang wajib.

Lantas, apa saja sebenarnya yang harus dilakukan orangtua dalam menyiapkan diri sebagai seorang pendidik yang berkualitas bagi anak-anak mereka? Berikut beberapa tipsnya:

1.Buka wawasan lebih luas tentang berbagai hal terkait pendidikan anak usia dini. Jangan bosan mengumpulkan informasi dari buku, internet. Informasi tersebut bisa mencakup berbagai hal. Mulai kreatifitas anak, proses tumbuh kembang anak, metode stimulasi anak, dan sebagainya.

2. Perbanyak dialog baik itu melalui sharing, mengikuti seminar, sharing dengan teman, tetangga atau orangtua yang memiliki anak sebaya akan membantu orangtua mempelajari berbagai cara pandang dari berbagi sudut pandang berbeda. Sharing tersebut sekaligus menjadi cara mengumpulkan informasi yang dibutuhkan.

3. Sediakan waktu yang cukup untuk membantu anak merangsang kemampuan otak anak mereka.Siapkan waktu setidaknya setengah jam per hari sebagai quality time dalam menstimulasi kemampuan otak. Selanjutnya, stimulasi bisa dilakukan di sela aktivitas dan waktu luang yang dimiliki. Sebut saja di sela aktivitas memasak, mencuci, menyetrika, berkebun, bermain, menjelang tidur, dan sebagainya.

4. Kerjasama dengan semua anggota keluarga bisa menjadi solusi jitu mengatasi keterbatasan waktu yang bisa dijadikan saat menstimulasi otak anak. Saat ibu sedang sibuk, ayah bisa menggantikan peran sebagai teman main anak. Begitu pula sebaliknya. Pengasuh, tante, kakak, maupun anggota keluarga lain hendaknya juga turut terlibat dalam proses stimulasi agar hasilnya lebih maksimal.

5. Sebagai pendukung proses stimulasi, sediakan banyak media sebagai sarana menstimulasi kinerja otak anak. Sebut saja aneka mainan edukatif, lingkungan yang kondusif dan sebagainya. Mainan tak harus dibeli dengan harga mahal. Sebab, potongan gambar dari majalah bekas atau kotak sepatu juga bisa disulap menjadi mainan yang mendidik. Semua tergantung kreatifitas orangtua kan? (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda