01 Juni 2008

Kenapa Anak Suka Pamer?

DALAM perkembangan psikologisnya, sekitar usia 6 hingga 12 tahun, anak mulai mengidentifikasi dirinya dengan cara membandingkan dirinya dengan anak lain. Bukan lagi karena anak merasa mampu melakukan sesuatu, namun melihat dirinya lebih mampu melakukan sesuatu dibanding anak lainnya.

Selain itu, anak juga ingin lebih diperhatikan, mendapat pengakuan, dan ingin dikagumi oleh orang banyak. Sehingga cenderung ingin menonjolkan hal-hal yang ada pada dirinya. Salah satu bentuk dari kecenderungan ini adalah dengan menunjukkan kepemilikannya sebagai simbol status `saya punya', dan inilah yang kemudian terkesan pamer.

"Pamer yang dilakukan anak-anak pada masa perkembangannya lebih cenderung bertujuan mencari pengakuan status yang bisa mengarah pada pembentukan konsep diri. Sifat pamer bisa dibilang wajar sepanjang tidak berlebihan atau tidak membuat anak menjadi terobsesi bahwa dialah yang harus `ter..' segala-galanya,"ungkap Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog Anak di Kota Batam.


Pada anak yang lebih muda, pamer yang ditunjukkan umumnya merupakan bentuk ekspresi imajinasinya sebagai proses perkembangan kognitifnya. Walaupun sebenarnya, tidak semua anak bermaksud pamer. Sebab, biasanya pamer akan berkembang pada lingkungan yang selalu menghargai seseorang hanya karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki.

Misalnya pada keluarga yang materialistis, yang mengejar status sosial, atau komunikasi sehari-hari selalu membandingkan keberhasilan orang lain dengan kelemahan internal. Pandangan tersebut akhirnya akan mengkondisikan anak untuk memahami bahwa untuk `dihargai' maka harus memamerkan kepemilikannya.

Bukan itu saja, keluarga yang mengabaikan posisi anak atau tidak pernah menghargai maupun melibatkan anak serta miskin pujian juga akan membuat anak berusaha menunjukkan apa yang dipunyai anak. Melalui aksi pamer tersebut, anak yang selama ini merasa `kecil' dan tidak diterima serta kurang percaya diri berharap mendapatkan pengakuan dari lingkungannya.

"Ada juga yang mengembangkan sifat pamernya justru karena ancaman-ancaman lingkungan. Misalnya kalau tidak berprestasi tidak dapat bergabung pada sebuah kelompok. Atau kalau tidak ranking tidak diperbolehkan ikut kegiatan, dan sebagainya,"jelas Dhea, panggilan akrab Bibiana.

Ancaman lingkungan tersebut akhirnya memunculkan dorongan pada anak untuk berlomba mendapat pengakuan melalui hal-hal di luar diri. Sebut saja dengan pamer materi, penampilan, status orangtua, pengalaman, dan jenis mainan terbaru yang ia miliki dan sebagainya. (*)



Ajari Untuk Peduli pada Orang lain

KEBIASAAN pamer bukan merupakan sifat yang terpuji. Sebab, lebih banyak sisi negatif yang diakibatkan sifat pamer. Sebut saja ketika anak berharap dengan pamer dia bisa dikagumi teman-temannya, ternyata justru dijauhi dan dicap sok pamer, sombong dan sebagainya.

Selain itu, sifat pamer yang terus dipupuk juga akan menjadikan anak tidak pernah merasa puas dan sulit bersyukur atas apa yang didapatkannya. Dan jika sifat pamer diikuti dengan merendahkan orang lain, akan mnjadikan anak kehilangan teman dan lingkungannya.

"Banyaknya dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari sifat pamer anak, membuat orangtua maupun orang dewasa di lingkungan anak harus segera membantu mengurangi sifat pamer tersebut,"ungkap Bibiana Dyah Sucahyani.

Sebut saja dengan memberikan teladan yang baik. Sebab, teladan dari orangtua merupakan hal penting dalam pembentukan karakter anak. Sehingga lingkungan tumbuh kembang anak perlu diisolir dari sifat-sifat pamer.

Selain itu, orangtua juga harus terus menunjukkan bahwa anak adalah anugerah dengan kelebihan dan kekurangannya. Sehingga, orangtua maupun keluarga harus selalu menerima apa adanya anak. Tidak menuntut maupun tidak membandingkan anak dengan yang lain.

"Bantuan orangtua juga bisa berbentuk pemupukan rasa syukur dan rasa percaya diri anak. Orangtua juga bisa mengajari anak bagaimana cara peduli terhadap orang lain, belajar memberi, belajar mengagumi karya orang lain, belajar berusaha lebih giat untuk mencapai hasil yang diinginkan, dan sebagainya,"terang Dhea.

Orangtua hendaknya tidak berhenti untuk terus memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada di luar diri kita sifatnya hanya sementara atau tidak abadi. Sehingga tidak ada gunanya untuk dipamer-pamerkan pada orang lain. Misalnya melalui diskusi tentang film atau pengalaman orang lain yang menunjukkan tidak perlunya sifat pamer.

"Sebisa mungkin bantu anak menemukan bakat minatnya serta salurkan sesuai dengan potensinya. Dimana hal ini akan membuat anak lebih mengejar prestasi karena memang menyukainya dan bukan untuk dipamerkan,"sarannya. (*)



Larangan Justru Memupuk Kenegatifan Anak

ANAK yang suka memamerkan barang miliknya untuk mendapatkan pengakuan dari oranglain merupakan hal yang kerap terjadi. Tapi bagaimana kalau sifat pamer itu sudah dibarengi dengan bualan yang membuat orangtua risih?

"Jika sikap pamer anak sudah melebar pada pembualan, orangtua harus segera tanggap dan membantu anak untuk segera meminimalisir sifat pamernya tersebut. Misalnya dengan memaparkan resiko yang mungkin dihadapi anak maupun pemahaman dengan meminta anak bila berada pada posisi orang yang dipameri,"jelas Bibiana Dyah Sucahyani.

Dengan pemahaman itu, diharapkan anak mengerti bahwa menjadi orang yang dipameri sangat tidak enak yang diharapkan memberikan pemahaman kenapa anak tidak boleh pamer atau bohong. Bagi para orangtua, Dhea menyarankan untuk menghindari sikap marah dan melarang keras anak untuk pamer.

Itu karena, anak tidak akan memahami dasar pelarangan tersebut. Anak justru cenderung marah karena sudahlah dia tidak mendapat kepuasan, ditambah orangtuanya marah menjadikan anak akan menumpuk kenegatifan dirinya.

"Cari juga akar permasalahan mengapa anak hingga pada taraf membual. Karena kemungkinan ini dilakukan sebagai bentuk defence mechanism dari tekanan yang dirasakan anak,"terangnya. Hal penting yang juga harus diperhatikan orangtua adalah mengkondisikan anak pada lingkungan yang menerima anak apa adanya, serta lingkungan yang memang cocok dan nyaman sehingga cenderung tidak mengembangkan sifat pamernya. (*)



Jangan Juluki Anak si Tukang Pamer

BAGI orangtua, memiliki anak yang suka memamerkan apapun yang dimiliki bahkan sampai melebih-lebihkan, tentu sangat tidak menyenangkan. Tapi, kalau anak sudah terlanjur suka pamer, apa mau dikata. Yang paling penting orangtua harus segera melakukan tindakan nyata untuk membantu anak menghilangkan kegemarannya pamer.

Nah, apa saja hal yang bisa dilakukan orangtua jika anak terlanjur mengembangkan sifat pamernya? Berikut beberapa hal yang disampaikan Bibiana Dyah Sucahyani yang mungkin bisa menjadi referensi para orangtua:

1. Cari waktu dan suasana yang tepat untuk menanyakan hal-hal yang menjadi masalah anak. Dari masalah-masalah yang diungkapkan, orangtua bisa mengambil kesimpulan tentang apa-apa yang mungkin membuat anak suka pamer. Tawarkan bantuan dalam penyelesaian masalah tersebut.

2. Jangan mencap atau memberi julukan anak `tukang pamer'. Sebab, ini justru akan menimbulkan jarak antara orangtua dan anak. Tanyakan pada anak, mengapa anak `menceritakan' hal-hal secara berlebihan pada teman-temannya, apa alasannya, juga gali tanggapan teman-temannya. Lanjutkan dengan pemaparan resiko-resiko yang akan dialami anak jika anak terus melakukan hal itu pada teman-temannya.

3. Bukalah juga hati anak dengan bersama-sama merasakan apa yang dirasakan temannya saat anak menceritakan barang-barang bagus, sementara teman-temannya tidak punya atau tidak bisa mendapatkannya.

4. Bantu anak untuk bisa menemukan hal-hal yang positif yang bisa dilakukannya agar lebih disenangi lingkungannya tapi bukan dengan pamer.

5. Yakinkan pada anak bahwa seluruh keluarga bangga akan keberadaan anak apapun dia dan akan terus melimpahkan sayang padanya. Sehingga anak tidak perlu cemas jika ditolak orang lain.

6. Ajak anak untuk terus peduli pada masalah lingkungan. Asahlah sensitifitasnya agar bisa memahami anak patut bersyukur dan ikhlas pada potensi dirinya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda