11 Juni 2008

Cara Memilih Sekolah Untuk Anak


SEKARANG ini, memasuki bangku sekolah dasar (SD) bukanlah hal baru yang dialami anak-anak. Sebab, rata-rata anak usia pra sekolah, yakni usia 3,5 tahun hingga 6 tahun, kebanyakan sudah pernah mengenyam bangku sekolah. Yakni melalui pendidikan anak usia dini (PAUD) baik non formal maupun formal.

Meski demikian, bangku sekolah di level SD adalah pijakan awal anak memasuki dunia pendidikan secara formal. Pendidikan yang mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang nantinya akan dikembangkan ke arah yang lebih mendalam lagi.

Pentingnya arti pendidikan anak sejak di bangku SD tersebut membuat orangtua harus hati-hati dalam memilih sekolah yang akan menjadi ladang anak menimba ilmu pengetahuan selama enam tahun pertama pendidikan formal.

"Hal utama yang harus menjadi perhatian orangtua saat ingin memilihkan sekolah bagi buah hatinya adalah kualitas sekolah bersangkutan. Khususnya komitmen sekolah terkait arti penting pendidikan,"jelas Mardien Suprapti, Psikolog Batam Medical Centre (BMC) yang juga konselor di SMA Kartini Batam.

Terlebih, belakangan ini tidak sedikit sekolah yang lebih mengutamakan profit atau keuntungan (profit oriented) dibandingkan memegang teguh filosofi pendidikan.


Merebaknya sekolah-sekolah baru yang meramaikan dunia pendidikan di Batam juga bisa menjadi alasan orangtua untuk lebih selektif dalam memilihkan sekolah bagi buah hati mereka. Jangan hanya gara-gara tak diterima di sekolah yang diinginkan akibat keterbatasan kursi, lantas memilih sekolah baru yang belum diketahui kualitasnya. Sebut saja karena dekat dengan rumah.

"Memilih sekolah dekat dengan rumah memang bukan hal yang salah. Sebab, lamanya anak mengenyam pendidikan selama di bangku SD juga bisa menjadi pertimbangan memilih lokasi sekolah. Namun, kualitas serta kredibilitas sekolah juga penting menjadi perhatian,"jelas Mardien.

Pola pengajaran sekolah juga penting dipertimbangkan. Sebut saja apakah guru mengajar secara profesional dan tidak menggunakan kekerasan, kurikulum tidak terlalu membingungkan dan membebani siswa, bagaimana dengan penegakan kedisiplinan terhadap siswa. dan sebagainya.

Disiplin yang dimaksud pastinya tak hanya terkait ketatnya jam pelajaran, cara berpakaian, bagaimana bersopan santun tapi juga terkait kontrol anak selama berada di lingkungan sekolah. Begitu juga kepedulian sekolah terhadap anak didik.

"Untuk mendapatkan informasi terkait kualitas sekolah yang ingin dipilih, orangtua bisa melakukan survei secara langsung atau mengumpulkan informasi dari orangtua murid yang lebih dulu sekolah di sekolah tersebut,"ungkapnya.

Selain orangtua murid, masyarakat sekitar juga bisa menjadi sumber informasi untuk mengetahui kualitas sekolah bersangkutan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh pemerhati pendidikan. Berbekal pengetahuan yang dimiliki serta intens-nya mereka memperhatikan dunia pendidikan pastinya akan membantu Anda menjatuhkan pilihan sekolah mana yang paling tepat. (*)



Pilih Sekolah dengan Lingkungan Asri

SELAIN konsep pendidikan serta pola pengajaran yang diterapkan, hal lain yang patut menjadi pertimbangan adalah lingkungan sekolah yang mendukung. Yakni lingkungan yang terasa nyaman dan asri untuk menjadi lokasi belajar dan bereksplorasi aneka pengetahuan baru.

"Lingkungan sekolah memiliki peran yang cukup besar terhadap daya konsentrasi dan kenyamanan belajar anak. Selain itu, lingkungan dengan halaman serta area bermain yang luas pastinya akan membantu anak beraktivitas dengan lebih baik,"terang Mardien Suprapti.

Pada masa belajar, anak tak hanya membutuhkan belajar teori di dalam kelas. Sebab, anak juga butuh dekat dengan alam dan belajar dari alam. Sehingga, ketersediaan area yang bernuansa alam seperti halaman maupun area bermain bisa menjadi bagian pertimbangan pemilihan sekolah.

"Saat ini cukup banyak sekolah yang menggunakan rumah toko (ruko) sebagai bangunan sekolah. Padahal, ruko rata-rata tidak memiliki halaman atau area hijau yang bisa menjadi media anak berdekatan dengan alam,"jelasnya.

Kondisi tersebut, kadang memunculkan rasa bosan pada anak selama menjalani proses belajar mengajar akibat keterbatasan ruang. Dan berawal dari kebosanan itu anak menjadi enggan untuk belajar secara maksimal.

"Sebaiknya hindari juga sekolah yang menggunakan air conditioner dalam ruang kelas. Meski akan terasa sejuk tapi justru kurang baik untuk membantu anak lebih berkembang. Kalaupun membutuhkan suasana yang tidak panas, cukup menggunakan kipas angin atau akan lebih baik lagi menggunakan angin alami dari jendela,"ungkap Mardien. (*)



Satu Kelas Maksimal 30 Anak

HAL lain yang tidak boleh diabaikan terkait pemilihan sekolah adalah jumlah murid per kelas. Pertimbangan ini pastinya sangat berhubungan dengan daya serap anak nantinya terhadap materi pelajaran yang disampaikan pada siswa.

"Usahakan untuk memilih sekolah dengan jumlah siswa yang tak terlalu banyak untuk tiap kelasnya. Yakni antara 25 sampai 30 siswa per kelasnya. Sebab, jika siswa terlalu banyak maka akan mempengaruhi konsentrasi siswa akibat terlalu ramai,"ungkap Mardien Suprapti.

Tak hanya konsentrasi anak yang akan terganggu, guru pun tidak akan maksimal dalam memberikan perhatian bagi anak muridnya. Sebab, dengan jumlah yang terlalu banyak dengan jam pelajaran yang terbatas pastinya akan membatasi kemampuan guru memperhatikan seluruh siswa yang ada.

Selain jumlah murid, kurikulum yang diterapkan sekolah juga harus diperhatikan. Sebab, belakangan ini tidak sedikit sekolah yang menerapkan kurikulum berbasis internasional yang akhirnya justru membebani anak dan membuat anak stres.

"Jika kemampuan anak terbatas, sebaiknya tidak terlalu membebani anak dengan kurikulum pendidikan yang terlalu berat. Sebab, konsentrasi yang terbagi-bagi antara pelajaran berbasis nasional dan internasional justru akan membuat anak bingung dan akhirnya justru tak bisa menyerap materi dengan sempurna,"ungkapnya. (*)

1 komentar:

  1. Pendidikan di Indonesia sekarang mengalami permasalahan yang tidak kunjung selsesai mulai dari permasalahan guru yang tidak sejahterah, siswa/pelajar miskin yang tidak bisa sekolah, sarana dan prasarana yang rusak dan tidak layak.
    butuh perjuangan dari kita semua.
    http://pendidikan.infogue.com/saatnya_berburu_sekolah_bagi_buah_hati

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda