18 Agustus 2008

Hadapi Pembunuhan Karakter dengan Bijak

Foto by: nobullying.com
BERSAING untuk mendapatkan yang terbaik kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu wajar mengingat sifat alami manusia adalah tak pernah puas dan ingin selalu lebih dari yang lainnya.

Begitu juga dalam kehidupan karier, persaingan untuk meraih jenjang karier yang lebih tinggi kerap memicu keinginan seseorang untuk mengukir prestasi yang lebih baik.

Sepanjang persaingan yang dilakukan ditempuh dengan cara yang positif, pastinya sah-sah saja. Yang tak wajar adalah jika persaingan dilakukan dengan berbagai cara termasuk cara-cara negatif yang tak bermoral. Sebut saja, upaya pembunuhan karakter 'lawan' agar terlihat lebih buruk di mata rekan kerja, atasan maupun relasi.


Jika didefinisikan, character assassination atau usaha pembunuhan karakter adalah usaha menghilangkan orisinalitas atau keaslian karakter seseorang dalam pandangan orang lain.

Kondisi ini tidak saja menyangkut fitnah dan menyebarkan berita bohong tentang seseorang. Namun juga menyangkut pencitraan tentang diri seseorang dari orang lain. Sementara, citra diri merupakan hal penting dan berperan besar dalam kelangsungan kehidupan sosial seseorang. Termasuk dalam kehidupan karir. Sehingga, bisa dibayangkan sendiri akibat yang harus ditanggung ketika seseorang mengalami sebuah pembunuhan karakter.

"Citra yang buruk sangat berpengaruh pada tingkat kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap orang lain. Dalam kehidupan pribadi tentu saja juga sangat merugikan,"ungkap S Susilowati, Senior Executive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.

Mengingat pentingnya citra diri terhadap kehidupan kita, tak ada salahnya jika kita selalu waspada agar tak menjadi korban upaya pembunuhan karakter oleh 'lawan' atau 'saingan' kita.

"Cara paling mudah agar tak menjadi korban adalah melakukan pembuktian dengan cara menunjukkan kompetensi diri kita. Jika kita kompeten, pada akhirnya orang lain akan dengan sendirinya menilai kebenaran berita yang disampaikan atau digosipkan tersebut,"ungkap Susi.

Selain itu, penting juga menjalin hubungan baik dengan semua rekan kerja agar tercipta persaingan yang sehat dan positif. Berkomunikasi dengan baik dan saling membantu sebagai tim, akan membuat rekan kerja merasa setara dan tak perlu saling menjatuhkan.

"Kadang kala orang melakukan persaingan tak sehat karena sebenarnya mereka merasa kurang percaya diri dengan kemampuan atau kompetensi mereka dalam bekerja,"jelasnya.(*)



Lakukan Klarifikasi Jika Isu Mengkhawatirkan


MENGHADAPI kenyataan buruknya citra diri kita baik di mata rekan kerja, atasan maupun relasi akibat perbuatan 'saingan' kita pastinya menyakitkan. Sebab, tak bisa dipungkiri, citra diri memiliki andil cukup besar terhadap kesuksesan karier seseorang. Yakni menyangkut kepercayaan orang lain pada kita.

Nah, mengingat betapa pentingnya pembentukan citra diri positif demi kelangsungan karier dan kehidupan sosial, setiap orang pasti tak mau tinggal diam ketika menjadi korban fitnah maupun pembunuhan karakter.

Artinya, penting untuk segera melakukan sesuatu sebagai bentuk pembelaan diri dan menunjukkan pada publik bahwa berita yang selama ini tersebar adalah berita bohong semata.

"Yang penting dilakukan ketika menghadapi fitnah atau pembunuhan karakter adalah tetap fokus pada kompetensi diri serta membangun kekompakan tim serta memperlancar komunikasi,"saran S Susilowati, Psikolog yang juga Senior Excutive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala.

Selain itu, penting juga untuk melakukan counter atau klarifikasi isu atau kabar tentang diri kita jika ternyata kabar yang berkembang tersebut sudah cukup mengkhawatirkan. Baik untuk kehidupan karier maupun kehidupan sosial.

"Kalau perlu ajak bertemu orang yang kita tahu suka menyebarkan berita bohong tentang diri kita. Atau cari orang yang memang 'tukang gosip' untuk membantu kita meng-counter isu-isu bohong tentang diri kita,"jelasnya.

Jalinan komunikasi serta upaya men-counter berita bohong tentang diri kita tersebut hanyalah sebuah usaha yang bisa dilakukan untuk mempertahankan citra diri. Namun yang paling penting diingat adalah kebenaran pasti akan terbuka dengan sendirinya.

Pepatah bijak mengatakan, emas tetaplah emas. Meskipun ditimbun lumpur, ia akan tetap jadi emas. Kalau bagus, maka tetaplah bagus, meski dijelek-jelekan atau difitnah akan tetap terlihat bagus.

"Yang terpenting adalah buktikan saja dengan selalu memberikan kinerja atau pelayanan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang dilakukan,"saran Susi, panggilan akrab wanita berjilbab ini. (*)



Sabar dan Selalu Berpikir Positif


TIDAK mudah untuk menghadapi satu lingkungan dimana citra diri kita sudah rusak akibat perbuatan orang tak bertanggungjawab. Namun, menghadapi kondisi sulit bukan berarti tak bisa dilewati. Sebab, sepanjang kita mau berusaha untuk melakukan hal yang baik, seburuk apapun pembunuhan karakter yang telah dilakukan, lama kelamaan akan terbuka juga kenyataan sebenarnya.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi pembunuhan karakter tanpa luapan emosi? Berikut beberapa tips yang diberikan Susilowati untuk Anda semua:

1. Tetap bersabar

2. Selalu berpikir positif

3. Tetap berusaha menunjukkan kinerja yang terbaik

4. Berkomunikasi dengan baik dengan rekan kerja maupun relasi

5. Terus menerus melakukan introspeksi diri.(*)

4 komentar:

  1. " bisa dibayangkan sendiri akibat yang harus ditanggung jika seseorang mengalami sebuah pembunuhan karakter. "

    inilah yang membawaku di blog ini, Makasih, tipsnya...

    satu yang pasti namun sulit untuk kita jalani "percaya bahwa kebenaran pasti akan terungka"

    BalasHapus
  2. makasih atas info dan tipsnya. sama seperti yg komen pertamax, apa yg membawa ke tulisan ini...

    BalasHapus
  3. Justru kita menunjukkan terbaik akan tetap di nilai buruk,pembunuhan karakter itu berdasarkan asas iri hati.yg mereka mau mereka gembel kita harus ikut gembel,intinya tidak bisa melihat kemajuan atau privasi orng tersebut.hati ny tergelitik melihat kemajuan orng.cocok ny nd solusi baik ny di ajak ring tinju aja orng gtu atau di bunuh nyata aja

    BalasHapus
  4. Jika sudah terbunuh karakternya lantas bagaimana?
    Contoh; misalkan si A dlu adl orang yg rajin namun beliau sering dikucilkan bahkan sesekali di fitnah.. Hingga beliau secara perlahan membunuh karakternya hingga terbawa menjelma menjadi pribadi yang malas.. Alhasil beliau tidak disukai lagi oleh atasannya.

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda