18 Agustus 2008

Pahami Gejala dan Reaksi Alergi Makanan


FOTO: http://iahealth.net
SETIAP orang pasti menginginkan tubuh yang sehat. Namun, untuk medapatkan semua itu, kita dituntut untuk dapat menjaga kondisi badan dengan baik. Termasuk memperhatikan asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh melalui konsumsi makanan empat sehat lima sempurna.

Hanya saja, meski pilihan makanan cukup beragam tapi terkadang tak semua orang bisa dengan leluasa mengonsumsi makanan yang mengundang selera. Itu karena, ada sejumlah makanan yang bisa berefek alergi pada orang yang mengonsumsinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah 'alergi makanan' kerap digunakan oleh masyarakat awam untuk menggambarkan semua reaksi yang tidak normal dan tidak diinginkan. Yakni yang terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu.

Penyebab dari alergi makanan tidak sepenuhnya dimengerti karena alergi makanan bisa menimbulkan sejumlah gejala yang bervariasi. Reaksi terhadap makanan pun bisa bersifat ringan atau fatal, tergantung jenis dan beratnya reaksi. Gejalanya bisa terlokalisir di lambung dan usus atau bisa menimbulkan gejala di berbagai bagian tubuh, setelah makanan dicerna dan diserap.
Menurut dr Asteria, SpA, dokter spesialis anak RS Elizabeth Batam, untuk mengetahui apakah seseorang mengalami alergi makanan atau tidak baru bisa dilihat setelah seseorang mengonsumsi makanan bersangkutan.

Yakni dengan melihat gejala yang ada pada si penderita. Seperti kulit terasa gatal-gatal dan biasanya ditandai dengan bentol-bentol besar di sekitar atau seluruh tubuh, bengkak di bibir atau mata. Tenggorokan gatal, nyeri perut, muntah, hingga mengalami diare, hidung tersumbat, hidung meler juga bisa jadi tanda. Bahkan gejala yang berat seperti sesak napas (asma) dapat juga timbul.

Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah susu sapi, telur, kacang-kacangan, kedelai, makanan seafood seperti kepiting, lobster, udang, cumi. Gandum juga bisa memunculkan alergi.

Untuk alergi telur, cukup sering dialami anak penderita dermatitis atopik atau radang kulit karena alergi. Putih telur dianggap lebih alergenik atau lebih mudah menimbulkan reaksi alergi dibandingkan dengan kuning telur.

Jika Anda merasakan alergi setelah mengonsumsi satu atau lebih makanan penyebab alergi tersebut, maka dapat dipastikan Anda memiliki alergi terhadap makanan tersebut.

"Apabila kita sudah mengetahui makanan apa yang menyebabkan kita menderita misalkan gatal- gatal. Maka makanan tersebut harus segera dihindari atau minimal menjaga jarak. Karena bukan tidak mungkin hal ini akan mengundang selera makan. Eh.. malah kepingin merasakan. Kan bisa repot jadinya," jelas dr Asteria.

Untuk menegakkan diagnosa alergi makanan, dapat dilakukan dengan mengamati hubungan antara makanan dengan timbulnya reaksi alergi. Karena itu, riwayat terjadinya alergi sangat penting untuk diingat. Yang harus digaris bawahi adalah Anda harus benar-benar mengingat makanan apa saja yang dimakan waktu itu. Hal ini penting untuk menghindari agar jangan sampai termakan lagi.

Selain makanan, alergi juga dapat disebabkan faktor lingkungan seperti, sinar matahari, debu rumah, asap kendaraan bermotor maupun pabrik, bahkan buku binatang kesayangan pun dapat menyebabkan alergi. (*)



Ternyata ASI Bisa Cegah Alergi


SELAIN makanan, susu formula berbahan dasar susu sapi juga kerap menimbulkan masalah alergi atau biasa disebut alergi susu. Dan tak berbeda dengan cara mencegah alergi pada makanan, alergi susu juga bisa diatasi dengan mengeliminasi pencetus tersebut.

Artinya, jika anak memang menderita alergi susu sapi, tentunya ia harus dihindarkan dari bahan makanan yang mengandung protein susu sapi.

Bagi anak yang masih bayi, jalan yang paling tepat untuk tetap memberikan asupan nutrisi tubuh adalah dengan memberikan air susu ibu (ASI). Setidaknya, anak mendapatkan ASI ekslusif selama usia 0 sampai enam bulan. Namun, akan jauh lebih baik jika ASI diberikan hingga anak berusia dua tahun.

"Hal ini dilakukan, karena tak ada satu jenis makanan pun yang dapat menggantikan porsi ASI untuk menunjang pertumbuhan bayi. Apalagi jika si bayi diklaim mengidap alergi susu, langkah paling tepat untuknya yaitu dengan memberikan ASI," terang dr Asteria SpA, dokter spesialis anak RS Elizabeth Batam.

Bukan itu saja, ASI juga akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak mengingat ASI berperan sebagai antibiotik alami. Sehingga, pemberian ASI bisa menjadi solusi meminimalkan resiko terkena alergi. Terutama jika anak berasal dari keluarga yang memiliki riwayat alergi. Meskipun tidak dapat mencegah terjadinya alergi, tapi setidaknya bisa meminimalkan resiko.

Adapun gejala alergi susu sapi yang timbul pada kulit bisa berupa eksim atau dermatitis atopi, urtikaria, gangguan saluran cerna seperti muntah, kembung, kolik, diare, tinja berdarah dan saluran nafas seperti asma, batuk, dan pilek.

Pada umumnya, gejala dan tanda yang ditimbulkan akibat alergi susu sapi dibagi atas reaksi cepat yaitu dalam 45 menit setelah paparan. Reaksi ini berupa erupsi pada kulit, bersin-bersin, batuk, hidung berair, atau ngorok.

Sedangkan reaksi lambat yang terjadi dalam 20 jam setelah paparan bisa berupa diare, pucat, atau muntah. Ada juga reaksi sangat lambat yakni setelah 20 jam akan berupa diare dan gejala gangguan pernafasan.

"Pemberian ASI merupakan cara terbaik untuk menghindari alergi susu sapi. Pemberian ASI eksklusif merupakan upaya pencegahan sedini mungkin. Pengenalan susu sapi setelah enam bulan akan mengurangi kejadian alergi susu sapi pada si bayi,"ungkapnya.

Namun bagi bayi yang memang benar-benar tak diasuh ibu, baik karena meninggal atau ditinggal pergi, sebaiknya bayi yang tidak disusui ASI. Namun lebih dianjurkan mengonsumsi susu formula hipoalergenik atau formula untuk pencegahan terutama usia bayi di bawah enam bulan.

Dan bila anak dicurigai alergi susu sapi, bisa menggunakan susu protein hidrolisat. Penggunaan susu soya harus tetap diwaspadai karena 30 hingga 50 persen bayi masih mengalami alergi terhadap soya. (*)



Hindari Pencetus Sejak Kehamilan


SEMUAorangtua pasti menginginkan anaknya selalu dalam kondisi sehat dan memiliki pertumbuhan yang normal. Karenanya tak mengherankan bila setiap orangtua berusaha memberikan asupan nutrisi yang paling lengkap demi menunjang tumbuh kembang anak.

Namun, mengingat tak semua anak bisa mengonsumsi setiap jenis makanan secara 'aman' tak ada salahnya jika orangtua lebih jeli dalam mengantisipasi munculnya alergi makanan pada anak.

Nah, sebagai panduan berikut sejumlah tips yang mungkin bisa menjadi panduan orangtua agar buah hati terhindar dari keluhan alergi yang lebih berat dan berkepanjangan:

1. Hindari atau minimalkan penyebab alergi sejak dalam kandungan, dalam hal ini oleh ibu. Terutama jika ibu hamil mendapati janinnya bergerak atau menendang dengan keras dan berlebihan selama dalam kandungan. Terlebih bila disertai gerakan denyutan keras atau hiccups atau cegukan terutama pada malam atau pagi hari. Jika terjadi kondisi tersebut, ibu sebaiknya mulai menghindari penyebab alergi sedini mungkin. Committes on Nutrition AAP menganjurkan, eliminasi diet jenis kacang-kacangan untuk pencegahan alergi sejak dalam kehamilan.

2. Pemberian makanan padat dini dapat meningkatkan resiko timbulnya alergi. Bayi yang mendapat makanan pada usia enam bulan mempunyai angka kejadian dermatitis alergi yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mulai mendapat makanan tambahan pada usia tiga bulan.

3. Hindari paparan debu di lingkungan seperti pemakaian karpet, korden tebal, kasur kapuk, tumpukan baju atau buku. Hindari pencetus yang berasal dari binatang seperti bulu binatang piaraan kucing, kecoak, tungau pada kasur kapuk.

4. Tunda pemberian makanan penyebab alergi, seperti ayam di atas 1 tahun, telur, kacang tanah di atas usia 2 tahun dan ikan laut di atas usia 3 tahun.

5. Saat membeli makanan, biasakan untuk mengetahui komposisi makanan atau membaca label komposisi di produk makanan tersebut.

6. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dapat mencegah resiko alergi pada bayi. Bila bayi minum ASI, sebisa mungkin ibu juga harus menghindari makanan penyebab alergi. Sebab, makanan yang dikonsumsi ibu dapat masuk ke tubuh bayi melalui ASI. Terutama kacang-kacangan. Pertimbangkan juga untuk menunda telur, susu sapi dan ikan. Meskipun masih terdapat beberapa penelitian yang bertolak belakang tentang hal ini.

7. Bila pemberian ASI tidak memungkinkan, maka bayi dapat diberikan susu hipoalergenik formula untuk pencegahan terutama usia di bawah 6 bulan. Bila dicurigai alergi terhadap susu sapi, bisa menggunakan susu protein hidrolisat. Penggunaan susu soya harus tetap diwaspadai karena 30 hingga 50 persen bayi masih mengalami alergi terhadap soya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda