06 September 2008

Glaukoma Sebabkan Kebutaan Permanen

PENYAKIT mata katarak, mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Namun bagaimana dengan glaukoma? Rasanya nama penyakit yang satu ini masih terasa asing.

Tapi, keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama menyerang mata hingga menyebabkan kebutaan selamanya. Bedanya, katarak dapat disembuhkan dengan operasi, sedang glaukoma hanya bisa dihentikan dan dicegah.

Glaukoma merupakan penyakit mata terbanyak kedua setelah katarak, jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan kebutaan permanen pada penderita. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang glaukoma membuat jumlah penderita penyakit ini meningkat secara signifikan.

Glaukoma adalah kelompok penyakit saraf optik mata akibat tekanan yang tinggi pada bola mata atau tekanan intra ocular yang cukup tinggi.


Tekanan dapat dipicu peningkatan produksi cairan mata, penghambatan cairan mata, serta tekanan vena episklera seperti tumor. Bila tingkat tekanan bola mata melebihi 21MMHG, itu sudah dikategorikan menderita glaukoma.

Berdasarkan survei WHO pada 2000, dari sekitar 45 juta penderita kebutaan di dunia, sekitar 16 persen diantaranya disebabkan glaukoma. Sementara di Indonesia, 0,2 persen kebutaan permanen juga disebabkan penyakit ini.

Menurut Dr dr Ikke Sumantri SpM(K) saat menjadi pembicara pada seminar dan workshop bertajuk "glaukoma si pencuri penglihatan" yang di gelar RS Awal Bros di Hotel Novotel Batam beberapa waktu lalu, jika tekanan bola mata tak dihentikan, penderita akan mengalami kerusakan serabut saraf pada mata.

Yang lebih mengkhawatirkan, penyakit ini akan membuat mata penderitanya kehilangan lapang pandang (skotoma). Jika dibiarkan, seluruh saraf mata bisa rusak dan menimbulkan kebutaan permanen.

"Biasanya gejala awal glaukoma adalah mata merah, nyeri, rasa pusing terus menerus, rasa mual dan ingin muntah, penglihatan mendadak buram dengan penglihatan lapang pandang yang menyempit, " jelas dr Ikke yang juga Ketua Seminar Glaukoma Indonesia beberapa waktu lalu.

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami gangguan penglihatan lapang pandang, caranya cukup mudah. Yakni dengan menutup salah satu mata dengan tangan, mata yang terbuka difokuskan pada satu benda yang berada tepat lurus di depan. Bagi mata normal, meski mata ditutup satu tangan masih bisa melihat benda-benda lain di samping kanan dan kiri. Sedang penderita glaukoma hanya dapat melihat benda-benda yang terletak pada arah fokusnya saja.

"Bila kita hanya melihat samping kanan, kiri dan sekitarnya terlihat gelap, seperti melihat lubang kunci, sedang di sekelilingnya tidak dapat terlihat. Ketidakwajaran penglihatan ini harus segera diperiksa. Karena pada mata yang normal, kita dapat melihat mulai bagian atas, bawah, samping kanan dan kiri dengan baik, "ujar dr Ikke.

Untuk mata yang normal tekanan bola mata yang terukur antara 10 mmHg sampai 20 mmHg. Apabila melebihi di atas 21 mmHG, maka akan terjadi penekanan terhadap saraf mata (nerves II) dan akan menimbulkan kerusakan permanen. Hal ini menyebabkan kematian pada sistem saraf yang akan membentuk bintik buta dan berpengaruh pada daya penglihatan.

Walau tekanan bola mata tinggi di atas 21 mmHG, tapi faktor risiko glaukoma baru sebesar 30 persen saja. Pasien baru akan di vonis menderita glaukoma apabila struktur dan fungsinya juga mengalami kerusakan.

"Yang termasuk dalam struktur adalah bagian anatomi saraf mata yang mengandung sel dan serabut saraf mata. Jika serabut saraf mata rusak akibat tekanan bola mata yang berlarut-larut tanpa ada penanganan akan membuatnya tak bisa berfungsi dengan baik. Jika sudah begini, penderita dipastikan mengalami glaukoma hingga kebutaan permanen,"ungkap dr Ikke.

Selain itu, penderita jantung, hipertansi dan diabetes, juga harus cepat memeriksakan diri. Karena penyakit tersebut membuat seseorang memilliki faktor risiko terkena glaukoma.

"Untuk menghindari glaukoma, kami mengimbau agar masyarakat tetap menjaga pola hidup sehat dengan menjaga makanan dari kolesterol, olahraga teratur, mengonsumsi vitamin A dan antioksida," jelas Ikke.(*)




Periksa Mata 6 Bulan Sekali


MENGINGAT glaukoma masuk kategori penyakit yang berakibat fatal yakni hilangnya penglihatan, tentunya penyakit ini tak bisa diremehkan. Sehingga, deteksi dini merupakan langkah paling tepat untuk segera dilakukan.

"Penyakit ini jika dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya penanganan yang serius, akan mengakibatkan penderita mengalami kebutaan total yang tidak dapat disembuhkan," jelas Dr dr Ikke Sumantri SpM(K) beberapa waktu lalu.

Ada beberapa faktor risiko yang harus diperhatikan masyarakat agar terhindar dari penyakit ini. Setiap orang dianjurkan lebih memperhatikan kesehatan mata melalui pengukuran tekanan bola mata secara rutin. Terutama bagi yang berusia di atas 40 tahun, mata minus tinggi atau plus tinggi (miopia), serta penderita penyakit sistemik seperti diabetes atau jantung.

Artinya, bagi orang yang memiliki risiko tinggi mengalami glaukoma, sebaiknya pemeriksaan mata dilakukan secara rutin setiap enam bulan sekali.

"Saat dibawa ke dokter atau rumah sakit, pasien akan diukur tekanan bola matanya, dengan menggunakan alat untuk menguji lapang pandang mata," jelasnya.

Jika dalam pemeriksaan tersebut ditemukan indikasi seseorang mengalami penyakit glaukoma, maka dokter akan segera memberikan tindakan pengobatan agar akibatnya tidak meluas. Apalagi, hingga mengakibatkan kebutaan secara permanen.

Fungsi utama pengobatan glaukoma itu sendiri adalah mempertahankan penglihatan atau visus. Dan mengingat faktor risiko utama glaukoma adalah tekanan bola mata tinggi, maka pengobatan sampai saat ini masih dilakukan dengan menurunkan tekanan bola mata.
Karena hanya melalui faktor ini yang dapat dimanipulasi, sementara faktor lain masih dalam penelitian.

Menurunkan tekanan bola mata dapat dicapai dengan obat-obatan, laser dan operasi. Perlu diperhatikan,bahwa tindakan ini harus dilakukan dengan teratur untuk dikontrol oleh dokter mata, agar kerusakan saraf mata lebih parah dapat dicegah. (*)



Waspadai Tetes Mata Mengandung Stereoid


MEMPELAJARI faktor risiko untuk meminimalkan kemungkinan terkena penyakit glaukoma merupakan langkah penting yang harus dilakukan. Itu karena, orang yang memahami bahwa dirinya berisiko terkena penyakit tertentu, biasanya akan lebih berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu yang berbahaya.

Nah, untuk mengetahui siapa saja yang memiliki faktor risiko lebih tinggi terkena glaukoma, berikut beberapa di antaranya:

1. Risiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia. Terdapat 2 persen dari populasi usia 40 tahun yang terkena glaukoma. Angka ini akan bertambah seiring bertambahnya usia.

2. Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai resiko 6 kali lebih besar untuk terkena glaukoma. Resiko terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.

3. Tekanan bola mata diatas 21 mmHg berisiko tinggi terkena glaukoma. Meskipun untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik. Untuk mengukur tekanan bola mata dapat dilakukan dirumah sakit mata dan atau dokter spesialis mata.

4. Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asthma, obat steroid untuk radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya. Bila Anda pemakai obat-abatan steroid secara rutin, sangat dianjurkan memeriksakan diri ke dokter spesialis mata untuk pendeteksian glaukoma.

5. Kecelakaan yang membuat mata terganggu.

6. Riwayat penyakit diabetes (kencing manis), hipertensi dan migren. (*)

2 komentar:

  1. Hi Mama Neisha Diva, Assalammu'alaikum wrwb.
    Article ini bagus sekali, saya ada pertanyaan barangkali ada yg bisa bantu jawab.

    Pada jenis obat mata apa saja yg mengandung Stereoid tsb?

    Thanks & Wassalam
    Ria

    BalasHapus
  2. Saya adalah penderita glaukoma, tetapi alhamdulillah sekarang sudah bisa bebas dari penyakit tersebut. Dulu, saya bahkan telah divonis harus menjalani pengobatan seumur hidup dan nggak boleh punya anak lagi. Tetapi saya beruntung. Saya menemukan obat tetes mata herbal yang sangat mujarab. Berkat obat tetes mata itu saya bisa sembuh. Bagi para penderita glaukoma jangan buru-buru operasi. Pakai obat tetes mata ini dulu.Kisah saya itu saya tulis di blog http://www.tokoradixvitae.blogspot.com. Mama Neisha Diva, tolong tampilkan komentar ini biar semakin banyak penderita glaukoma yang tertolong.

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda