23 September 2008

Jika Anak Lebih Lengket dengan Pengasuh

PASANGAN suami istri yang sama-sama bekerja sekarang ini sudah bukan hal yang asing lagi. Sebab, seiring perkembangan waktu laki-laki bukan satu-satunya pihak yang berperan sebagai tulang punggung keluarga.
Bukan saja akibat desakan kebutuhan ekonomi, memiliki pekerjaan bagi seorang wanita juga menjadi satu kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Yakni untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat.
Keterlibatan wanita sebagai pencari nafkah, mau tidak mau mendorong keluarga ini menyerahkan urusan rumah tangga pada orang lain. Baik asisten maupun pembantu rumah tangga. Termasuk dalam hal pengasuhan anak. Khusus pengasuhan anak, ada juga yang menyerahkannya pada baby sitter atau pengasuh anak.
Yang terjadi akhirnya, anak yang semestinya di bawah pengasuhan dan perawatan ibu tak jarang justru menjadi lebih dekat dengan baby sitter ataupun pembantu. Hal itu wajar karena kesibukan ibu membuat anak jarang berhubungan serta berkomunikasi dengan orang yang melahirkannya.

Tapi, apakah kesibukan orangtua merupakan satu-satunya alasan anak memilih baby sitter (pengasuh) atau pembantu sebagai tempat menggantungkan diri?
"Sebenarnya kedekatan anak pada baby sitter atau pembantu bukan karena faktor intensitas kebersamaan. Sebab, penekanan pada kedekatan tersebut lebih banyak pada siapa yang memenuhi kebutuhan anak,"jelas Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog kota Batam.
Dalam masa perkembangannya, anak akan mempunyai obyek kelekatan. Obyek kelekatan ini adalah seseorang yang dianggap anak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, mengerti apa yang dimaksudkannya dan bisa memberi rasa aman. Umumnya hal tersebut diperoleh dari figur seorang ibu atau pengasuhnya.
Jika seorang baby sitter lebih banyak waktu bersama anak, daripada seorang ibu, bisa jadi anak akan lebih dekat dengan baby sitter-nya. Itu karena, secara otomatis kebutuhan-kebutuhan anak sebagian besar akan dipenuhi baby sitter. Faktor pemenuhan kebutuhan itulah yang menjadikan anak lengket pada baby sitter. Jadi kedekatan itu bukan karena sering bersama tapi karena pemenuhan kebutuhan anak.
Selain kebutuhan fisik seperti kebutuhan susu, digendong, makan, dan sebagainya anak juga membutuhkan kelekatan secara emosional. Misalnya ditemani, didengarkan, diajak bermain, dicintai, dimengerti, dan sebagainya.
"Jika kebutuhan emosional ini juga lebih banyak dipenuhi baby sitter, tentu saja anak akan memilih baby sitter-nya ketimbang sang ibu,"terang Dhea, panggilan akrab Bibiana.
Tak hanya itu, kebiasaan ibu mengomel yang berlebihan, marah penuh emosional, larangan yang bertubi-tubi, suruhan yang memaksa, serta ancaman-ancaman yang diberikan cenderung akan dihindari anak.

Akhirnya anak akan menjadi lebih senang curhat pada baby sitter, lebih senang didongengi baby sitter, lebih senang mandi, makan, serta meminta tolong lainnya pada baby sitter. Jika sudah begitu, perlu instropeksi dari ibu tentang cara komunikasi dengan anak.
Penyebab kelekatan anak pada baby sitter lainnya adalah cara membujuk yang salah dari baby sitter. Pada kasus ini, anak lebih lengket dengan dia karena pembentukan persepsi yang salah. Misalnya karena pembantu atau baby sitter mengancam akan memanggil polisi jika anak tidak mau mandi, memanggil dokter jika tak mau makan, dan sebagainya.
Akhirnya, anak merasa jika dia dekat dengan baby sitter-nya maka ancaman-ancaman itu pasti tidak akan dialaminya. Sehingga pada kasus ini, ibu harus lebih ekstra usaha dalam mengubah persepsi anak dan kembali menjadi obyek kelekatan bagi anak. (*)


Pelajari Kebiasaan Anak Bersama Baby Sitter
MENGHADAPI kenyataan anak lebih lengket dengan baby sitter atau pembantu tentu sangat menyedihkan bagi seorang ibu. Sebab, bagaimana pun juga ibu adalah orang yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkan anak.
Kesedihan tersebut terkadang memunculkan rasa cemburu dan iri pada diri ibu. Bahkan, saking sedihnya ada ibu yang berniat memecat baby sitter atau pembantu agar anak berbalik lengket dengan ibu.
Padahal, tindakan tersebut bukanlah cara yang bijaksana dan tidak akan menyelesaikan masalah. Anak bisa jadi malah marah pada ibu atau orangtua karena menghilangkan obyek kelekatannya. Anak makin merasa tidak nyaman, sementara ibu tidak memperlakukan anak sesuai 'kebiasaan' yang diberikan baby sitter.
"Untuk mengambil hati anak kuncinya adalah terpenuhinya kebutuhan anak baik secara fisik, maupun emosional. Jika anak sudah terlanjur lengket dengan pembantu atau baby sitter daripada ibunya ada beberapa hal yang harus dilakukan,"terang Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog Kota Batam.
Langkah pertama adalah ibu harus segera melakukan instrospeksi. Yakni membandingkan perlakuan baby sitter pada anak dengan perlakuan sang ibu. Mungkin ada cara yang disukai anak dari sang baby sitter atau pembantu. Misalnya, kesabarannya, cara memberi hadiah yang menarik, mungkin mau disuruh-suruh, dan sebagainya.
"Identifikasi juga kebutuhan spesifik anak. Misalnya kebiasaan anak saat makan, mandi, dan sebagainya. Sebut saja anak lebih suka disuapi sambil jalan-jalan daripada saat makan dengan ibu yang diharuskan duduk di meja dengan rapi. Hal sepele seperti ini bisa juga memunculkan kenyamanan pada anak,"terangnya.
Untuk 'merebut' hati anak juga dibutuhkan cara yang tepat. Anak akan lebih mudah memilih ibu bila ibu memperlakukan anak dengan cara yang baru tapi senyaman atau bahkan lebih dari yang diharapkan anak.
"Mulailah banyak terlibat dengan anak, luangkan lebih banyak waktu untuk bermain dan tambah untuk waktu komunikasi. Walaupun ibu bekerja, saat di rumah, sedapat mungkin bisa total bersama dan memenuhi kebutuhan anak. Sebab, biasanya saat ibu kecapekan kerja, justru meminta anak menjauhi dan tidak mau mengganggu ibu,"jelasnya.
Cara lain yang juga harus dilakukan adalah dengan membangun komunikasi melalui pemberian perhatian, serta mendengarkan anak saat mereka menceritakan tentang kegiatan-kegiatannya. Jangan lupa memberi pujian-pujian bagi semua usaha yang dilakukannya.
"Hindari juga lupa pada janji untuk anak. Dan sedapat mungkin memberi kejutan-kejutan yang menyenangkan,"terang Dhea, panggilan akrab Bibiana.
Mengikuti kegiatan anak dan memberikan atensi pada hal-hal khusus bisa juga dilakukan. Misalnya menelpon, menanyakan hari ini ingin makan apa atau segera menelpon jika hari hujan lebat agar anak nyaman.
"Dengan dipenuhinya kebutuhan anak, serta kedekatan yang dibangun melalui komunikasi yang hangat dan intensif, anak tetap akan lebih lekat pada ibunya. Selain faktor naluriah, anak juga tahu di mana posisi ibu dan di mana seharusnya posisi baby sitter.  Sebenarnya, hanya karena  'dikondisikan' orangtua atau ibu lah, maka anak lebih dekat pada pembantu atau baby sitter,"katanya. (*)


Komunikasikan jika Pengasuh Harus Berhenti Kerja
MEMILIKI anak yang lengket dengan baby sitter atau pembantu di satu sisi memang menguntungkan. Sebab, saat meninggalkan anak dalam waktu lama untuk bekerja, orangtua tidak perlu khawatir anaknya akan rewel.
Namun, kedekatan tersebut bisa menimbulkan masalah baru bila ternyata di tengah perjalanan waktu baby sitter atau pembantu harus berhenti kerja atau pergi dalam waktu lama. Sebut saja pulang kampung atau bahkan anak yang harus ikut orangtua mudik.
"Saat baby sitter atau pembantu tidak lagi mengasuh anak. Misalnya karena berhenti atau pulang kampung untuk jangka waktu tertentu, saat tersebut bisa menjadi momen merebut hati anak,"jelas Bibiana Dyah Sucahyani.
Namun, sebelum pembantu meninggalkan anak dalam pengasuhan ibu, sebisa mungkin jangan dilakukan secara mendadak. Artinya, jauh-jauh hari sebelum ditinggal, anak harus diberi pemahaman, bahwa baby sitter-nya akan 'pergi'  sementara waktu. Dan sedapat  mungkin latih anak juga untuk belajar mandiri.
Misalnya saat baby sitter tidak ada, anak diharapkan bisa makan sendiri, dan sebagainya. Tawarkan juga pada anak, jika nanti baby sitter pergi, bisa meminta tolong pada ibu atau ayah atau pada yang lain.
Dan saat baby sitter benar-benar telah pergi, jangan lupa untuk meyakinkan anak, bahwa apa yang dibutuhkannya bisa terpenuhi. Misalnya, pujian betapa dia sudah pandai makan sendiri, ungkapan rasa senang bisa mandi berdua anak, bisa main bersama anak, dan sebagainya.
"Dengan cara ini, anak mulai memperluas obyek kelekatannya. Artinya tidak hanya dengan baby sitter-nya, tetapi juga dengan ibunya. Bahkan ternyata kebutuhannya juga bisa dipenuhi oleh ayah, tante, kakak juga dirinya sendiri. Sehingga saat baby sitternya datang pun anak lebih mandiri dan bisa dekat dengan siapapun,"jelasnya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda