19 Maret 2008

Jadi Penulis Nggak Harus Modal Bakat

PENGEN ngirim cerpen ama artikel ke majalah tapi takut ditolak! Kira-kira cerita yang bakal aku bikin sama enggak ya ama cerita punya orang? Terus kira-kira ceritaku menarik gak ya? Uufh... gimana dong? Aduh binguung...

Mmm... kira-kira pernah enggak youngsters ngerasain ketakutan kayak gitu? Kalo iya, wah agaknya mental youngsters perlu digembleng lagi. Soalnya profesi apapun termasuk menulis tetap aja butuh perjalanan panjang, ketekunan dan keyakinan untuk bisa meraih sukses.

Liat aja Joane Kathleen Rowling alias JK Rowling sang penulis tokoh fenomenal Harry Potter. Kalau sekarang ini Jo, panggilan akrab JK Rowling, bisa kaya ngalahin Ratu Inggris setelah nulis cerita Harry Potter awalnya juga musti melewati jalan panjang loh.

Malahan waktu berusia belasan, Jo masih belum berani nunjukin hasil tulisannya pada oranglain meskipun karya yang dihasilkannya sudah banyak. Bayangin aja, penulis sehebat JK Rowling aja pernah ngerasa enggak pede ama tulisannya sendiri.

Bukan itu saja loh, Jo juga berkali-kali nerima penolakan dari perusahaan penerbitan yang nganggap tulisan Jo tentang Harry Potter adalah cerita khayalan yang aneh. Tapi karena enggak pantang menyerah akhirnya Jo sukses dengan cerita yang selalu diremehkan orang kan?

Nah, belajar dari keuletan dan kesuksesan JK Rowling, gimana kalo youngsters mulai ngasah kemampuan nulis dan bikin sebuah karya. Siapa tahu, nantinya kamu-kamu bakal sesukses dan setenar JK Rowling. Who knows?

Apalagi, dalam dunia tulis menulis bukan bakat yang dibutuhkan sebagai modal utama tapi lebih pada kemauan, ketekunan dan keuletan untuk mengasah kemampuan. Kalaupun ada faktor bakat, prosentasenya enggak lebih dari 1 persen. (*)



Ide Bisa Datang Darimana Saja

IDE kadang jadi kambing hitam dan alasan kenapa orang enggan untuk mulai nulis sebuah karya. "Aduh... lagi enggak ada ide nih.." ato "Wah, ideku udah keduluan ama orang, gimana ya?"

Please deh.... hari gini masih disibukkan ama yang namanya mencari ide. Ide itu ada di mana- mana bahkan ada di sekitar kita. Temen yang lagi ngelamun aja bisa jadi ide yahud untuk dituangkan dalam sebuah cerita yang menarik.

"Ide itu seperti air susu ibu atau ASI. Semakin sering diperah, air susu yang keluar akan semakin banyak. Nah, kalau kamu pengen punya banyak ide, segera bikin tulisan yang isinya nggambarin ide-ide yang kamu punya,"terang Mbak Nurul F Huda, penulis sekaligus Dosen Bahasa Indonesia Politeknik Batam.

Nah, biar ide enggak langsung ilang setelah melintas dalam benak, kamu-kamu kudu rajin catat ide itu. Misalnya aja dicatat di buku harian atau dalam binder kamu. Curhat harianpun boleh ditulis loh. Mana tahu suatu saat nanti bisa jadi ide tulisan yang cemerlang.

Trus kalo ternyata ide kita ternyata sama ama punya orang gimana dong? Kalau sekadar punya ide yang sama sebenarnya sah-sah saja. Karena peristiwa yang menelurkan ide itu kadang juga dialami orang. Hanya saja, kalo kamu-kamu terus terpaku ama rasa takut untuk memulai bikin tulisan, kapan dong bisa sukses jadi penulis?

"Sebisa mungkin hilangkan pikiran-pikiran negatif yang hanya akan mempengaruhi keinginan untuk nulis. Kalau memang ada ide yang sama bisa saja kamu modifikasi biar enggak sama persis. Soalnya yang enggak boleh itu adalah plagiat alias njiplak karya oranglain,"katanya.

Kalo kamu terbiasa mencatat ide dan menuangkan ide itu dalam bentuk tulisan, ide yang kamu bilang sulit didapet itu akan datang dengan sendirinya. Bahkan, saat melihat kejadian di jalan, baca koran, nonton sinetron, atau aktivitas lain yang kadang mustahil mendatangkan ide pun bisa jadi sumber ide. Nggak sulit kan? (*)



Biasakan Bikin Kerangka Cerita

SETELAH kamu-kamu nemuin ide untuk jadi tema cerita, ada hal penting yang tak boleh diabaikan untuk dilakukan. Yakni bikin sebuah kerangka cerita. Soalnya, kalo bikin tulisan enggak berbekal sebuah kerangka, apa yang pengen kamu tuangin dalam bentuk cerita hasilnya bisa jadi kurang maksimal.

Misalnya aja mentok atau habis kata-kata untuk ngelanjutin cerita yang udah setengah jalan. Sayang banget kan? Apalagi, kalo sebenarnya ide yang mau kamu tuangin itu oke banget. Hanya gara-gara malas bikin kerangka karangan jadi bubar deh apa yang pengen ditulis.

"Untuk membuat tulisan apapun baik fiksi maupun non fiksi, penting untuk membuat kerangka yang berisi sedikit gambaran isi cerita. Berbekal kerangka cerita dan data pendukung, pembuatan cerita akan lebih mudah mengalir,"terang Mbak Nurul.

Dalam bahasa penulis, proses pembuatan kerangka itu biasa disebut sebagai proses penghamilan. Proses penghamilan itu juga meliputi pengumpulan data yang akan jadi informasi pendukung waktu membuat sebuah cerita.

Misalnya aja setting yang mau diambil adalah daerah Padang, Sumatera Barat, harus diketahui dulu apa saja informasi tentang Padang yang bakal dibutuhkan sebagai pendukung untuk membuat sebuah cerita.

"Bagi penulis pemula kerangka bisa dituangkan dalam sebuah tulisan. Tapi jika nanti sudah terbiasa menulis, kerangka itu cukup disimpan dalam pikiran saja tanpa perlu ditulis,"katanya.

Setelah cerita selesai ditulis secara keseluruhan, jangan lupa untuk mengedit kembali isi cerita. Bila masih ada kalimat atau kata yang belum pas atau kurang bisa diperbaiki. Proses editing tersebut bisa sekaligus dijadikan media untuk memperbarui kalimat yang dirasa masih kurang.

Melalui proses editing juga akan diketahui apakah cerita yang dibuat memiliki kalimat yang runut dan gampang dipahami oranglain. Sehingga, jangan sampai isi cerita membingungkan. Kalau kita yang bikin tulisan aja bingung gimana dengan oranglain yang baca? Nah loh... (*)



Tips Ngirim Tulisan ke Media

Untuk Tampilan Fisik

1. Pastikan naskah terbungkus dalam sampul yang rapi. Bahkan jika memungkinkan gunakan amplop ukuran folio atau kuarto biar tulisan enggak lecek waktu sampe redaksi.

2. Jangan abaikan aturan penulisan standar. Misalnya aja margin tulisan, font, spasi dan aturan laennya.

3. Lengkapi dengan sinopsis cerita. Ini penting untuk memudahkan editor dalam proses seleksi tulisan. Berdasarkan sinopsis akan diketahui gambaran cerita secara utuh tanpa perlu membaca keseluruhan.

4. Lampirkan biodata atau data diri penulis sekaligus pengalaman dan tulisan yang pernah dimuat media. Keterangan itu akan jadi referensi dan pertimbangan atas tulisan.

Untuk Materi Tulisan

1. Pastikan paragraf pertama atau lead serta judul menarik orang untuk membaca tulisan kita.

2. Selain lead dan judul, isi cerita sudah pasti harus menarik dong.

3. Pastikan naskah yang akan dikirimkan emang sesuai ama segmentasi media massa yang dituju. Misalnya aja majalah remaja yang ingin dituju, otomatis cerita yang dibikin cerita tentang remaja donk...Kalo majalah enggak punya rubrik puisi ato opini, sebaiknya jangan maksain diri kirim naskah ke sana. Karna itu hanya akan jadi kerja sia-sia. (*)

1 komentar:

Terimakasih sudah mampir, silahkan tinggalkan komentar Anda