19 Juli 2008

WASPADALAH! Sering Kencing Malam Bisa Jadi Gejala Awal Diabetes Melitus


APA GEJALA AWAL PENYAKIT DIABETES MELITUS YANG HARUS DIWASPADAI?

DIABETES Mellitus atau biasa disebut kencing manis merupakan penyakit mematikan yang cenderung kurang disadari oleh penderitanya.

Hal ini wajar karena memang penyakit yang dapat menimbulkan kebutaan, gangguan ginjal dan saraf ini secara epidemiologis sudah dimulai sejak lima tahun sebelum terdiagnosis.

"Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Federasi Diabetes Internasional memperkirakan lebih dari 50 persen pengidap diabetes tipe 2 tidak berdiagnosis. Penyakit ini umumnya baru ketahuan saat berobat untuk penyakit lain," ungkap dr. Alfian Nurbi SpPD, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam.





Parahnya, meski penyakit DM telah terdiagnosis, penderita umumnya masih enggan menjaga pola makan maupun melakukan olahraga secara teratur.

Hal ini karena memang di awal terserang penyakit ini, penderita masih belum merasakan gangguan kesehatan yang berarti.

Padahal, jika langkah pengobatan atau pencegahan dilakukan sejak dini, komplikasi yang ditimbulkan akibat penyakit ini bisa diminimalisir.

Apalagi, biasanya orang lebih cenderung kurang memperhatikan tanda-tanda ringan yang bisa jadi pertanda munculnya penyakit ini.

"Kebanyakan, keluhan sering kencing di malam hari dianggap hal biasa. Padahal, sering kencing malam adalah salah satu gejala diabetes yang sangat spesifik. Selain itu, kecenderungan banyak makan serta banyak minum juga patut diwaspadai," ungkap dr Alfian.

Jika hasil diagnosis seseorang positif terkena diabetes, maka gula darah, berat badan, tekanan darah, kadar lemak darah harus dikendalikan.

Kalau dengan diet dan olahraga tidak terkontrol, maka harus dilakukan dengan obat.

"Pasien tak boleh hanya asal minum obat tanpa mengecek apakah kadar gula darah terkontrol atau tidak. Begitu juga dengan tekanan darah serta kadar kolesterol. Sebab, baik kadar gula darah, tekanan darah maupun kadar kolesterol harus selalu terkontrol. Jika semua terkontrol dan obat diminum seumur hidup, maka penderita diabates bisa hidup normal," katanya.

Cara kerja obat penurun gula darah ini sendiri dibagi menjadi tiga golongan.

Yaitu, pemicu sekresi insulin (jenis sulfonylurea dan glinid), penambah sensitivitas terhadap insulin (metformin dan tiazolidindion) serta penghambat absorpsi glukosa (penghambat glukosidase alfa/acarbose).

Menurut Dr. Alfian, sel beta pada penderita diabetes akan makin berkurang, sehingga obat harus ditambah.

Sampai suatu saat obat tidak mempan lagi. Penderita harus memakai insulin. Saat ini penggunaan insulin sangat mudah. Penderita tinggal memasukkan secara subkutan (di bawah kulit) dengan pena berjarum halus, sehingga tak terasa sakit. (*)



Kalori Tinggi Fast Food Bisa Picu Diabetes Melitus



MESKIPUN diabetes mellitus (DM) atau kencing manis merupakan penyakit turunan keluarga, tetapi ternyata penyakit ini dapat dialami semua orang tanpa memperhatikan ada atau tidaknya riwayat diabetes dalam keluarga.

Hanya saja, orang yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes memang lebih rentan terkena penyakit ini.

Namun, bagi yang berasal dari keluarga yang menderita DM tak perlu resah.

Karena reskio terkena penyakit yang bisa mengakibatkan sejumlah komplikasi pembuluh darah, kebutaan, ginjal, saraf, stroke serta gangguan jantung ini bisa dikurangi.

Sebab, seseorang dengan riwayat keluarga mengidap diabetes atau kencing manis tidak secara otomatis akan mewarisinya.

Artinya faktor turunan saja tidak cukup, karena harus ada faktor pencetus yang menjadi pemicu munculnya penyakit ini.

"Faktor pencetus yang dapat memicu tingginya resiko terkena DM antara lain, cenderung makan dengan kalori berlebihan atau banyak mengonsumsi makanan siap saji berkalori tinggi, kurang makan sayuran dan buahan, banyak makan karbohidrat sederhana seperti cake, produk bakeri, serta kurang berolahraga," ungkap dr Alfian Nurbi SpPD, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam.

Sehingga cara terbaik mengurangi resiko terkena diabetes turunan selain menghindari beberapa faktor pencetus adalah dengan menerapkan gaya hidup terkontrol, olahraga cukup, menjaga berat badan tidak berlebih dan pemeriksaan kesehatan secara teratur.

"Sebaliknya, pola makan yang tak terkontrol, kegemukan tanpa diimbangi olahraga hanya akan membawa seseorang mengidap penyakit mahal dan mengganggu kualitas hidup sepanjang umur. Sehingga, faktor kedisiplinan menjalankan pola hidup sehat ini sangat diperlukan," kata dr Alfian.

Jika ternyata pengontrolan kadar gula darah dalam tubuh gagal dilakukan dengan cara tersebut, penggunaan obat oral dan suntikan insulin yang merupakan fase lanjutan setelah pengontrolan gaya hidup dan olahraga terpaksa dilakukan. (*)





Penderita Over Weight Rentan DM



MEMILIKI berat badan yang melebihi normal atau biasa disebut over weight diyakini lebih rentan terkena berbagai macam penyakit.

Termasuk terkena penyakit diabetes mellitus atau kencing manis. Apalagi, bila yang bersangkutan berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit ini.

"Bagi mereka yang beresiko tinggi terkena diabetes yang terpenting adalah jangan kelebihan berat badan. Sebab, diabetes berkaitan dengan sekresi hormone insulin maupun kerja insulin terkait reseptor insulin di sel otot dan lemak. Pada orang gemuk, produksi insulin dipacu untuk memenuhi kebutuhan energi. Sebaliknya kegemukan juga memicu resistensi insulin," kata dr Alfian Nurbi SpPD, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Awal Bros Batam.

Bagi yang berisiko tinggi terkena diabetes berusia lebih dari 45 tahun, berberat badan lebih (IMT lebih 23 kg/m2), hipertensi (lebih dari 140/90 mmHg), serta memiliki riwayat diabetes pada keluarga dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan dini.

Begitu juga bagi yang melahirkan bayi berat badan lebih 4000 gram, kolesterol tinggi (HDL lebih 35 mg/dl).

"Jika hasil diagnosis positif, maka gula darah, berat badan, tekanan darah, dan kadar lemak darah harus dikendalikan. Pengukuran kadar gula darah bisa dilakukan setiap bulan. Jika kadar gula darah puasa antara 80 hingga 120 mg per dl maka kadar gula darah telah terkontrol dengan baik," ungkapnya.

Sebelum sampai tahap diabetes, sebenarnya ada tahapan yang harus diwaspadai yakni pre diabetes.

Dan orang yang mengalami kelebihan berat badan dan berusia lebih dari 45 tahun disarankan untuk segera memeriksakan kesehatan.

Hal ini dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya pre diabetes menjadi diabetes.

Perlunya melakukan pemeriksaan atau screening karena bila kadar gula darah berada dalam jangkauan pre-diabetes, ancaman untuk terkena serangan jantung atau stroke meningkat menjadi 50 persen.

Selain itu, pemeriksaan sejak dini juga akan memperlambat atau menghentikan perkembangan dari pre diabetes menjadi diabetes yakni dengan menerapkan gaya hidup sehat. (*)



2 komentar:

  1. Sya brumur 22 thun.tiap2 mlm sya tkucel wtu sya tidur.skrg time nak tidur kna pakai pampers dlu.klw x bsah ktil sya dan hpk..

    BalasHapus
  2. Yang butuh bibit pohon Daun Afrika dan Insulin bisa hubungi kami di chasiapro@gmail.com atau 082136712513 Siap kirim ke seluruh Indonesia. @Trims Prabowo JOgja

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir, silahkan tinggalkan komentar Anda