19 Juli 2008

Batuk Pilek tak Diobati bisa Sebabkan Radang Telinga

Foto: Internet
TELINGA merupakan organ tubuh yang memiliki peran penting dalam kehidupan yakni sebagai indera pendengaran. Hanya saja, meski penting terkadang organ tubuh yang satu ini kurang mendapatkan porsi perhatian yang cukup.

Kalaupun diberikan perhatian, paling-paling hanya dalam bentuk pembersihan dari kotoran. Sebut saja pembersihan dengan cotton bud atau ear candling yakni mengeluarkan kotoran menggunakan aromatherapi.

Bicara soal penjagaan kesehatan telinga, sebenarnya tak bisa hanya dilakukan lewat pembersihan saja. Sebab, dalam beberapa kondisi, gangguan kesehatan telinga bisa mengakibatkan komplikasi organ tubuh lainnya.


Radang telinga atau otitis media merupakan satu bentuk gangguan kesehatan telinga yang patut mendapat perhatian serius. Itu karena, tak hanya akan menyebabkan tuli, jika peradangan mencapai tahap kronis, bisa menimbulkan aneka komplikasi yang mematikan.

Baca Juga:
Anak Demam? Begini Penanganannya
Cara Menangani Batuk Pada Anak
Malas Minum? Hati-hati Ancaman Dehidrasi

Secara medis, otitis media merupakan peradangan telinga bagian tengah yang biasanya disebabkan penjalaran infeksi dari tenggorokan (faringitis). Dalam kondisi normal, telinga tengah seharusnya steril.


Sebab, di dalam tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas) ada mekanisme pertahanan untuk mencegah masuknya bakteri dari rongga mulut ke rongga telinga.

Namun, dalam kondisi tertentu, ketika pertahanan terganggu, infeksi di telinga tengah bisa terjadi. Kuman masuk ke telinga tengah dari tenggorokan atau hidung seolah tanpa perlawanan. Kuman inilah yang menimbulkan otitis media.

"Radang telinga kebanyakan disebabkan batuk pilek yang tak mendapatkan penanganan dengan baik. Misalnya tak diobati atau diobati tapi tak sampai tuntas,"ungkap dr Asih SpTHT, dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan RS Awal Bros Batam.(*)



Gejalanya Nyeri dan Terasa Panas

JIKA dilihat dari proses munculnya penyakit, otitis media sebenarnya bisa dibedakan menjadi dua jenis yakni otitis media akut serta otitis media kronis. Disebut otitis media akut karena terjadi secara mendadak.

Namun, bila otitis media akut tersebut tidak segera ditangani atau diobati bisa berkembang dan menjadi lebih parah sehingga berubah menjadi otitis media kronis. Dan jika hal itu terjadi, penderita berpotensi mengalami gangguan pendengaran alias tuli saraf atau bahkan mengalami komplikasi organ tubuh lainnya.

"Otitis media akut sebenarnya juga bisa mengakibatkan tuli pada pendengaran. Hanya saja, tuli yang terjadi belum permanen atau bisa pulih kembali setelah diobati. Berbeda dengan tuli pada otitis media kronis. Karena kebanyakan gendang telinga sudah robek, tuli terjadi secara permanen,"ungkap dr Asih SpTHT.

Sementara, komplikasi yang biasa terjadi pada penderita otitis media kronis antara lain, meningitis atau radang selaput otak, kerusakan saraf wajah yang berujung pada perubahan bentuk wajah, gangguan keseimbangan, dan sebagainya.

Mengenai gejala yang biasa menyertai munculnya otitis media akut, dr Asih menjelaskan bahwa rasa nyeri dan panas pada telinga bisa menjadi tanda terjadinya peradangan pada telinga.

Selanjutnya, pembengkakan jaringan yang terjadi di sekitar saluran Eustachius akan menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran akan terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.

Jika tekanan yang terjadi terlalu kuat, maka bisa merobek gendang telinga dan mengakibatkan gangguan pendengaran atau tuli yang sifatnya permanen. Robeknya gendang telinga tersebut bisa ditandai dengan keluarnya cairan nanah dari telinga atau biasa disebut congek.

"Berbeda dengan otitis media akut yang menimbulkan rasa nyeri dan panas, penderita otitis media kronis justru tak merasakan sakit. Itu karena gendang telinga yang awalnya tertekan cairan sudah robek,"ungkapnya. (*)



Segera Obati jika Batuk Pilek

MENGINGAT akibat yang bisa dimunculkan otitis media khususnya kronis tak bisa dianggap sepele, setiap orang pastinya patut waspada terhadap penyakit yang satu ini. Khususnya dari sisi pencegahan agar tak sampai berujung pada hilangnya fungsi indera pendengaran atau bahkan munculnya komplikasi organ lain.

"Karena penyakit batuk dan pilek memiliki andil terjadinya radang telinga, setiap orang hendaknya tidak menyepelekan penyakit tersebut. Segera obati dan jangan biarkan kuman yang berasal dari batuk pilek menyebar ke telinga bagian dalam,"ungkap dr Asih SpTHT.

Artinya, jangan sampai hanya gara-gara ketidaktahuan ataupun ketidakpedulian terhadap penyakit yang kerap dianggap ringan tersebut akhirnya berimbas buruk terhadap organ lain khususnya indera pendengaran.

Selanjutnya, bagi yang sudah terlanjur mengalami radang telinga baik yang sifatnya akut ataupun kronis, pengobatan secara medis pastinya menjadi solusi yang harus dijalani.

"Pemberian antibiotik bisa menjadi satu terapi medis untuk menyembuhkan radang telinga. Dan untuk radang telinga kronis terlebih dulu harus dicuci sampai bersih sebelum akhirnya diberikan antibiotik,"jelas dr Asih.

Namun, bagi yang memiliki daya tahan tubuh cukup baik dan daya serang kumannya rendah, penyakit ini dengan sendirinya akan sembuh. Gendang telinga bisa tetap utuh dan fungsi pendengaran kembali normal. Dengan penanganan yang tepat dan tuntas pun penyakit ini bisa sembuh. (*)



Anak Lebih Rentan Terserang Otitis Media

MESKI radang telinga bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu, baik orang dewasa maupun anak-anak, tapi anak-anak diyakini lebih rentan terkena peradangan pada telinga.

Hal itu karena, sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan. Selain itu, saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek, sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.

Faktor lain yang membuat anak lebih mudah terkena radang telinga adalah kondisi adenoid yakni satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) yang relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa.

Posisi adenoid yang berdekatan muara saluran Eustachius juga dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi yang berpotensi menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

Jika dialami anak-anak, otitis media pastinya akan memunculkan dampak yang cukup besar bagi perkembangan mereka. Baik dalam hal kemampuan belajar maupun kemampuan bicara yang membutuhkan dukungan indera pendengaran.

Pada anak-anak, gejala yang menyertai bisa dilihat dari munculnya rasa nyeri pada telinga, demam tinggi, tampak gelisah, sulit tidur atau terkadang menjerit waktu tidur. Namun demikian, gangguan pendengaran kadang baru diketahui lewat perilaku anak. Sebut saja, tak menoleh atau menyahut saat dipanggil atau diajak bicara. (*)

2 komentar:

  1. postingannya lumayan oke and buanyak.cuma mo sdikit koreksi,otitis media akut supurativa bkn terjadi ketika tekanan udara di telinga tinggi,tp mlh sbaliknya,hal ini terjadi ketiga tekanan udara di telinga lbh rendah.anda dpt menganalogikan dng menciptakan sebuah asap di dekat kipas angin,mk asap akan mengarah k belakang kipas yg memiliki tekanan rendah.
    http://3schizodhi.co.cc

    BalasHapus
  2. terimakasih atas perhatiannya. koreksi ini muncul karena kekhilafan saya sebagai penulis...semoga tulisannya bermanfaat...

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda