11 Agustus 2008

Jangan Remehkan Sakit Campak

FOTO: www.west-info.eu
CAMPAK merupakan satu penyakit yang cukup familiar di telinga kita. Sebab, penyakit yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak merah pada sekujur tubuh ini cukup banyak dialami oleh orang khususnya anak-anak. Dan Batam merupakan wilayah yang memiliki kasus campak lumayan tinggi.

Meski sekilas terlihat tidak berbahaya dan bisa sembuh sendiri, tetapi komplikasi yang disebabkan serangan virus campak ternyata berbahaya dan mematikan. Terutama bila penderita mengalami infeksi tertentu.

"Komplikasi virus campak akan bisa dialami seseorang bila daya tahan tubuh yang bersangkutan lemah atau sedang terinfeksi penyakit tertentu," ungkap dr Retno M Laila SpA, dokter spesialis anak Klinik Griya Medika Batam.

Beberapa komplikasi yang bisa timbul akibat serangan virus campak antara lain pneumonia (radang paru-paru), infeksi telinga, neuritis (radang pada syaraf), artritis (radang sendi) dan ensefalitis (radang otak) yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen.
"Bahaya lain dari serangan virus campak adalah terjadinya dehidrasi. Kasus dehidrasi ini cukup banyak dialami anak-anak sebagai akibat serangan diare hebat selama terpapar virus campak," katanya.

Untuk mencegah komplikasi, penderita campak bisa diberikan obat penurun panas dan minum banyak air agar tidak dehidrasi. Sebab, terjadinya demam atau dehidrasi berkepanjangan menimbulkan peluang munculnya komplikasi penyakit lain yang buntutnya dapat mengakibatkan kematian.

"Bagi penderita campak yang telah terkena infeksi serta berpeluang menimbulkan komplikasi bisa diatasi dengan pemberian antibiotik. Dengan catatan komplikasi tersebut diketahui sejak dini," ungkapnya.

Yang tak kalah penting diperhatikan saat seseorang terpapar campak adalah asupan nutrisi yang cukup untuk tubuh. Begitu juga dengan penjagaan cairan tubuh. Sebab, kedua hal tersebut sangat berperan pada proses penyembuhan dari serangan virus ini. (*)



Sembuh Sendiri jika Tanpa Komplikasi

BAGI penderita campak atau memiliki anak yang terpapar campak sebenarnya tak perlu panik sepanjang penyakit tersebut tidak diikuti oleh komplikasi penyakit tertentu. Sebab, karena sifatnya self limited disease atau penyakit yang sembuh sendiri, bila tak terjadi komplikasi, penyakit ini akan segera hilang setelah daya tahan tubuh penderita pulih.

"Jika disadari sejak dini, penanganan campak akan lebih mudah dibandingkan apabila penanganan yang dilakukan sudah memasuki tahap komplikasi. Sebab, campak itu sendiri memiliki beberapa stadium yang setiap tahapnya diperlukan penanganan yang berbeda," jelas dr Retno M Laila SpA, dokter spesialis anak Klinik Griya Medika Sei Panas.

Campak sendiri terdiri dari tiga stadium atau tiga tahapan antara lain stadium awal atau rodrumal, erupsi, dan konvalecensi. Dan dalam setiap tahap gejala yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Begitu juga bahaya yang dapat ditimbulkannya.

Untuk stadium awal atau rodrumal, gejala yang ditunjukkan penderita masih mirip dengan sakit biasa. Misalnya badan terasa kurang enak, lemah, nafsu makan turun, serta demam. Dan dalam tahapan ini ada ciri khas yang ditunjukkan bila seseorang terpapar campak. Yakni terjadinya hyper sekresi pada lapisan mukosa.

"Munculnya hyper sekresi ini ditandai dengan mata memerah, diare serta munculnya bercak pada selaput mukosa. Hanya saja keberadaan bercak ini harus diperiksa secara khusus atau tak bisa dilihat secara kasat mata," ungkap Retno.

Sementara stadium tahap kedua atau erupsi biasanya terjadi pada hari ke empat sejak terpaparnya virus campak. Pada fase ini biasanya demam semakin tinggi dan mulai muncul bercak merah pada kulit. Bercak mula-mula timbul di pipi di bawah telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh lainnya.

Pada stadium akhir, serangan biasanya mulai mereda atau bercak mulai menghilang. Hanya saja, pada tahap ini akan diikuti hyper pigmentasi atau munculnya bercak hitam pada kulit penderita. (*)



Hindari Kontak Langsung dengan Penderita


VIRUS campak atau biasa disebut morbili merupakan jenis virus yang sangat mudah menular. Sehingga, kita harus lebih berhati-hati ketika berada di dekat orang yang sedang terkena campak.

Adapun cara penularannya adalah melalui udara atau kontak langsung dengan penderita, misalnya menyentuh, mencium, atau menghirup udara yang tercemar dengan virus dari batuk dan bersin penderita. Tak heran bila virus campak menyebar dengan cepat.

"Karena virus ini bersifat akut dan mudah menular, agar tidak tertular sebaiknya kita menghindari kontak langsung dengan penderita. Misalnya jika ada anak yang terpapar virus ini sebaiknya tidak masuk ke sekolah sehingga tidak menularkan virus pada orang lain," ungkap dr Retno M Laila SpA.

Cara lain menghindarkan diri dari serangan campak adalah melalui pencegahan sejak dini. Yakni melalui imunisasi yakni imunisasi campak mulai usia sembilan bulan pada tahap pertama dan usia enam tahun pada tahap kedua.

"Meskipun tidak bisa melindungi diri 100 persen tetapi setidaknya pemberian imunisasi dapat menjadi pelindung diri saat berada di lingkungan yang rentan terpapar campak. Karenanya bagi orangtua yang memiliki anak sebaiknya segera memberikan perlindungan melalui imunisasi," kata Retno.

Perlindungan juga dapat diberikan dengan memberikan vitamin A pada anak. Sebab, vitamin ini memiliki fungsi memperbaiki epitel. Hal ini karena virus campak lebih banyak menyerang jaringan epitel atau selaput lendir. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda