16 Mei 2011

Hati-hati Bikin Status Facebook

FACEBOOK sekarang ini udah jadi bagian kehidupan sehari-hari. Kalau buka handphone, laptop atau gadget lain yang terkoneksi ke internet tanpa memperbarui status FB rasanya ada yang kurang.


Makanya, nggak heran kalau Facebook menempati peringkat pertama situs paling banyak diakses di Indonesia. Mungkin juga ada pengaruhnya dengan kebiasaan orang Indonesia yang suka berbagi, bergosip atau sekadar ingin say hello aja.

Sayangnya, kadang orang membuat status FB suka kebablasan. Kadang, ada hal-hal privat yang semestinya nggak dibagi ke wall tapi bisa dibaca semua orang. Bukan itu aja, ungkapan emosional seperti umpatan kasar, caci maki, hingga mengumbar kesedihan yang berlebihan juga kerap mengisi status FB.

Padahal, orang bisa menilai pribadi dan karakter orang lain dari status yang dibuat di jejaring sosial. Tak percaya?

Menurut Evy Rakryani, Psikolog Batam Medical Centre kehadiran jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter memang jadi ajang sosialiasi yang mujarab. Sama seperti teknologi lainnya kehadiran jejaring sosial juga membuat seseorang lebih bebas mengekpresikan diri. "Namun terkadang ungkapan status di jejaring sosial kebablasan dan mengundang kemarahan dari orang lain. Apabila emosi mereka langsung mengungkapkan dengan kata-kata yang kasar. Akibatnya citra negatif yang muncul,"ujar Evy.



Memang nggak salah sih jika sesekali kita ingin mengungkapkan perasaan kita. Namun tentunya harus lebih elegan jangan mengungkapkan dengan kata-kata kasar. Begitu juga apabila kita mengupdate status di jejaring sosial.

"Kalau kita terus menerus menulis kata-kata kasar atau kalimat negatif, orang pun bakal mikir kita sebagai orang yang kasar. Kita bisa saja kehilangan teman-teman gara-gara hal tersebut," ujar Evy.

Menulis status di jejaring sosial yang berisi kata-kata kasar akan menggambarkan imej kita sendiri. Dengan cara itu pula orang lain akan menilai diri kita. "Imej yang terbentuk akan negatif pula. Lebih baik mengungkapkan dengan gaya sindiran halus. Hal itu jauh lebih elegan,"ungkapnya.

Untuk meredam emosi yang labil ini diperlukan kesadaran diri dan adanya kesempatan. Sama seperti etika dalam bersosialisasi, dalam mengungkap status kita di jejaring sosial juga perlu etika. Etika akan membuat kita tetap pada rambu-rambu sosial dalam lingkungan. Apabila kita melenceng secara otomatis kita akan dikucilkan.

"Bersosialisasi di jejaring sosial sama dengan kehidupan nyata. Tetap juga diperlukan adanya etika. Atinya, kita harus memiliki kemauan yang kuat untuk berubah. Apabila tidak dimulai dari diri sendiri hal itu akan menjadi sia-sia. Untuk diperlukan bantuan orang lain seperti sahabat terdekat untuk selalu menjadi pendamping jika kita merasa telah melenceng. Kesempatan mengikuti kelas ESQ juga cukup membantu," ujar Evy.

Daripada menulis kata-kata kasar yang hanya akan membuat orang marah kepada kita, mendingan kita menularkan energi positif kita dengan cara menulis status yang bersifat positif, mengingatkan, memotivasi, menghibur atau menulis apa saja yang membuat orang senang membacanya.

"Jadi, kalau mereka membaca status kita di jejaring sosial, mereka merasa mendapatkan semangat baru, energi baru dan tentunya mereka akan menciri-cirikan diri kita dengan seseorang yang memiliki kepribadian yang ok punya," jelasnya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda