HARI Senin (26/5) besok, Echa tepat berusia dua tahun. Usia yang diharapkan menjadi satu titik awal kemandirian gadis kecil yang selalu memberikan cahaya kebahagiaan bagi rumah mungil kami.
Setiap menyambut tanggal 26 Mei akan menjadi saat yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Membahagiakan karena tanggal 26 Mei dua tahun lalu, Alloh SWT telah mengirimkan seorang bayi mungil yang begitu manis dan menyenangkan.
Bayi yang selalu memberikan keceriaan dalam hari-hari orang-orang yang selalu menyayanginya. Celotehan yang keluar dari mulutnya, gerakan lucu menirukan apa yang dilihatnya menyiratkan keinginan gadis kecilku itu untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia sudah besar dan juga mampu melakukan apa yang dilakukan orang dewasa.
Echa yang manis, Echa yang selalu menurut, Echa yang selalu ceria, Echa yang selalu menyenangkan siapa saja yang ada di dekatnya, Echa yang pintar, Echa yang tak pernah rewel, Echa yang sholeha, dan Echa dengan tabiat-tabiat baik lainnya. Itu adalah rangkaian doa yang selalu Mama dan Papa panjatkan dalam setiap sujud kepada Alloh.
Tanggal 26 Mei juga akan menjadi momen membuka kenangan yang menyedihkan. Karena di bulan yang sama, sehari setelah Echa lahir, berita duka seakan silih berganti menghampiri. Belum lagi usai berita sedih gempa Jogja 27 Mei yang menghancurkan rumah sepupu dan keluarga Echa di Jogja, menyusul lagi berita berpulangnya Eyang Kakung Echa ke Rahmatullah. Sungguh satu rangkaian peristiwa yang akan terus terputar ulang menjelang datangnya momen ulangtahun Echa....