01 Juni 2008

Ingin Kuliah Lagi? Rencanakan Dana Secara Matang

foto by internet
KEWAJIBAN menuntut ilmu tak memiliki batasan baik umur, jenis kelamin, maupun status seseorang. Tak terkecuali bagi orang yang telah bekerja maupun sudah menikah atau berkeluarga.

Sebab, menuntut ilmu bukan saja terkait penambahan pengetahuan tapi bisa juga menjadi poin dalam meningkatkan karir atau mempertahankan posisi dalam status pekerjaannya.

Sebut saja melalui sejumlah kursus pendidikan seperti CEO atau meningkatkan gelar kependidikan seperti strata 2 (S2) atau bahkan gelar doktoral.

Seiring perkembangan waktu, biaya pendidikan yang dibutuhkan untuk mengikuti kursus atau mendapatkan gelar dengan strata yang lebih tinggi dari S1 tidak sedikit.

Di Indonesia, untuk mendapatkan gelar S2 dibutuhkan biaya sekitar Rp 25 juta hingga 50 juta. Sementara kursus seperti kursus CEO biaya yang dibutuhkan antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta untuk sekali kursus.

Bagi orang yang dibiayai perusahaan atau pemerintah, biaya tentunya bukan masalah yang besar. Yang dibutuhkan hanya pengaturan waktu dan konsentrasi saja agar sukses dalam menempuh pendidikannya.


Lain halnya bila seseorang harus menyediakan sendiri anggaran yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan lanjutan. Mengingat status yang tak lagi lajang pastinya pengaturan anggaran untuk melanjutkan pendidikan harus dikompromikan dengan kebutuhan lain yang juga penting untuk dianggarkan.

"Bila keputusan menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi menggunakan dana pribadi, sebaiknya melalui pertimbangan matang terkait alokasi dana yang akan digunakan. Sehingga kedepannya tidak mengganggu anggaran lain,"ungkap Riginoto Widjaya, Pengamat Keuangan Keluarga kota Batam.

Tak hanya itu, penghitungan anggarannya pun harus dipertimbangkan hingga pendidikan selesai. Termasuk kebutuhan pendukung. Misalnya buku dan keperluan lainnya. Dengan begitu, pendidikan bisa selesai tanpa perlu takut terkendala biaya.

"Jika anggaran tidak disiapkan secara matang dikhawatirkan pendidikan akan terhenti di tengah jalan hanya gara-gara kekurangan biaya. Kondisi tersebut justru mendatangkan kerugian. Sudah habis banyak dana tapi tak dapat apa-apa,"jelasnya.

Sementara bila pendidikan tetap ingin diteruskan dengan keterbatasan anggaran yang ada, dikhawatirkan akan ada pos yang dikorbankan untuk menutup kekurangan dana pendidikan yang dibutuhkan.

Sehingga, cara paling bijak adalah memperhitungkan besarnya dana yang dibutuhkan sekaligus perencanaan dari mana dana tersebut akan didapatkan. (*)



Rencanakan Lima Tahun Sebelumnya

BANYAK cara yang bisa ditempuh untuk mempersiapkan dana anggaran pendidikan lanjutan. Namun yang terpenting hendaknya dana disiapkan atau direncanakan minimal lima tahun sebelumnya.

"Mengingat biaya yang dibutuhkan tidak sedikit dan harus diambil dari anggaran keluarga, sebaiknya perencanaan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dipersiapkan jauh-jauh hari,"kata Riginoto Widjaya.

Dengan perencanaan minimal lima tahun sebelumnya, seseorang memiliki keleluasaan dalam menyisihkan dana yang dibutuhkan dari anggaran keluarga. Sehingga, saat akan menempuh pendidikan S2 yang hanya dua tahun bisa dilakukan dengan lebih tenang.

"Dalam proses pengumpulan dana, seseorang bisa memanfaatkan jasa asuransi yang banyak menawarkan asuransi pendidikan," ungkap dosen Universitas Internasional Batam ini.

Selain asuransi pendidikan, asuransi berjangka yang biasa disebut asuransi multiguna juga dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan dana yang dibutuhkan. Selain dapat diperhitungkan secara tepat, penggunaan asuransi juga relatif lebih aman dari kemungkinan terpakainya anggaran untuk kebutuhan lain.

"Bagi yang ingin menyisihkan anggaran dengan cara menabung sendiri bisa membuat pos khusus dalam anggaran keuangan keluarga. Pembentukan pos khusus tersebut memudahkan pengalokasian anggaran yang akan digunakan untuk menempuh pendidikan lanjutan,"ungkapnya. (*)



Siasati dengan Beasiswa

MEMILIKI keterbatasan anggaran bukan berarti mematikan peluang melanjutkan pendidikan setelah bekerja dan berkeluarga. Sebab, ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk merealisasikan impian tersebut.

"Saat ini cukup banyak perusahaan atau kedutaan besar yang menawarkan beasiswa pendidikan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jika kita berhasil mendapatkan beasiswa berarti banyak dana yang bisa dihemat untuk meraih impian," jelas Riginoto.

Untuk mendapatkan beasiswa tersebut tentu saja dibutuhkan kualifikasi dan kompetensi yang lebih. Sebab, dalam proses pencapaian beasiswa seseorang harus melewati seleksi dengan sejumlah tes yang wajib dilalui.

"Yang dibutuhkan untuk mendapatkan beasiswa tersebut adalah menyiapkan diri untuk kualifikasi. Terutama bagi yang ingin mengambil pendidikan lanjutan dengan bidang yang berbeda dengan pendidikan sebelumnya. Misalnya S1 elektro ingin memperluas pengetahuan di bidang marketing,"katanya.

Sebab, dalam persaingan dunia kerja saat ini dibutuhkan pekerja yang multitalent atau memiliki kemampuan di banyak bidang. Sehingga memperluas pengetahuan di bidang lain akan menjadi nilai plus sekaligus investasi di masa mendatang.

"Sekarang ini sistem yang digunakan adalah lifetime employability atau selalu mengikuti perubahan yang ada. Dengan kesiapan tersebut seseorang akan selalu siap ditempatkan di bidang apapun termasuk bidang-bidang baru,"jelas Riginoto. (*)

2 komentar:

  1. Pemerintah yang ada sekarang memang tidak memperhatikan pendidikan, banyaknya siswa yang terlantar dan guru yang tidak terjamin kehidupannya.
    saran pasang aja widget infogue.com, bisa nambah pengunjung ke blog kita lho.
    seperti di blog wathasiwa yang baru buat..hehe
    http://www.padhepokananime.blogspot.com/
    artikel anda watashiwa submit di:
    http://pendidikan.infogue.com/pilih_dimanja_subsidi_atau_pendidikan_gratis

    BalasHapus
  2. Memang dana pendidikan di Indonesia sangat minim. Untuk itu kita harus susah payah untuk kuliah.

    BalasHapus

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda