01 Juni 2008

Agar Anak Punya Rasa Tanggungjawab

RASANYA sudah ratusan kali Fella mengingatkan anaknya untuk tidak meninggalkan barang pribadinya di sembarang tempat. Tapi entah kenapa anaknya masih tetap saja pulang dengan tangan kosong usai sekolah atau main ke rumah temannya. Barang-barang yang baru dibeli Fella di supermaket entah kemana rimbanya.

Lain lagi cerita Bunga, anak semata wayangnya memiliki 'hobi' bertukar barang dengan teman sepermainan. Yang terjadi akhirnya, isi kamar anaknya penuh dengan barang oranglain. Sementara barang milik anaknya sudah menyebar ke seluruh kompleks.



Kasus serupa mungkin juga pernah menimpa para ibu yang lain. Tidak adanya rasa tanggung jawab yang dimiliki anak atas barang pribadi mereka kadang membuat orangtua menjadi geram dan kesal. Tapi, untuk terus mengomel pasti bukan jalan yang bijak.

"Untuk membiasakan anak bertanggung jawab atas barang miliknya memang tidak mudah. Sebab, hal tersebut harus dilatih sejak dini serta butuh perhatian dan konsistensi dari orangtuanya,"terang Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog Anak kota Batam.


Hingga kini, tidak sedikit orangtua yang merasa 'tidak tega' untuk melatih anaknya bertanggung jawab dan mandiri. Sebut saja karena merasa anaknya masih terlalu kecil. Alasan itu akhirnya membuat orangtua memilih untuk memarahi atau memaafkan saat anak menghilangkan atau merusak mainannya kesukaannya.

Hal lain yang kadang membuat anak sulit memiliki tanggungjawab adalah karena orangtua seringkali membantu anak walaupun sebenarnya mereka tidak membutuhkannya atau bisa melakukannya sendiri.

Misalnya saja saat anak makan. Supaya cepat dan tidak berantakan, orangtua memilih menyuapi anaknya. Padahal momen ini sebenarnya bisa dijadikan anak untuk berlatih makan dengan rapi, sopan, serta bersih.

Contoh lainnya adalah saat anak menangisi mainannya karena rusak setelah semalaman kehujanan di halaman. Agar anak diam dan berhenti menangis, orangtua kadang memilih membelikan mainan yang baru meski penyebab rusaknya mainan lama akibat kesalahan anak.

Termasuk saat kotak pensil ketinggalan di sekolah, buku hilang di jalan, tempat minum terbawa teman. Karena barang-barang tersebut dianggap penting dan menyangkut sekolah anaknya, orangtua lebih memilih untuk membelikan anak dengan barang-barang baru.

Ketidaktahuan anak tentang nilai benda kepunyaannya juga bisa membuat anak tidak memiliki rasa tanggungjawab. Itu karena tak jarang orangtua membelikan satu barang tertentu lantaran sesuai permintaan atau kebutuhan anak saja.

Bahkan cukup bermodal rengekan, anak dengan mudah mendapatkan tuntutannya. Selanjutnya, rengekan kedua sebagai modal supaya tidak dimarahi saat barang tersebut hilang.

"Alangkah bijaksananya bila saat akan memberikan suatu benda ke anak, ibu menerangkan di mana barang dibeli, harganya berapa, membeli saat ibu pulang dari kerja dalam kondisi capek. Ibu juga bisa mengatakan kalau ibu akan bahagia bila anak bisa memanfaatkannya,"terangnya.

Selain itu, orangtua juga bisa menerangkan bagaimana cara merawat barang tersebut. Setelah semua berjalan, jangan lupa untuk menanyakan kabar mobil kontrolnya, buku dongengnya, kaos kaki birunya dan sebagainya. Tentu saja setelah menanyakan kabar anak. (*)




Anak Senang Mencari Kambing Hitam

MEMPERKENALKAN rasa tanggungjawab pada anak sejak dini merupakan keharusan yang tidak boleh disepelekan. Sebab, bila anak tidak mengetahui arti penting tanggungjawab, mereka akan bersikap acuh tak acuh, tidak peduli serta ceroboh.

"Tidak adanya rasa tanggungjawab juga akan membuat anak dengan mudah mengkambing hitamkan oranglain jika terjadi kesalahan. Anak menganggap yang bertanggungjawab atas semuanya adalah oranglain dan bukan dirinya,"kata Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog Anak Kota Batam.

Sebut saja saat anak sakit setelah berhujan-hujanan. Agar tidak dimarahi, anak akan menyalahkan cuaca meski sebenarnya kesalahan ada pada anak karena main hujan.

"Dampak buruk lain dari tidak adanya rasa tanggungjawab pada anak adalah anak tak bisa menghargai benda, suka meremehkan orang lain, tidak pandai bersyukur. Anak juga akan menjadi lemah dalam berusaha, kurang memperhitungkan resiko serta kurang antisipatif dalam mempertimbangkan sesuatu,"jelasnya.

Dan yang paling fatal bisa terjadi akibat tidak terlatihnya anak untuk bertanggungjawab terhadap benda-benda miliknya adalah anak menjadi tidak bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Sehingga, upaya untuk menanamkan rasa tanggung jawab menjadi hal yang penting dilakukan. (*)



Kalo Hilang Jangan Langsung Dibelikan Baru

ANAK yang kurang memiliki rasa tanggungjawab kerap merasa tidak bersalah meski telah menghilangkan barang-barang pribadinya. Meski kadang membuat jengkel, tapi karena tak mau ribet, orangtua memilih untuk membelikan anaknya dengan barang yang baru sebagai pengganti.

"Daripada membelikan barang baru, akan lebih baik bila orangtua memberikan pengertian pada anak agar mereka mempelajari resiko perbuatannya jika menghilangkan barang-barang yang semestinya dijaga,"terang Bibiana Dyah Sucahyani.

Selain itu, ajak anak menelusuri penyebabnya. Ingatkan pada anak bahwa tidak mudah membeli yang baru karena banyak hal yang harus dilakukan mulai perencanaan hingga pembelian. Terlebih jika barang tersebut dibeli dengan uang yang harus ditabung atau dikumpulkan terlebih dahulu.

"Sebaiknya orangtua membiarkan sementara waktu anak tidak menggunakan benda yang hilang. Sehingga anak bisa merasakan bahwa ia sangat membutuhkannya. Dan jika barang rusak, cobalah dulu mengajak anak untuk memperbaikinya. Jangan dibiarkan saja atau langsung beli baru. Intinya adalah kedisiplinan dan kemandirian,"ungkapnya.

Jelaskan juga pada anak resiko kecerobohan atau sikap tidak mau merawat yang dilakukannya. Bukan hanya merugikan dirinya, keuangan keluarga, serta 'heboh' karena semua harus mencari, terburu-buru memperbaiki atau sulit cari waktu untuk membeli lagi.

Untuk semakin melekatkan rasa tanggungjawab dalam diri anak, sesekali ajak anak melihat atau mendongeng bagaimana pak petani yang capek di sawah. Mulai menanam padi, menggiling jadi beras, mengangkat karung ke pasar.

Selain itu, ceritakan juga bagaimana ibu berangkat pagi untuk bekerja, pulangnya sore, untuk mendapatkan uang membeli beras pak petani, embok memasak juga menggunakan air mahal, menggunakan rice cooker yang harus membayar listriknya, dan sebagainya. (*)


Pakai Uang Jajan Untuk Ganti Barang Hilang


HUKUMAN kadang menjadi pilihan orangtua ketika mendapati anak ceroboh dan cenderung enggan menjaga barang pribadi mereka. Misalnya saja dengan tidak membelikan barang baru sebagai pengganti barang lama yang hilang.

Hanya saja, bila barang yang dihilangkan anak adalah barang penting seperti barang keperluan sekolah, tentu saja orangtua tidak bisa tinggal diam. Terlebih bila anak mengambil sikap cuek atas hilangnya barang-barang tersebut dan berharap orangtuanya akan mengganti dengan yang baru.

"Jika barang yang hilang cukup penting, sebaiknya orangtua mengarahkan agar anak berusaha untuk menemukan kembali benda tersebut. Atau bila rusak, ajak anak untuk memperbaiki kerusakannya. Tapi ingat, dalam hal ini peran orangtua sifatnya hanya membantu,"jelas Bibiana Dyah Sucahyani.

Kalaupun terpaksa harus membeli yang baru, usahakan anak ikut bertanggungjawab atas hilang atau rusaknya barang tersebut. Misalnya dengan menggunakan tabungan anak, uang jajan atau uang yang sebenarnya dialokasikan untuk membeli VCD baru dan sebagainya.

Bila barang yang dihilangkan berkaitan dengan keperluan sekolah seperti buku pekerjaan rumah (PR), minta anak untuk menelepon gurunya. Tujuannya untuk menginformasikan bahwa buku PR anak hilang agar bisa diganti dengan tugas lainnya. Dengan begitu, anak bisa belajar bagaimana menunjukkan rasa tanggungjawab atas perbuatannya.

Selain peran dari orangtua, untuk melatih disiplin, mandiri, dan bertanggungjawab juga memerlukan dukungan dari lingkungan. Baik lingkungan internal rumah, sekolah juga masyarakat.

Sehingga, peran guru untuk memupuk rasa tanggung jawab anak mutlak diperlukan. Misalnya guru juga perlu mengingatkan anak-anak untuk memeriksa kembali barang-barang untuk dibawa pulang setiap akhir sesi pelajaran. Bisa juga dengan mengigatkan PR, pelajaran besok serta hal-hal khusus masing-masing anak.

"Dibandingkan pemberian hukuman karena kelalaian anak, cara yang lebih tepat ditempuh adalah sering mengingatkan dan memberi pujian terhadap kerapihan, kebersihan serta ketelitian anak,"ujarnya.

Dengan memahami bahwa semua yang kita dapatkan harus didahului dengan usaha, keterlibatan banyak pihak, serta kemurahan Tuhan, anak akan lebih dapat menghargai semua yang dimilikinya. Mulailah dengan teladan dari orang dewasa serta melatih kebiasaan-kebiasaan positifnya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda