14 Oktober 2014

Anak Demam? Begini Penanganannya


Foto: www.childrenswishingwell.org
CUACA  Batam belakangan ini cukup ekstrim. Kalau siang panas banget tapi kadang-kadang langsung mendung dan hujan lebat. Debu juga cukup membuat stamina terganggu. Akibatnya, tubuh jadi lebih mudah nge-drop terutama anak-anak.
Hal itulah yang juga dialami si kecilku Echa dan Arfa. Beberapa hari mereka mulai demam dan diikuti flu. Si Kakak yang sudah mulai ujian mid semester, harus segera mengonsumsi obat untuk menurunkan demam dan mengatasi flu. Sementara adeknya, pakai resep warisan nenek moyang ^_^ bawang merah diparut dicampur minyak kayu putih dan diborehkan ke seluruh tubuhnya. Alhamdulillah, sekarang udah membaik dan ceria lagi.
Hmm... anak-anak memang lebih rentan menderita demam. Bahkan, kalau orang tua dulu bilang anak demam itu biasa, karena mau tambah akal. Tapi, beneran nggak sih kayak gitu? Hihihi...
Daripada penasaran, akhirnya saya ngubek-ubek file di grup Room for Children dan nemu tulisan dr. Fransiska Sri Susanti, SpA, dokter spesialis anak RS PMI Bogor.
Bagi yang mungkin lagi butuh informasi tentang demam pada anak, saya share hasil tulisan beliau (sedikit diedit biar ringkas):

Cara Mengatasi Anak Demam

DEMAM adalah reaksi tubuh kita terhadap sesuatu yang mengganggu tubuh kita, misalnya adanya infeksi kuman, benturan terhadap jaringan, dll. Demam berfungsi untuk mengatasi gangguan tadi, dan diharapkan gangguan tadi akan hilang. Jadi, demam sebetulnya bukanlah musuh kita, melainkan teman kita.

Walaupun begitu, banyak orang tua khawatir melihat anaknya demam. Mengapa? Karena umumnya orang tua khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan anaknya. Hal ini amat sangat dapat dimengerti. Anak yang demam seringkali rewel, menangis terus menerus, tidak mau makan, tidak mau minum, bahkan sebagian kecil ada yang kejang karena demam.

Jadi, bagaimana sikap kita sebaiknya saat anak demam?

*Cek Pakai Termometer
UKUR suhu badan anak dengan termometer yang baik. Lakukan dengan benar supaya didapat hasil pengukuran yang benar. Jangan mengukur suhu dengan sekedar menempelkan telapak tangan karena sensasi suhu yang didapat sangat dipengaruhi suhu lingkungan dan suhu tangan Anda sendiri. Pengukuran ini juga diperlukan untuk menentukan kapan anak diberi obat penurun panas, dan juga sebagai data kepada dokter saat berobat. Pola suhu berhubungan dengan jenis penyakitnya, sehingga memudahkan dokter memperkirakan diagnosis pada anak.

  * Perbanyak Minum
ANAK demam membutuhkan lebih banyak cairan karena banyak cairan yang keluar lewat keringatnya. Cairan ini dapat berupa air putih, asi, susu, teh manis, jus buah, kuah sayur, bahkan bila perlu cairan infus bila anak tidak bisa minum.

*Kompres  Air Hangat

TUJUAN mengompres adalah membuka pembuluh darah tepi, sehingga makin banyak darah bisa mengalir dan membawa panas badan dari dalam badan dan dibuang melalui permukaan kulit. Untuk membuka pembuluh darah tepi yang benar adalah dengan mengompres memakai air hangat kuku atau air suhu ruangan, bukan air dingin atau air es.
Sebab, menggunakan air dingin atau air es justru menyebabkan pembuluh darah tepi menutup sehingga tidak dapat membuang panas. Juga tidak boleh mengompres dengan alkohol. Karena alkohol hanya menimbulkan sensasi dingin tetapi tidak banyak membantu menurunkan suhu. Justru, jika uap alkohol terhirup atau terserapnya melalui kulit bisa menyebabkan keracunan alkohol.

Tempat yang tepat untuk mengompres adalah pembuluh darah besar, yaitu di kiri kanan leher, ketiak, dan lipat paha. Kesulitannya adalah sebagian besar anak tidak suka bila hal ini dilakukan. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menyeka seluruh badannya. Mengompres hanya dahinya tidak membantu banyak. Bila perlu dapat juga anak duduk berendam di air hangat sambil dibasuh seluruh tubuhnya.
Untuk menurunkan suhu permukaan tubuh juga tidak diperbolehkan memakai pakaian tebal, selimut tebal, dan sebagainya. Panas tubuh tidak akan bisa keluar.
Sebagian anak sering tampak menggigil bila demam, atau tangan dan kakinya dingin. Ini menandakan suhu badan masih akan naik. Dalam hal seperti ini boleh dipakaikan selimut dan sarung tangan serta kaos kaki, tetapi setelah menggigilnya hilang segera lepaskan semua tadi, dan mulailah mengompres.

*Minum Obat Penurun Panas
HARUSKAH anak minum obat panas bila demam? TIDAK HARUS. Mengapa? Karena kita tahu bahwa panas adalah sahabat kita. Panas hanya perlu dihilangkan bila panas itu mengganggu. Jadi bila anak tidak rewel, tidak pernah kejang, dan sebagainya, tidak harus memberikan obat penurun panas. Fungsi obat penurun panas di sini lebih banyak sebagai penghilang nyeri, untuk membuat anak lebih nyaman.
Umumnya obat penurun panas hanya menurunkan suhu sekitar 1-1,5 derajat celcius, sehingga kesannya panas tidak hilang. Umumnya obat penurun panas diberikan bila suhu badan mencapai 38-38,5 derajat celcius.
Obat yang bisa dipakai pada anak adalah parasetamol dan ibuprofen. Kedua obat ini mempunyai efektifitas dan tingkat keamanan yang kurang lebih sama, tetapi ibuprofen lebih berisiko bila diberikan pada kondisi di mana anak sedang terganggu sistem pembekuan darahnya, misalnya pada demam berdarah.
Parasetamol diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg/kali. Dapat diulang minimal empat jam, dan maksimal diberikan 5x sehari.
Ibuprofen diberikan dengan dosis 5 mg/kg/kali bila suhu 38 derajat celcius, dan 10 mg/kg/kali bila suhu badan 39 derajat celcius. Dapat diulang minimal 6 jam, dan maksimal diberikan 4 x sehari.

*Cari Penyebab Panas
MENCARI penyebab panas perlu dilakukan agar panas tidak terjadi berlarut-larut. Umumnya bila anak dalam kondisi baik setelah 72 jam panas perlu dicari penyebab panasnya. Bawalah anak ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh, bahkan seringkali diperlukan pemeriksaan laboratorium. Bila anak dalam kondisi lemah sekali, tidak mau makan dan minum sama sekali, kencingnya sedikit, apalagi disertai penurunan kesadaran, tidak boleh menunggu 72 jam, segeralah bawa anak Anda ke dokter.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat membantu para orang tua dalam bertindak saat anak panas, supaya tidak terjadi kepanikan yang tidak perlu, atau sebaliknya terlalu meremehkan panas, sehingga anak jatuh dalam kondisi berat. Terima kasih. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda