05 September 2007

Kenali Penyebab Anak Mengigau

PERNAHKAH Anda mendapati si kecil tiba-tiba menjerit histeris di tengah malam atau berbicara sendiri mengeluhkan keinginan yang tidak terpenuhi? Meskipun bukan sesuatu yang wajar tapi kondisi tersebut tidak sedikit dialami oleh anak-anak terutama yang memiliki kemampuan kognitif atau nalar belum sempurna.
"Seorang anak memiliki ingatan yang sifatnya masih fotografik yakni menangkap even yang menjadi bagian dari dirinya. Dan dari ingatan tersebut akan muncul persepsi yang akhirnya tersimpan dalam memori atau ingatan anak untuk diubah menjadi harapan," jelas Bibiana Dyah Sucahyani, Psikolog kota Batam.
Dan tidak jarang harapan yang terkadang dibumbui fantasi tersebut terbawa ke alam tidur. Bahkan bila harapan tersebut terekam secara terus menerus bisa muncul ke alam bawah sadar yang akhirnya membuat anak mengingau atau bahkan menjerit histeris secara tiba-tia di tengah malam.
"Masuknya harapan ke alam bawah sadar kerap terjadi pada anak yang memiliki imajinasi kuat tapi kemampuan komunikasi serta kemampuan kognitif yang masih terbatas. Namun, seiring perkembangan usia, hal tersebut berangsur-angsur akan berkurang," jelas Dhea, sapaan akrab Bibiana Dyah Sucahyani.

Sebenarnya, saat anak memiliki permintaan atau harapan mereka akan membawa keinginan tersebut ke dalam kenyataan serta bisa juga sampai ke alam bawah sadar. Kondisi inilah yang terkadang membuat anak sulit membedakan antara alam kenyataan dan alam bawah sadar.
"Tekanan pikiran hingga ke alam bawah sadar tersebut bisa jadi muncul karena orangtua terlalu memberikan penekanan terkait permintaan anak. Misalnya menolak permintaan anak tanpa disertai alasan kuat atau sambil marah-marah. Bisa juga karena pemenuhan yang tertunda," ungkapnya.
Penolakan atau penundaan tersebut akhirnya terekam dalam memori anak hingga masuk ke alam bawah sadar. Yang terjadi akhirnya, anak bisa mengigau atau bahkan menjerit di tengah malam. Bila boleh diungkapkan dalam bahasa ekstrim hal tersebut merupakan upaya balas dendam anak akibat harapannya tidak terpenuhi.
"Saat seorang anak menginginkan sesuatu, misalnya ingin memiliki balon yang sedang dipegang temannya sebenarnya bukan balonnya yang diincar. Tapi lebih pada keinginan untuk bisa juga sama seperti temannya," jelasnya.
Dea menambahkan, pada situasi ini biasanya anak akan berfikir kenapa anak lain bisa memegang balon tersebut sementara dia tidak. Dan bila keinginannya tersebut tidak terpenuhi, anak bisa merekamnya dalam memori yang bisa menekan ke alam bawah sadar anak. Yang terjadi akhirnya anak akan membawa keinginan tersebut dalam tidur. (ndy)

Tanamkan Pikiran Positif Menjelang Tidur

UNTUK menghilangkan kebiasaan anak mengigau atau menjerit di tengah malam dibutuhkan peran yang besar dari orangtua. Sebab, meski kondisi tersebut bisa berkurang secara perlahan seiring perkembangan emosi dan kognisi anak, tapi anak harus tetap diarahkan.
"Agar anak tidak mengigau saat harapannya tidak terkabul, orangtua harus segera melakukan komunikasi dengan anak. Misalnya memberikan penjelasan kenapa permintaan anak tidak bisa dipenuhi atau harus ditunda," ungkap Bibiana Dyah Sucahyani.
Jika anak sudah mendapatkan penjelasan yang bisa dia terima, kekecewaan tersebut tidak akan mengendap dalam memori atau bahkan masuk ke alam bawah sadar. Sebab, secara psikologi anak sudah merasa iklas meskipun harapannya tidak terkabul.
Pemberian penjelasan serta pemahaman tersebut sebaiknya dilakukan sebelum anak tidur. Sebab, penanaman pikiran positif menjelang tidur atau biasa disebut hypnotheraphy diyakini mampu mengubah berbagai hal menjadi lebih positif.
Berbekal pikiran-pikiran positif yang tertanam dalam memorinya, anak akan mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Itu karena, anak tidak akan terganggu mimpi buruk saat mulai tidur. Sebab, ketika anak tidur mimpi yang dialaminya banyak dipenuhi apa yang terjadi sebelumnya. Sehingga, bila pikiran positif sudah tertanam dalam memori, kemungkinan anak mengalami mimpi buruk bisa diminimalkan.
"Penanaman pikiran positif melalui hynotheraphy bisa dilakukan sejak dini atau sejak anak masih kecil. Termasuk pada anak-anak yang belum bisa berbicara sekalipun. Jika hal tersebut dilakukan secara rutin, anak akan terbiasa untuk berpikir positif," terang Dea.
Selain penanaman pikiran positif, orangtua juga harus melatih anak untuk belajar menunda keinginan. Latihan ini bertujuan agar anak mampu memanajemen emosi atau menahan emosi saat harapannya tidak terkabul.
"Latihan manajemen emosi bisa dilakukan melalui penerangan verbal atau menjelaskan alasan kenapa keinginannya harus ditunda. Anak sebaiknya juga dilatih untuk mengungkapkan pendapatnya. Dengan begitu, akan terjalin sebuah komunikasi antara orangtua dan anak," jelasnya. (ndy)

Sadarkan Anak dengan Kelembutan

MENGHADAPI anak yang kerap mengigau di tengah malam membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tersendiri. Apalagi tidak jarang ada anak yang tiba-tiba menjerit histeris di tengah kesunyian yang terkadang mengagetkan orang di sekelilingnya.
"Ketika mendapati anak sedang mengigau hingga menjerit histeris orangtua harus segera menyadarkannya dengan penuh kelembutan. Misalnya dengan memeluk anak, membelai, atau mencium anak agar tenang. Jangan sampai orangtua justru memarahi anak dengan dalih berisik," kata Bibiana Dyah Sucahyani.
Sambil memeluk atau mencium, orangtua bisa mengajak anak untuk berkomunikasi seperti menanyakan apa yang terjadi, anak mimpi apa, kenapa kok menjerit-jerit. Dengan komunikasi tersebut diharapkan anak akan merasa diperhatikan. Bila perlu orangtua juga bisa memberikan segelas air putih agar anak lebih tenang.
Setelah anak tenang dan tidur kembali, orangtua bisa kembali membangun komunikasi dengan anak keesokan harinya. Saat anak sudah berada dalam kondisi bugar orangtua akan lebih mudah menggali informasi dari anak. (ndy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda