06 September 2007

Selingkuh Harta Dalam Rumah Tangga

SELINGKUH merupakan salah satu faktor yang bisa menghancurkan mahligai rumah tangga.

Bukan saja selingkuh cinta yang ditandai dengan hadirnya orang ketiga, keempat, atau kelima, selingkuh harta juga bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga.

Selingkuh harta yang dimaksud adalah pengeluaran yang dilakukan secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan pasangan.

Baik itu untuk kesenangan pribadi seperti belanja berlebihan, entertaint klien atau teman menggunakan anggaran rumah tangga atau untuk kepentingan lainnya.

Mengirimkan "ransum" bagi keluarga tanpa sepengetahuan pasangan juga bisa masuk kategori selingkuh harta. Walau sebenarnya tindakan ini bukan sesuatu yang buruk, tapi bila dilakukan secara diam-diam bisa dikategorikan sebagai sebuah perselingkuhan.

Kondisi ini biasa terjadi pada orang yang merasa tidak enak hati pada pasangannya lantaran masih harus memenuhi kebutuhan keluarganya. Misalnya karena orang bersangkutan masih berperan sebagai tulang punggung keluarganya meski sudah menikah. Sebut saja karena harus membiayai kebutuhan hidup orangtua, membiayai sekolah adik-adiknya, dan sebagainya.

Pengiriman uang secara diam-diam bisa juga karena pasangan kurang setuju bila anggaran keluarga yang ada harus dikurangi untuk "oranglain". Yang terjadi akhirnya, pasangan lebih suka mengirimkan uang kepada keluarganya tanpa sepengetahuan pasangan.

"Sebetulnya masalah kirim-mengirim "ransum" tersebut bisa didiskusikan bersama, agar tidak sampai terjadi perselingkuhan. Kuncinya adalah keterbukaan dan saling percaya. Tentu saja saling percaya itu tidak terjadi begitu saja tapi harus dibuktikan," terang Lusiana, Pengamat Keuangan Keluarga Kota Batam.

Misalnya menggunakan kartu kredit secara bertanggung jawab, tidak 'selingkuh' keuangan, dan sebagainya. Meski kesannya sepele, tapi bila dibiarkan berlanjut, ketidakterbukaan dalam pengeloaan uang ini bisa memicu perceraian antara suami istri.

Perbedaan latar belakang maupun pola pikir pada pasangan tentunya membuka peluang terjadinya konflik dalam rumah tangga. Apalagi, pasangan yang sama-sama bekerja umumnya telah memiliki pola pengeluaran yang sudah menjadi gaya hidup sewaktu belum menikah. Pola keuangan yang sudah menetap ini memang agak sulit diubah. Sehingga mau tak mau harus dilakukan penyesuaian sehubungan dengan pola keuangan keluarga yang baru.

"Disinilah dibutuhkan keterbukaan. Rumah tangga modern tak sekadar urusan ranjang dan dapur. Mengelola keuangan rumah tangga, mengelola investasi dari penghasilan pasangan suami-istri, membutuhkan perencanaan keuangan. Kunci keberhasilannya terletak pada komitmen, tanggung jawab dan kejujuran," terangnya. (ndy)


Bentuk Pos Anggaran Sendiri


DALAM proses perencanaan keuangan keluarga, asas keadilan tetap harus menjadi perhatian agar keharmonisan rumah tangga tetap terjalin. Adil dalam artian sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga, pembuatan anggaran kebutuhan rumah tangga secara adil melalui pos-pos pengeluaran sesuai kebutuhannya penting dilakukan.

Pengeluaran untuk orangtua atau keluarga Anda masing-masing misalnya. Pengeluaran ini bisa dibicarakan untuk dibentuk dalam satu pos tersendiri. Sehingga, anggaran yang akan dikeluarkan memang benar-benar jelas jumlah dan arahnya.

"Yang patut diingat jika pasangan Anda bersedia membantu kebutuhan keluarga Anda, jangan terlalu membebani pasangan dengan hutang atau kewajiban membiayai kebutuhan keluarga Anda secara berlebihan," jelas Lusiana, Pengamat Keuangan Keluarga Kota Batam.

Sebab, bagaimanapun juga kita tetap harus menjaga kemampuan dan perasaan pasangan. Bersikaplah "adil" dengan pihak keluarga pasangan Anda juga. Jangan bersikap terlalu terbuka dan pemurah kepada keluarga sendiri secara berlebihan. Apalagi bila akhirnya berpotensi menjadi pencetus konflik suami-istri bahkan merebak menjadi konflik keluarga.

Hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan dalam pengaturan pos anggaran keluarga adalah tetap menghargai kebutuhan pasangan akan privacy-nya. Misalnya hargailah keinginan pasangan untuk tetap menyimpan sejumlah uang untuk kebutuhan pribadinya maupun hobinya. Begitu pula sebaliknya, jangan ragu mengutarakan keinginan Anda kepada pasangan Anda. (ndy)

Sesekali Boleh Bertukar Peran

MEMBUAT perencanaan keuangan keluarga bukan sesuatu yang mudah. Tapi bukan sesuatu yang sulit juga. Sebab, bila pasangan saling terbuka dan mengungkapkan apa yang menjadi kecemasan dan masalah yang mengganggu pikiran masing-masing, terjadinya selingkuh harta bisa dihindari.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mencoba memberi dan membuat penilaian menurut versi Anda. Selanjutnya beri kesempatan bagi pasangan Anda untuk mengutarakan apa yang diinginkan menurut versinya.

Disinilah kedua pasangan dapat menyusun bersama anggaran rumah tangga secara transparan bernegosiasi dan berkomitmen untuk melaksanakan segala rencara yang ada hubungannya dengan uang.

"Jika dalam rumah tangga hanya suami atau istri saja yang bekerja, maka dibutuhkan kebijaksanaan yang ekstra untuk meyakinkan dan menjelaskan pada pasangan mengenai pos pengeluaran keluarga," terang Lusiana, pengamat keuangan keluarga Kota Batam.

Bila salah satu pasangan terlalu cerewet, mengatur atau dominan atas pasangannya, tak hanya akan muncul selingkuh cinta, tapi selingkuh harta pun bisa terjadi. Misalnya suami atau istri menyembunyikan pendapatan, atau bisa juga diam-diam mengeluarkan dan mengumpulkan uang tanpa setahu pasangannya. Dan kondisi ini bisa saja berujung pada perceraian.

Sebagai langkah memperkuat rasa percaya dan keterbukaan antar pasangan, sesekali boleh dilakukan pertukaran peran dalam hal pengaturan keuangan keluarga. Misalnya jika biasanya istri yang berperan mengatur keuangan keluarga harian, sesekali boleh dialihkan untuk dikelola suami. Begitu pula sebaliknya.

"Melalui pertukaran peran ini, pasangan akan mengetahui dan memahami kenaikan harga barang kebutuhan yang semakin tinggi. Pasangan juga akan bisa memahami kesulitan mengatur anggaran terbatas untuk kebutuhan yang sangat besar. Dengan cara ini diharapkan pasangan akan dapat saling memahami, menghargai dan men-support pasangannya masing-masing dalam pengaturan keuangan rumah tangga," ungkapnya.

Hal penting lain yang bisa dilakukan agar terhindar dari selingkuh harta adalah saling memahami arti uang bagi pasangannya masing-masing. Misalnya dengan mempelajari latar belakang kehidupannya semasa single atau latar belakang kehidupan keluarganya. (ndy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda