21 Oktober 2014

Cara Mudah Cegah Keracunan Makanan


Kulit semangka bisa jadi sarang salmonella. FOTO: Wikimedia.org
HARI ini, saya membaca berita di Kompas.com ada berita seorang siswa kelas IV sekolah dasar, warga Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Muhammad Rehan Saputra (10) yang meninggal dunia karena keracunan makanan ringan berupa mi lidi. 

Rere, panggilan akrab Rehan awalnya mengeluh pusing dan mengeluarkan keringat dingin. Lama-kelamaan, dia muntah dan langsung dibawa ke dokter oleh orangtuanya. Saat diperiksa dokter itulah terungkap jika Rehan mengalami keracunan makanan. 

Peristiwa keracunan juga pernah dialami saudara saya, beberapa bulan lalu. Keracunan itu bermula saat dia membeli kerupuk pakai mie yang disiram kuah sate. Beruntung, tak ada masalah serius dengan kesehatan saudara saya.

Mengonsumsi makanan yang dibeli di luar memang cukup riskan menyebabkan gangguan kesehatan, seperti keracunan. Karena, tak jarang ada penjual yang kurang peduli dengan kelayakan bahan yang akan diolah dan dijual. Bagi para pedagang nakal, yang terpikir hanyalah bagaimana agar dagangan laris dan memberikan banyak untung.


Tak hanya soal kelayakan, masalah kebersihan dalam pengolahan maupun penyajian makanan juga harus jadi perhatian. Apalagi, bagi anak-anak yang kadang tak terlalu menyadari jika banyak jajanan yang sebenarnya tidak layak konsumsi. Peristiwa yang menimpa Rehan dan saudara saya tersebut tentu saja bisa menjadi catatan penting bagi kita para orangtua.

Kepada anak-anak, penting untuk ditanamkan bagaimana melindungi diri dari makanan yang tidak layak makan. Misalnya, menghindari makanan yang warnanya mencolok, menggunakan pemanis buatan, atau bahkan menyadari apakah makanan yang dikonsumsi tersebut mengalami perubahan bau atau rasa.


Sebenarnya, tak hanya harus berhati-hati saat membeli makanan di luar, kepedulian terhadap bahaya keracunan harus mulai dari rumah. Nah, kira-kira apa saja yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya keracunan di rumah, terutama bagi balita? Berikut beberapa tips yang dikutip dari buku Anak di Bawah Tiga Tahun. Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan, tulisan Arlene Eisenberg, Heidi E Murkoff dan Sandee E Hathaways, BSNA
  1. Cuci tangan pakai sabun dan air hangat sebelum memegang makanan.
  2. Cek tanggal kadaluwarsa makanan saat sedang berbelanja. Pastikan makanan yang akan dipilih masih belum kadaluwarsa. Jangan menggunakan makanan jika memang sudah masuk waktu kadaluwarsa.
  3. Cuci buah dan sayur dengan bersih. Cuci kulit semangka dengan deterjen pencuci piring, air panas dan sikat. Sebab, kulit semangka bisa menjadi sarang bakteri salmonela yang berbahaya untuk kesehatan. Salmonella adalah penyebab utama penyakit yang disebarkan melalui mmakanan dan bisa menyebabkan penyakit organ pencernaan, seperti diare dan kram perut. Bakteri ini bisa sangat berbahaya  bagi balita dan ibu hamil. Cuci melon sebelum sebelum diiris pastikan pisau dan sikat dicuci sebelum dipakai. Simpan melon di kulkas. Untuk suhu ruang, melon hanya boleh disimpan selama empat jam.
  4.  Bagi anak-anak dan ibu hamil, sebaiknya hindari konsumsi keju lunak seperti feta, brie, cmember atau keju biru. Sebagai gantinya pilih keju keras seperti keju swiss, cheddar atau yoghurt.
  5. Waspadai makanan yang berjamur. Jangan memasak makanan yang berjamur, berubah warna, rasa, atau bau. Terutama kacang dan selai kacang yang tengik bisa saja mengandung alfatoksin yakni racun yang berbahaya.
  6. Jangan mengolah makanan kaleng yang belum terbuka tapi kondisinya penyok, bengkak atau bocor atau segel lepas sebelum dibuka.
  7.  Makanan yang dipanaskan kembali (minimal 75 derajat) memang aman dikonsumsi untuk orang dewasa. Namun, sebisa mungkin hindari memberikan makanan yang telah dihangatkan pada anak-anak. Sebab, dikhawatirkan tercemar mikroorganisme yang tidak bisa dilawan daya tahan tubuh anak.
  8. Untuk menghindari kerusakan makanan yang disimpan di dalam lemari pendingin, pertahankan suhunya minimal 4 derajat celcius dan freezer di bawah nol derajat.
  9. Setelah bersentuhan dengan daging mentah baik daging ayam, sapi maupun ikan, jangan lupa untuk segera mencuci tangan pakai air dan sabun. Cuci juga peralatan masak yang kontak dengan daging hingga bersih. Setelah itu lap dengan tisu dapur. Hal ini untuk menghindari kontaminasi bakteri pada busa cuci piring atau lap piring.
  10. Masak daging, ikan dan ayam hingga matang sempurna. Daging unggas tak boleh terlihat mentah, tak boleh ada bagian yang berwarna merah muda di dekat tulang ayam atau unggas lain. Waktu direbus, air daging harus bening tidak merah muda atau merah.
  11. Hindari masak dengan sistem slow cooker untuk makanan beku. Dan jika ingin memasak makanan dengan oven, pastikan panas oven minimal 163 derajat celcius.
  12. Jangan pakai piring bekas daging mentah untuk meletakkan daging matang. Jangan pakai bumbu perendam daging mentah untuk mengoles daging yang sudah hampir masak atau sudah masak karena bisa membuat makanan terkontaminasi bakteri.
  13. Hindari memberikan balita daging ayam seafood mentah, produk yang belum dipasteurisasi dan telur mentah atau setengah matang.
  14. Jika terpaksa harus makan di luar, pastikan rumah makan atau restoran bersih, jendela tak berdebu dan tak banyak lalat.
Mudah-mudahan referensi di atas bisa membantu mengingatkan kita pentingnya mewaspadai bahaya keracunan terutama bagi balita. (*)

Referensi:
*Buku Anak di Bawah Tiga Tahun. Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan, tulisan Arlene Eisenberg, Heidi E Murkoff dan Sandee E Hathaways, BSNA
*http://id.wikipedia.org/wiki/Salmonella

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda