03 Mei 2008

OSAS Bisa Ganggu Perkembangan Anak

MENDENGKUR tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa saja. Sebab, anak-anak juga bisa mengalami kondisi tersebut. Dan bagi orangtua yang mendapati anaknya mendengkur saat tidur, sebaiknya lebih waspada. Sebab, bisa jadi dengkuran anak tersebut merupakan satu pertanda adanya OSAS.

OSAS atau obstructive sleep apneu syndrom merupakan kumpulan gejala berupa apneu (tidak bernapas) atau hipopnea (kurang bernapas) pada saat tidur. OSAS lebih sering terjadi pada orang dewasa dibanding anak-anak.

Kebiasaan mendengkur dapat terjadi pada sekitar tujuh hingga sembilan persen anak pra sekolah dan usia sekolah. Kejadian tersering pada usia tiga hingga enam tahun. Sebab, usia ini sering terjadi pembesaran amandel.

Dilihat dari bahayanya, OSAS bisa mengakibatkan berkurangnya oksigen ke otak secara kronis, tidur tidak nyenyak, dan darah yang menjadi asam akibat OSAS menimbulkan efek buruk pada tubuh.


Selain itu, derita ini juga akan menimbulkan rasa kantuk yang berlebihan. Jika sudah begitu, perkembangan anak akan menjadi terlambat, penampilan di sekolah kurang baik. Anak menjadi hiperaktif dan agresif, serta menarik diri dari lingkungan sosial.

"Mengingat OSAS berdampak pada munculnya gangguan tidur pada anak, biasanya kondisi ini bisa menurunkan prestasi anak di sekolah. Itu karena anak yang seharusnya tidur nyenyak harus selalu terbangun. Bahkan, tidak jarang anak terkejut saat bangun," ungkap dr Retno M Laila SpA, dokter spesialis anak Klinik Griya Medika Batam.

Kondisi ini bisa diperparah bila anak tidur terpisah dari kedua orangtuanya atau tanpa pengawasan orang dewasa. Sebab, orangtua akan cenderung kurang menyadari bahwa penurunan prestasi maupun terhambatnya perkembangan anak yang terjadi selama ini adalah akibat OSAS.

Mendengkur merupakan gejala awal. Bila anak mendengkur, dengkuran tersebut dapat terjadi secara terus menerus setiap tidur atau hanya pada posisi tertentu saja. Umumnya anak mendengkur tiap tidur dengan dengkuran keras disertai episode apnea yang diakhiri gerakan badan atau terbangun.

"Anak kerap batuk atau tersedak ketika tidur juga bisa menjadi salah satu tanda kemungkinan anak terkena OSAS. Penyebab tersedak itu bisa terjadi akibat keluarnya cairan dari lambung melalui tenggorokan atau bisa juga akibat laring tertutup," jelasnya.

Apalagi, bila anak dalam kondisi tidur yang terlalu nyenyak tanpa disadari lidah bisa menutupi laring yang akhirnya membuat anak tersedak atau batuk.

Meski kebanyakan tanda awalnya bisa dilihat dari dengkuran, tapi ada juga yang tidak mendengkur, tapi memperlihatkan dengusan atau hembusan bunyi dan noisy breathing (napas berbunyi).

Anak berusaha bernapas, terlihat dari gerakan dinding dada. Posisi tidur anak dengan OSAS biasanya tengkurap, setengah duduk, atau kepala didongakkan atau leher ditekuk ke atas untuk mempertahankan terbukanya jalan napas. (*)



Kegemukan bisa Picu OSAS

BILA dilihat dari akibat yang bisa ditimbulkan oleh OSAS, memang cenderung tidak mematikan. Hanya saja bila dibiarkan derita ini bisa menggangu perkembangan anak yang tentunya meresahkan orangtua.

Melihat dari pemicunya, ada beberapa hal yang bisa berperan sebagai penyebab OSAS. Mulai kegemukan, amandel, polip, dan sebagainya. Selain amandel, kegemukan merupakan salah satu penyebab yang kerap memicu terjadinya OSAS.

"Kegemukan kerap menjadi penyebab derita OSAS. Selain itu amandel, polip, maupun tumor juga dapat memicu derita OSAS pada anak-anak. Pada kondisi tertentu, kelainan tulang wajah seperti rahang yang kecil, midface hypoplasia juga dapat menyebabkan saluran napas menyempit dan menimbulkan OSAS," terang dr Retno M Laila SpA.

Meski amandel bisa memicu OSAS tapi pada beberapa kasus amandel dengan ukuran besar bisa jadi memiliki derajat OSAS yang masih ringan. Begitupula sebaliknya. Sebagian besar sembuh bila amandel diangkat, sebagian kecil tidak.

Sementara bila pemicu OSAS adalah kegemukan, penurunan berat badan bisa menjadi solusi untuk memperbaiki gejala. Sayangnya ini sulit dilakukan dan harus bertahap. Sambil menunggu berat badan turun, anak menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure) dengan memberikan udara bertekanan positif lewat masker dan selang saat anak tidur. Hanya saja, tindakan ini dilakukan sementara.(*)



Lakukan Pemeriksaan Polisomnografi

DENGKURAN memang bisa menjadi tanda awal untuk mengantisipasi adanya OSAS pada anak. Hanya saja, baik dengkuran maupun kebiasaan batuk serta tersedak masih belum cukup menjadi referensi untuk memastikan bahwa anak memang terkena OSAS.

"Untuk memastikan apakah anak terkena OSAS atau tidak, memang tak bisa dilakukan hanya dengan melihat apakah anak mendengkur atau tidak. Sebab, perlu dilakukan pemeriksaan secara khusus guna mencari penyebabnya," ungkap dr Retno M Laila SpA.

Salah satu pilihan utama pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah melalui polisomnografi. Dengan alat tersebut bisa diketahui seberapa parah henti nafas (apnea) yang terjadi. Selama proses pemeriksaan dilakukan, penghitungan skor dinilai dari seringnya anak kesulitan bernapas, seringnya episode tidak bernapas, dan seringnya mendengkur. Makin tinggi skornya, makin besar kemungkinan OSAS.

Perlu juga dilakukan observasi melalui video atau penilaian kadar oksigen darah saat anak tidur. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menilai adanya kekurangan oksigen kronis dan memeriksa beberapa jenis zat radang yang berhubungan dengan proses tidur.

Selain itu, banyak ahli berpendapat bahwa operasi amandel dapat menyembuhkan OSAS sekitar 75 hingga100 persen. Tetapi keberhasilan berkurang pada OSAS yang disertai kelainan tulang wajah dan kegemukan. Namun, tindakan operasi amandel penting pada kondisi di atas. Setelah operasi, gejala bisa tetap timbul dan akan menghilang beberapa minggu kemudian. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika Tulisan Ini Bermanfaat Silakan Tinggalkan Komentar Anda